Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Kamis, 21 Desember 2017
Anak Jalanan juga Mau Sekolah!
Memperingati Hari Pendidikan 2 Mei 2011, hari ini.
Seorang bocah berjalan dengan langkah gontai di lampu merah Simpang Siur, Kuta. Tiap kendaraan beroda empat yang datang dari arah Sanur ini ia dekati. Tangannya menengadah minta belas kasihan. Ada yang menawarkan uang, ada yang tidak. Raut wajah bocah itu datar. Tak ada kesan sumringah ketika diberikan atau mesem bila tak diberikan.
“Kamu tidak sekolah?” tanya seorang pengemudi ketika si bocah itu mendekati mobilnya. Jika diadaptasi dengan waktu, seharusnya bocah yang usianya sekitar 12 tahun ini bersekolah di SD. Si bocah menggelengkan kepala. Tak ada kata-kata yang dikeluarkan. Ia hanya mengandalkan gelengan kepala untuk menegaskan dirinya memang tak bersekolah.
Ketika ditanya dimana orangtuanya, ia juga menggeleng. Seolah tahu akan ditanya-tanya lagi, ia memilih meninggalkan kendaraan beroda empat dan mencari kendaraan beroda empat lain yang bersedia menawarkan sedekah. Itu hanya potret kecil, ternyata di Bali ada anak jalanan yang tak bersekolah.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali A.A. Anom Wartawan mengatakan, jumlah anak jalanan riil yang tercatat 44 orang. “Tetapi, mereka ini mobilitasnya tinggi. Kadang di lokasi A, besoknya di lokasi B. Makara ada kemungkinan jumlahnya lebih dari itu,” tandasnya.
Anak-anak jalanan ini memang perlu mendapat perhatian. Apalagi bila usia mereka usia sekolah. Kalau ini dibiarkan, mereka tidak akan pernah mengenyam dunia pendidikan. “Kami akui ketika ini belum punya aktivitas untuk menawarkan pendidikan kepada anak jalanan ini,” kata mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja Bali ini.
Walaupun belum ada aktivitas dari pemerintah, ternyata ada lembaga sosial di Bali yang peduli dengan pendidikan belum dewasa jalanan. Lembaga berjulukan Yayasan Peduli Kasih Anak (YKPA).
“Kami ingin memberi kontribusi positif dalam mengatasi masalah-masalah sosial dengan mendirikan yayasan ini. Kami ingin anak jalanan juga mendapat pendidikan. Ternyata, memang mereka mau sekolah. Selama ini kendalanya, mereka disuruh berkeliaran atau menjadi pengemis untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah. Ada juga yang dipaksa orangtuanya untuk mengemis. Ketika disekolahkan mereka malah senang.” ungkap Putu Etiartini, ketua YKPA.
Perempuan asal Tabanan ini mengatakan pihaknya menampung 21 anak jalanan. Mereka disekolahkan, diberikan keterampilan biar punya modal untuk mengarungi kehidupan dan mampu hidup layak. “Dulu kami pernah buat sekolah pantai. Kami lakukan di kawasan Legian. Anak-anak jalanan yang ada di Kuta dan Legian kami kumpulkan lalu mereka kita ajak berguru bersama di pantai. Belajar membaca, menulis, dan berhitung. Tetapi, sekarang sudah tidak jalan lagi. Kami kesulitan mencari lokasi,” tandasnya.
Dua anak jalanan yang ditampung di YKPA yakni Jeklin (8) dan Pika (12). Jeklin berasal dari Pedahan, Karangasem. Dulu ia menggelandang di pantai Kuta sembari menjual gelang. “Saya cuma ikut-ikutan saja, diajak teman-teman. Orangtua juga jualan. Lalu bertemu dengan pengurus YKPA. Saya diajak ke yayasan, dikasi makan bahkan disekolahkan di SD 3 Padangsambian,” ujar siswi kelas 1 yang punya prestasi sebagai juara 2 di kelasnya. Di yayasan, Jeklin juga mendapat keterampilan membuat kartu nama dan boneka.
Pengalaman Pika lain lagi. Sedari kecil ia mengalami cacat di kaki kanannya hingga membuatnya sulit berjalan. Ia kerap digendong ayahnya untuk berkeliling mencari nafkah. Dalam satu hari, mereka mampu mengumpulkan uang Rp 40 ribu. “Paling apes kalau ditangkap hansip. Tetapi, kami tidak kapok, Setelah dilepaskan, kami mengemis lagi. Pernah hingga pukul 04.00 kami keliling,” ujarnya mengenang masa lalunya.
Nasib Pika beruntung. Ia bertemu YKPA dan diajak tinggal di rumah singgah milik yayasan. Bahkan Pika diajak berobat untuk mengobati kakinya. Tercatat empat kali ia menjalani operasi biar kondisinya membaik.
“Saya bersyukur mampu menerima tempat yang layak dan memiliki banyak teman. Saya tidak mau mengemis lagi. Saya ingin berguru biar menjadi orang sukses,” kata Pika yang memilih ikut aktivitas Kejar Paket dan sedang berguru bermain violin. –wah.
---------------------------------------
sumber: http://pelangitujuh.wordpress.com/2010/12/11/anak-jalanan-juga-mau-sekolah/
Selasa, 28 November 2017
Mereka Mencontoh Kita

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Suatu ketika, ada seorang kakek tinggal dengan anaknya. Selain itu,tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun.Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu.Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orang renta yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu,” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak renta ini.”
Lalu, kedua suami-istri ini pun berbagi sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, ketika semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memperlihatkan mangkuk kayu untuk si kakek. Sering ketika keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak duka dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang beliau suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan biar ia tak menjatuhkan makanan lagi.Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.
Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, akrab kawasan kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orang tuanya begitu duka dan terpukul. Mereka tak bisa berkata-kata lagi. Lalu, air mata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orang renta ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar ketika ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.
Sahabat, belum dewasa yaitu persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, indera pendengaran mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka yaitu peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka ketika remaja kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, yaitu pondasi yang infinit buat masa depan anak-anak.
Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk belum dewasa kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, yaitu sama halnya dengan tabungan masa depan.
Wassalam.
Sumber:http://ekojuli.wordpress.com/2011/02/09/parenting-mereka-mencontoh-kita/
Kamis, 09 November 2017
Belajar Cinta Dengan Ikhlas Dari Bu Yan (Siti Fauzanah)
Assalamualikum wr wb, salam cerdas kreatif.Sejak ditayangkan dalam salah satu jadwal Metro TV yaitu Kick Andy Hope, kita menjadi lebih mengenal Siti Fauzanah, sosok yang selalu membuat kagum anak didiknya dan semua orang. Beliau di usia senjanya dan dengan kesederhanaan hidup, tetap mendedikasikan dirinya untuk membantu sesama.
Pengabdiam penuh kecintaan dan keikhlasan dia dalam menularkan ilmu telah membuahkan hasil. Ini dibuktikan beberapa anak didiknya ada yang menjadi juara olimpiade matematika baik tingkat kabupaten maupun dunia.
Ibu Siti Fauzanah yakni sosok guru yang penuh cinta dan nrimo mengabdi untuk mengajarkan mata pelajaran yang sangat digemarinya, matematika. Pengabdian penuh cinta dan ihlas ini dibuktikan dengan menjadi guru honorer di almamater yang pernah di asuhnya selama bertahun tahun, SMP Negeri 1 Parakan Temanggung setelah pensiun dari guru selama bertahun tahun di SMP tersebut.
Sampai ketika inipun, Bu Yan (panggilan dekat anak didiknya) juga mendapatkan les di rumah kontrakan dia di dusun Ngempon Lor, Parakan - Temanggung. Di rumah kontrakan sederhana yang dia sebut sebagai Puskesmas Matematika, Bu Yan mendapatkan banyak siswa untuk, mendapatkan pelajaran tambahan. Bagi Bu Yan siswa yang kurang memahami dalam bidang study matematika disebutnya sakit, jadi perlu dibawa ke puskesmas. Kadang dalam mendapatkan “pasien” Bu Yan tidak meminta imbalan buat pasien yang kurang mampu. Bagi yang bisa dia hanya mematok 50 ribu rupiah perbulan untuk 8 kali pertemuan.
Jiwa sosial Bu Yan ini memang sangat tinggi dan sepatutnyalah negeri ini berbangga ada seorang ibu guru dengan gaji yang tidak seberapa bisa membiayai beberapa murid kurang bisa supaya mereka tetap bersekolah. Salah satu dari mereka yakni seorang dosen lulusan S-2 UGM , Nanang Susyanto.
” Andai aku tak bertemu Bu Yan, mungkin aku sekarang jadi kuli watu di kampung ” begitu kata Nanang Susyanto, yang kini menjadi dosen di almamaternya.
Di usia senjanya kini tak pernah tampak raut kelelahan pada wajah beliau. Setiap bertemu masih ada senyum sumringah dia yang menyampaikan ketulusannya menjalani hidup. Dan dari Bu Yan, aku bisa banyak berguru bahwa membantu itu tak harus kaya, dengan kesederhanaan dan keterbatasan, dia tetap membantu sesama.
Sungguh luar biasa! Ya, bu Yan yakni sosok pejuang, guru sejati dan juga manusia yang berbudi luhur. Semoga pengabdian dan dedikasi yang penuh cinta dan nrimo dari bu Yan dapat menginspirasi kita semua, amin.
Wassalam,
Rabu, 25 Oktober 2017
Belajar Mengasihi Dari Malaikat Kecil

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Belajar memang tidak pandang usia, berguru juga mampu di mana saja dan kapan saja. Salah satunya dari dongeng berikut ini:
Istriku berkata kepada saya yang sedang baca koran, “Berapa lama lagi kau baca koran itu? Tolong kau ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”
Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu tampak ketakutan, air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India/curd rice).
Sindu anak yang manis dan termasuk berilmu dalam usianya yang gres 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali bila makan curd rice ada “cooling effect”.
Aku mengambil mangkok dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kau makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah.”
Aku mampu mencicipi istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya, dan berkata, “Boleh ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta.”
Agak ragu sejenak “akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi usul saya?” Aku menjawab, “Oh…pasti, sayang.”
Sindu tanya sekali lagi, “Betul nih ayah?”
“Ya pasti!” sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk kesepakatan hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, kesepakatan kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata, “Sindu jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, sebab ayah ketika ini tidak punya uang.”
Sindu menjawab, “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang mahal kok.” Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, beliau bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hati saya marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.
Setelah Sindu melewati penderitaannya, beliau mendekatiku dengan mata penuh harap, dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu.
Istriku spontan berkata, “Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin.” Juga ibuku menggerutu jangan-jangan terjadi dalam keluarga kita, beliau terlalu banyak nonton TV dan kegiatan TV itu sudah merusak kebudayaan kita.
Aku coba membujuk, “Sindu kenapa kau tidak minta hal yang lain kami semua akan duka melihatmu botak.” Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, “Tidak ada yah, tak ada cita-cita lain,” kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu, “Tolonglah…kenapa kau tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.”
Sindu dengan menangis berkata, “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi usul saya. Kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi kesepakatan kita terhadap seseorang apa pun yang terjadi menyerupai Raja Harishchandra (raja India zaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela menunjukkan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”
Sekarang saya memutuskan untuk memenuhi usul anakku, “Janji kita harus ditepati.” Secara serentak istri dan ibuku berkata, “Apakah kau sudah gila?” “Tidak,” jawabku, “Kalau kita menjilat ludah sendiri, beliau tidak akan pernah berguru bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi.”
Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak lingkaran dan matanya besar dan bagus.
Hari Senin, saya mengantarnya ke sekolah, sekilas saya melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum saya membalas lambaian tangannya.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari kendaraan beroda empat sambil berteriak, “Sindu tolong tunggu saya.” Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki-laki itu botak.
Aku berpikir mungkin”botak” model zaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari kendaraan beroda empat dan berkata, “Anak anda, Sindu benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bahu-membahu beliau sekarang, Harish yakni anak saya. Dia menderita kanker leukemia.” Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu.
“Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, sebab pengobatan chemotherapy kepalanya menjadi botak jadi beliau tidak mau pergi ke sekolah takut diejek/dihina oleh teman-teman sekelasnya. Nah Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi usikan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul-betul tidak menyangka bila Sindu mau mengorbankan rambutnya yang rupawan untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Yang Mahakuasa mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”
Aku bangun terpaku dan saya menangis, “Malaikat kecilku, tolong ajarkanku perihal kasih.”
Semoga dongeng ini menginspirasi kita semua, wassalam
Sumber: kaskus.us
Kamis, 19 Oktober 2017
Kisah Anak Yang Sholeh
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Sahabat, ini ada dongeng yang ditulis oleh kak Firmansyah yang isi ceritanya luar biasa. Langsung aja ke ceritanya ya:
Di suatu hari, ada seorang anak yang berjulukan indra ia berusia 8 tahun, Ia seorang anak yatim...ia tinggal bersama ibu nya yg berjulukan rina… kehidupan Ibu tersebut begitu miskin,penghasilan sehari-hari ia dapat dari memulung barang2 bekas…penghasilan dari memulung barang-barang bekas tidak seberapa...paling ia dapat,2 ribu hingga dengan 5 ribu rupiah,paling besar ia mendapat 10 ribu rupiah...jangankan biaya buat menyekolahkan indra,,,untuk biaya kehidupan sehari-hari saja sulit...dia tinggal di rumah yang sudah roboh,yang terbuat dari kayu...pokonya rumah itu tidak layak untuk di pakai tmpat tinggal, sebab tidak ada lg daerah tinggal...mereka terpaksa tinggal di sana.
Pada suatu hari indra bertanya kapada ibunya…
Indra: ”ibu, Yang Mahakuasa itu katanya baik ya bu, katanya Yang Mahakuasa itu maha pengasih dan penyayang ya bu,,?”
Rina:”iya nak,Allah itu baik,maha pengasih dan maha penyayang,knp engkau bertanya menyerupai itu nak?”
Indra:”ia bu,tp indra bingung… !!!”
Rina:”Lho…bingung kenapa nak?...
Indra:”ia bu,katanya Yang Mahakuasa maha pengasih dan penyayang,tp indra selalu berdoa supaya ibu mempunyai rizky banyak,supaya ibu mampu menyekolahkan indra,tp Yang Mahakuasa tidak mengabulkan aja ya bu?..”
Sambil senyum si ibu menjawab pertanyaan dr indra…
Rina:”bukan Yang Mahakuasa tidak mengabulkan nak,tapi belum di kabulkan,tp insya Allah,doa kau disuatu dikala nanti pasti Yang Mahakuasa akan kabulkan nak,tapi tidak sekarang.mungkin Yang Mahakuasa menguji kita dengan cara begini nak,supaya kita selalu bersyukur dan selalu mengingat akan nikmatnya yang telah Yang Mahakuasa berikan nak…!!!
Indra:”owh begitu ya bu?..”
Rina:”ia nak,bersabarlah ya nak?..(Sambil mata berkaca-kaca menahan rasa haru di dalam hati)
Indra:”ia bu,,, !!!. bu perut indra lapar…
Rina:Sebentar nak,ibu cari makanan dulu keluar ya nak,indra tunggu di sini ya,jangan kemana-mana (akhirnya si ibu tidak mampu menahan lagi,dan air mata pun keluar membasahi pipinya).
Indra :ia bu,,,hati-hati ya bu,dan jangan lupa berdoa dulu kepada Allah,insya Yang Mahakuasa pasti Yang Mahakuasa akan menolong ibu.Dan di sini indra pun akan selalu mendoakan ibu,supaya ibu mampu kembali dengan selamat…
Rina:ia,nak..ibu pun pasti akan selalu mendoakan engkau nak (si ibu menangis semakin kuat,dan suasana pun semakin haru)
Dan rina pun pergi keluar rumah untuk mencari makanan untuk indra,dengan perasaan gelisah sebab meninggalkan indra sendirian di rumah,di campur perasaan bingung,,karena ia harus mencari kmana makanan,sedangkan uang sepeser pun ia tidak punya.
Sambil berjalan ia meneteskan air mata,dan ada seorang cowok yang cowok melihat rina berjalan sambil menangis.dan cowok itu pun menghampiri rina dan bertanya.
Pemuda:”kenapa engkau menangis bu?”
Rina :”saya sedang gundah tuan..!!!”
Pemuda:”Lho,,,Bingung knp bu?...”
Rina:”saya bingung,,,anak saya sedang kelaparan,dan saya gundah harus mencari makan kemana?...sedangkan uang sepeser pun aq tidak punya…!!!
Pemuda:”owh,jadi itu masalahnya…? Ya udah ambil saja uang ini,dan belikan makanan untuk anak mu (sambil mengeluarkan uang RP 100.000)
Rina:”tidak tuan,maaf saya tidak mampu terima,saya masih bias cari sendiri kok tuan”.
Pemuda:”ayolah bu,ambil saja ini…demi anak mu..kasiankan anakmu lagi kelaparan…!!!
Dengan berat hati rina mendapatkan pertolongan cowok itu sebab keadaan terdesak..
Rina:”Terimaksih banyak tuan,semoga Yang Mahakuasa membalas kebaikan tuan kepada saya”.
Pemuda:”amin,,,”
Dan balasannya rina pergi ke warung nasi untuk membeli makanan untuk indra..setelah membeli makanan dan rina pun pulang dengan gembiranya,karena rina telah mendapatkan makanan untuk indra.setelah sesampainya di rumah,
Rina: ”Assalamu,alaikum, Indra…alhamdulillah kita mendapatkan makanan
Rina melihat Indra sedang tergeletak di lantai,dengan keadaan pucat,
Rina: ”Astaghfirllah Indra,,km kenapa?...(dengan perasaan panik dan meneteskan air mata”
Indra :”Tidak apa bu, Indra baik-baik saja (dengan nada melemah).alhmdulillah, Yang Mahakuasa doa mengabulkan doa indra bu,ternyata memang benar, Yang Mahakuasa maha pengasih lagi Allha Maha Penyayang, buktinya ibu mampu datang dengan membawa makanan.”
Rina :”ia nak(ibu menangis semakin kencang)"
Indra:”ibu kenapa menangis?.. bu tadi Indra bermimpi bertemu dengan ayah, lalu ayah mengajak indra jalan-jalan di daerah yang indah
Rina:”(Semakin tidak mampu menahan tangis)?”
Indra:”bu jaga diri ibu baik-baik iya ...,Indra mau pergi jalan-jalan dulu sama ayah. Asyhadu allaa illa ha ill Allah. Wa asyhadu anna muhammadarrosulullah…
Dan balasannya Indra pun berpulang menemui sang khalik…dan ibu nya pun menangis dan merelakan kepergian Indra…
Semoga dongeng ini mampu memberi manfaat, amin.
Wassalam.
Sahabat, ini ada dongeng yang ditulis oleh kak Firmansyah yang isi ceritanya luar biasa. Langsung aja ke ceritanya ya:
Di suatu hari, ada seorang anak yang berjulukan indra ia berusia 8 tahun, Ia seorang anak yatim...ia tinggal bersama ibu nya yg berjulukan rina… kehidupan Ibu tersebut begitu miskin,penghasilan sehari-hari ia dapat dari memulung barang2 bekas…penghasilan dari memulung barang-barang bekas tidak seberapa...paling ia dapat,2 ribu hingga dengan 5 ribu rupiah,paling besar ia mendapat 10 ribu rupiah...jangankan biaya buat menyekolahkan indra,,,untuk biaya kehidupan sehari-hari saja sulit...dia tinggal di rumah yang sudah roboh,yang terbuat dari kayu...pokonya rumah itu tidak layak untuk di pakai tmpat tinggal, sebab tidak ada lg daerah tinggal...mereka terpaksa tinggal di sana.
Pada suatu hari indra bertanya kapada ibunya…
Indra: ”ibu, Yang Mahakuasa itu katanya baik ya bu, katanya Yang Mahakuasa itu maha pengasih dan penyayang ya bu,,?”
Rina:”iya nak,Allah itu baik,maha pengasih dan maha penyayang,knp engkau bertanya menyerupai itu nak?”
Indra:”ia bu,tp indra bingung… !!!”
Rina:”Lho…bingung kenapa nak?...
Indra:”ia bu,katanya Yang Mahakuasa maha pengasih dan penyayang,tp indra selalu berdoa supaya ibu mempunyai rizky banyak,supaya ibu mampu menyekolahkan indra,tp Yang Mahakuasa tidak mengabulkan aja ya bu?..”
Sambil senyum si ibu menjawab pertanyaan dr indra…
Rina:”bukan Yang Mahakuasa tidak mengabulkan nak,tapi belum di kabulkan,tp insya Allah,doa kau disuatu dikala nanti pasti Yang Mahakuasa akan kabulkan nak,tapi tidak sekarang.mungkin Yang Mahakuasa menguji kita dengan cara begini nak,supaya kita selalu bersyukur dan selalu mengingat akan nikmatnya yang telah Yang Mahakuasa berikan nak…!!!
Indra:”owh begitu ya bu?..”
Rina:”ia nak,bersabarlah ya nak?..(Sambil mata berkaca-kaca menahan rasa haru di dalam hati)
Indra:”ia bu,,, !!!. bu perut indra lapar…
Rina:Sebentar nak,ibu cari makanan dulu keluar ya nak,indra tunggu di sini ya,jangan kemana-mana (akhirnya si ibu tidak mampu menahan lagi,dan air mata pun keluar membasahi pipinya).
Indra :ia bu,,,hati-hati ya bu,dan jangan lupa berdoa dulu kepada Allah,insya Yang Mahakuasa pasti Yang Mahakuasa akan menolong ibu.Dan di sini indra pun akan selalu mendoakan ibu,supaya ibu mampu kembali dengan selamat…
Rina:ia,nak..ibu pun pasti akan selalu mendoakan engkau nak (si ibu menangis semakin kuat,dan suasana pun semakin haru)
Dan rina pun pergi keluar rumah untuk mencari makanan untuk indra,dengan perasaan gelisah sebab meninggalkan indra sendirian di rumah,di campur perasaan bingung,,karena ia harus mencari kmana makanan,sedangkan uang sepeser pun ia tidak punya.
Sambil berjalan ia meneteskan air mata,dan ada seorang cowok yang cowok melihat rina berjalan sambil menangis.dan cowok itu pun menghampiri rina dan bertanya.
Pemuda:”kenapa engkau menangis bu?”
Rina :”saya sedang gundah tuan..!!!”
Pemuda:”Lho,,,Bingung knp bu?...”
Rina:”saya bingung,,,anak saya sedang kelaparan,dan saya gundah harus mencari makan kemana?...sedangkan uang sepeser pun aq tidak punya…!!!
Pemuda:”owh,jadi itu masalahnya…? Ya udah ambil saja uang ini,dan belikan makanan untuk anak mu (sambil mengeluarkan uang RP 100.000)
Rina:”tidak tuan,maaf saya tidak mampu terima,saya masih bias cari sendiri kok tuan”.
Pemuda:”ayolah bu,ambil saja ini…demi anak mu..kasiankan anakmu lagi kelaparan…!!!
Dengan berat hati rina mendapatkan pertolongan cowok itu sebab keadaan terdesak..
Rina:”Terimaksih banyak tuan,semoga Yang Mahakuasa membalas kebaikan tuan kepada saya”.
Pemuda:”amin,,,”
Dan balasannya rina pergi ke warung nasi untuk membeli makanan untuk indra..setelah membeli makanan dan rina pun pulang dengan gembiranya,karena rina telah mendapatkan makanan untuk indra.setelah sesampainya di rumah,
Rina: ”Assalamu,alaikum, Indra…alhamdulillah kita mendapatkan makanan
Rina melihat Indra sedang tergeletak di lantai,dengan keadaan pucat,
Rina: ”Astaghfirllah Indra,,km kenapa?...(dengan perasaan panik dan meneteskan air mata”
Indra :”Tidak apa bu, Indra baik-baik saja (dengan nada melemah).alhmdulillah, Yang Mahakuasa doa mengabulkan doa indra bu,ternyata memang benar, Yang Mahakuasa maha pengasih lagi Allha Maha Penyayang, buktinya ibu mampu datang dengan membawa makanan.”
Rina :”ia nak(ibu menangis semakin kencang)"
Indra:”ibu kenapa menangis?.. bu tadi Indra bermimpi bertemu dengan ayah, lalu ayah mengajak indra jalan-jalan di daerah yang indah
Rina:”(Semakin tidak mampu menahan tangis)?”
Indra:”bu jaga diri ibu baik-baik iya ...,Indra mau pergi jalan-jalan dulu sama ayah. Asyhadu allaa illa ha ill Allah. Wa asyhadu anna muhammadarrosulullah…
Dan balasannya Indra pun berpulang menemui sang khalik…dan ibu nya pun menangis dan merelakan kepergian Indra…
Semoga dongeng ini mampu memberi manfaat, amin.
Wassalam.
Minggu, 15 Oktober 2017
Setangkai Mawar Merah Untuk Ibu
Seorang perjaka berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil bangun di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu.
Pemuda itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, "Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima
ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu."
Pemuda itu tersenyum dan berkata. "Ayo ikut. saya akan membelikanmu bunga yang kau mau." Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.
Ketika final dan hendak pulang, ia menyampaikan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya,"Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke kawasan ibu saya?"
Kemudian mereka berdua menuju ke kawasan yang ditunjukkan gadis kecil itu, ialah pemakaman umum ... dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.
Melihat hal ini, hati perjaka itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya, la mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.
Pemuda itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, "Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima
ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu."
Pemuda itu tersenyum dan berkata. "Ayo ikut. saya akan membelikanmu bunga yang kau mau." Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.
Ketika final dan hendak pulang, ia menyampaikan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya,"Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke kawasan ibu saya?"
Kemudian mereka berdua menuju ke kawasan yang ditunjukkan gadis kecil itu, ialah pemakaman umum ... dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.
Melihat hal ini, hati perjaka itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya, la mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.
Kamis, 12 Oktober 2017
Sebuah Inspirasi dan Tauladan : Dua Puluh Ribu Rupiah dari Emak Nurdianah
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Sebuah cerita inspiratif dan tauladan serta penuh pesan dan makna yang ditulis oleh Bayu Gawtama, Head of Volunteer Network and Empowerment. (06-10-2009)
Seorang ibu bau tanah berusia diatas 70 tahun berjalan tertatih memasuki Posko Utama ACT di Jl. Adinegoro no. 31, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Minggu 4 Oktober 2009. Tangannya gemetar menggenggam sesuatu, “Ini posko kemanusiaan ya?” bibirnya ikut bergetar. Serempak beberapa relawan mendekatinya, “Benar mak, ada yang mampu kami bantu?” Sebuah pertanyaan standar, karena kami menduga bahwa Ibu bau tanah itu hendak meminta sumbangan untuk korban gempa. Namun ternyata kami salah karena ia datang justru untuk memberi bantuan, “Emak mau kasih bantuan, tolong disampaikan kepada para korban gempa. Melihat kalian yang muda-muda ini bekerja, bekerjsama emak ingin menjadi relawan. Tapi emak sudah tua, emak nggak berpengaruh lagi, sudah nggak berpengaruh lagi,” ujar Emak Nurdianah bersemangat.
Emak Nurdianah mengaku lahir tahun 1938, mendatangi posko ACT menitipkan uang dua puluh ribu rupiah untuk disalurkan kepada para korban gempa. Padahal ia sendiri pun salah satu korban gempa di Kota Padang yang mengguncang tanah Sumatera 30 September 2009 lalu. Lebih dari 600 orang menjadi korban jiwa, belum termasuk lima ratusan lainnya yang belum ditemukan hingga hari ke -6 pasca gempa, mereka tersebar di beberapa titik menyerupai Tandikek dan Sicincin. Sedangkan pengungsi mencapai ratusan ribu, tersebar di seluruh Sumatera Barat.
“Emak terharu melihat kalian, datang dari jauh untuk membantu kawasan emak. Sebagai orang Minang, emak merasa harus pula membantu tanah emak sendiri, emak tidak mau kalah sama kalian. Dulu emak ini pejuang, angkat senjata…. Sekarang emak sudah tidak sanggup bekerja berat. Emak cuma mampu titip ini,” sambil menyerahkan uang digenggamannya kepada Romi, salah seorang relawan.
Ketika Romi hendak berbagi tanda terima, Mak Nur menolak dengan halus, “Tak perlulah catatan macam itu, cukup Tuhan saja yang mencatatnya. Emak hanya minta doakan, tahun ini emak naik haji semoga dilancarkan hingga kembali lagi ke sini ya…” sebuah seruan sederhana yang sudah pasti semua relawan yang ada di Posko dikala itu serempak mendoakan, “semoga dilancarkan mak, insya Tuhan mabrur” Boleh jadi haji Mak Nur sudah diterima Tuhan bahkan sebelum ia bertamu ke rumah Tuhan nanti.
“Sekali lagi terima kasih, kalian belum dewasa muda, jaga kesehatan ya biar lebih lama di tanah kelahiran emak, biar lebih banyak orang yang mampu dibantu…” Emak Nur pun pamit pergi meninggalkan posko sambil memeluk satu persatu relawan yang ada di posko, beberapa relawan perempuan pun tak luput mendapat ciuman hangat kolam seorang ibu yang tengah mengalirkan energi cinta kepada anak-anaknya. Jelas pelukan hangat Mak Nur memberi energi lebih kepada para relawan untuk menjalankan misi kemanusiaan tanpa kenal lelah. Semakin kami sadar bahwa di belakang kami terdapat orang-orang yang terus menopang segala pengorbanan di lokasi bencana.
Dua puluh ribu rupiah yang dititikan Mak Nur rasanya sangat bernilai tinggi bagi kami yang diamanahkan untuk meneruskannya kepada para korban gempa. Sebuah kehormatan bagi segenap relawan ACT yang mendapat amanah bernilai luhur dari seorang Mak Nur. Sungguh, titipan dari sejuta Mak Nur di kepingan bumi pertiwi yang tak dapat kami berjumpa satu persatu merupakan amanah tertinggi yang wajib kami panggul secara terhormat di bahu ini. Terima kasih Mak Nur, dua puluh ribu rupiah milik Mak Nur menambah semangat kami… (Gaw)
Sumber : http://actforhumanity.or.id/
Sebuah cerita inspiratif dan tauladan serta penuh pesan dan makna yang ditulis oleh Bayu Gawtama, Head of Volunteer Network and Empowerment. (06-10-2009)
Seorang ibu bau tanah berusia diatas 70 tahun berjalan tertatih memasuki Posko Utama ACT di Jl. Adinegoro no. 31, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Minggu 4 Oktober 2009. Tangannya gemetar menggenggam sesuatu, “Ini posko kemanusiaan ya?” bibirnya ikut bergetar. Serempak beberapa relawan mendekatinya, “Benar mak, ada yang mampu kami bantu?” Sebuah pertanyaan standar, karena kami menduga bahwa Ibu bau tanah itu hendak meminta sumbangan untuk korban gempa. Namun ternyata kami salah karena ia datang justru untuk memberi bantuan, “Emak mau kasih bantuan, tolong disampaikan kepada para korban gempa. Melihat kalian yang muda-muda ini bekerja, bekerjsama emak ingin menjadi relawan. Tapi emak sudah tua, emak nggak berpengaruh lagi, sudah nggak berpengaruh lagi,” ujar Emak Nurdianah bersemangat.
Emak Nurdianah mengaku lahir tahun 1938, mendatangi posko ACT menitipkan uang dua puluh ribu rupiah untuk disalurkan kepada para korban gempa. Padahal ia sendiri pun salah satu korban gempa di Kota Padang yang mengguncang tanah Sumatera 30 September 2009 lalu. Lebih dari 600 orang menjadi korban jiwa, belum termasuk lima ratusan lainnya yang belum ditemukan hingga hari ke -6 pasca gempa, mereka tersebar di beberapa titik menyerupai Tandikek dan Sicincin. Sedangkan pengungsi mencapai ratusan ribu, tersebar di seluruh Sumatera Barat.
“Emak terharu melihat kalian, datang dari jauh untuk membantu kawasan emak. Sebagai orang Minang, emak merasa harus pula membantu tanah emak sendiri, emak tidak mau kalah sama kalian. Dulu emak ini pejuang, angkat senjata…. Sekarang emak sudah tidak sanggup bekerja berat. Emak cuma mampu titip ini,” sambil menyerahkan uang digenggamannya kepada Romi, salah seorang relawan.
Ketika Romi hendak berbagi tanda terima, Mak Nur menolak dengan halus, “Tak perlulah catatan macam itu, cukup Tuhan saja yang mencatatnya. Emak hanya minta doakan, tahun ini emak naik haji semoga dilancarkan hingga kembali lagi ke sini ya…” sebuah seruan sederhana yang sudah pasti semua relawan yang ada di Posko dikala itu serempak mendoakan, “semoga dilancarkan mak, insya Tuhan mabrur” Boleh jadi haji Mak Nur sudah diterima Tuhan bahkan sebelum ia bertamu ke rumah Tuhan nanti.
“Sekali lagi terima kasih, kalian belum dewasa muda, jaga kesehatan ya biar lebih lama di tanah kelahiran emak, biar lebih banyak orang yang mampu dibantu…” Emak Nur pun pamit pergi meninggalkan posko sambil memeluk satu persatu relawan yang ada di posko, beberapa relawan perempuan pun tak luput mendapat ciuman hangat kolam seorang ibu yang tengah mengalirkan energi cinta kepada anak-anaknya. Jelas pelukan hangat Mak Nur memberi energi lebih kepada para relawan untuk menjalankan misi kemanusiaan tanpa kenal lelah. Semakin kami sadar bahwa di belakang kami terdapat orang-orang yang terus menopang segala pengorbanan di lokasi bencana.
Dua puluh ribu rupiah yang dititikan Mak Nur rasanya sangat bernilai tinggi bagi kami yang diamanahkan untuk meneruskannya kepada para korban gempa. Sebuah kehormatan bagi segenap relawan ACT yang mendapat amanah bernilai luhur dari seorang Mak Nur. Sungguh, titipan dari sejuta Mak Nur di kepingan bumi pertiwi yang tak dapat kami berjumpa satu persatu merupakan amanah tertinggi yang wajib kami panggul secara terhormat di bahu ini. Terima kasih Mak Nur, dua puluh ribu rupiah milik Mak Nur menambah semangat kami… (Gaw)
Sumber : http://actforhumanity.or.id/
Senin, 02 Oktober 2017
Kisah Minggu Ini : Bunga Cantik untuk Ibu
Assalamualaikum wr wb, salam cedas kreatif.
Alkisah, ada seorang Ibu yang tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki ketika sedang berjalan di trotoar. "Oh, maaf," kata sang Ibu.
Jawab si pejalan kaki itu, "Maafkan saya juga. Saya tak memperhatikan Anda." Mereka berdua bersikap sangat sopan. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanannya masing-masing.
Namun ketika tiba di rumah, berlangsung kisah yang berbeda. Betapa berbedanya sang Ibu dalam memperlakukan seorang yang sangat dikasihinya.
Menjelang malam hari, dikala sang Ibu sibuk memasak makan malam, anak perempuan satu-satunya bangun membisu di sampingnya. Ketika berbalik badan, sang Ibu nyaris saja menabrak anaknya. Karena terkejut, sang Ibu menjadi jengkel. "Menyingkir sana. Jangan bangun di situ," kata sang Ibu dengan raut muka yang berkerut. Sang anak pun meninggalkan dapur, dengan hati yang sedikit terluka. Sang Ibu sungguh tak menyadari betapa bernafsu caranya berbicara tadi.
Ketika sang ibu berbaring di daerah tidur, bunyi hatinya berbicara, "Ketika berhadapan dengan seorang yang tak dikenal, kau bersikap sangat santun. Tapi kau malah memperlakukan anak yang kaucintai dengan kasar. Coba kau lihat lantai dapurmu, akan kautemukan serangkai bunga di erat pintu. Itu bunga yang dibawakan anakmu untukmu. Dia memetiknya sendiri bunga yang berwarna-warni cerah itu. Anakmu bangun membisu di dekatmu semoga tidak merusak kejutannya, dan kau tak pernah melihat airmatanya."
Dengan segera sang Ibu menuju dapur dan di lantai masih tergeletak bunga berwarna merah muda, kuning, dan biru. Saat itu, sang Ibu merasa sangat menyesal. Airmatanya mulai mengalir. Lalu diam-diam, ia masuk ke kamar sang anak dan dengan perlahan duduk di tepi daerah tidurnya. "Bangun sebentar, anakku," kata sang Ibu. "Bunga ini kau petik untuk Ibu?"
Sang anak tersenyum meski matanya masih terlihat mengantuk, "Aku menemukannya, di erat pepohonan. Aku petik alasannya yaitu bunganya cantik, sama menyerupai Ibu. Aku tahu Ibu pasti menyukainya, terutama yang biru."
Mendengar tanggapan itu, sang Ibu semakin merasa bersalah, "Anakku, maafkan Ibu alasannya yaitu Ibu sudah bernafsu padamu tadi. Seharusnya saya tak meneriakimu menyerupai itu." Sang anak menjawab, "Oh, Ibu, nggak apa-apa, kok. Aku tetap sayang pada Ibu."
"Ibu juga sayang padamu. Dan saya memang suka bunga-bunga ini, terutama yang biru."
Tanpa kita sadari, dongeng di atas juga sering kita alami sendiri. Betapa kita mampu bersikap sangat sopan dan santun dalam berbicara kepada orang lain, yang gres kita kenal sekalipun, namun semua itu pribadi berubah begitu kita menghadapi anggota keluarga kita, atau kerabat, atau sahabat, atau orang-orang erat kita.
Mari, jadikan kisah ini sebagai "batu pijakan pertama" kita untuk mengubah kebiasaan tidak baik itu, semoga ke depannya kita mampu lebih menjaga sikap dan perkataan kita kepada siapa pun yang kita temui.
Semoga bermanfaat, selamat berlibur :)
Penulis : Tim AndrieWongso
Alkisah, ada seorang Ibu yang tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki ketika sedang berjalan di trotoar. "Oh, maaf," kata sang Ibu.
Jawab si pejalan kaki itu, "Maafkan saya juga. Saya tak memperhatikan Anda." Mereka berdua bersikap sangat sopan. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanannya masing-masing.
Namun ketika tiba di rumah, berlangsung kisah yang berbeda. Betapa berbedanya sang Ibu dalam memperlakukan seorang yang sangat dikasihinya.
Menjelang malam hari, dikala sang Ibu sibuk memasak makan malam, anak perempuan satu-satunya bangun membisu di sampingnya. Ketika berbalik badan, sang Ibu nyaris saja menabrak anaknya. Karena terkejut, sang Ibu menjadi jengkel. "Menyingkir sana. Jangan bangun di situ," kata sang Ibu dengan raut muka yang berkerut. Sang anak pun meninggalkan dapur, dengan hati yang sedikit terluka. Sang Ibu sungguh tak menyadari betapa bernafsu caranya berbicara tadi.
Ketika sang ibu berbaring di daerah tidur, bunyi hatinya berbicara, "Ketika berhadapan dengan seorang yang tak dikenal, kau bersikap sangat santun. Tapi kau malah memperlakukan anak yang kaucintai dengan kasar. Coba kau lihat lantai dapurmu, akan kautemukan serangkai bunga di erat pintu. Itu bunga yang dibawakan anakmu untukmu. Dia memetiknya sendiri bunga yang berwarna-warni cerah itu. Anakmu bangun membisu di dekatmu semoga tidak merusak kejutannya, dan kau tak pernah melihat airmatanya."
Dengan segera sang Ibu menuju dapur dan di lantai masih tergeletak bunga berwarna merah muda, kuning, dan biru. Saat itu, sang Ibu merasa sangat menyesal. Airmatanya mulai mengalir. Lalu diam-diam, ia masuk ke kamar sang anak dan dengan perlahan duduk di tepi daerah tidurnya. "Bangun sebentar, anakku," kata sang Ibu. "Bunga ini kau petik untuk Ibu?"
Sang anak tersenyum meski matanya masih terlihat mengantuk, "Aku menemukannya, di erat pepohonan. Aku petik alasannya yaitu bunganya cantik, sama menyerupai Ibu. Aku tahu Ibu pasti menyukainya, terutama yang biru."
Mendengar tanggapan itu, sang Ibu semakin merasa bersalah, "Anakku, maafkan Ibu alasannya yaitu Ibu sudah bernafsu padamu tadi. Seharusnya saya tak meneriakimu menyerupai itu." Sang anak menjawab, "Oh, Ibu, nggak apa-apa, kok. Aku tetap sayang pada Ibu."
"Ibu juga sayang padamu. Dan saya memang suka bunga-bunga ini, terutama yang biru."
Tanpa kita sadari, dongeng di atas juga sering kita alami sendiri. Betapa kita mampu bersikap sangat sopan dan santun dalam berbicara kepada orang lain, yang gres kita kenal sekalipun, namun semua itu pribadi berubah begitu kita menghadapi anggota keluarga kita, atau kerabat, atau sahabat, atau orang-orang erat kita.
Mari, jadikan kisah ini sebagai "batu pijakan pertama" kita untuk mengubah kebiasaan tidak baik itu, semoga ke depannya kita mampu lebih menjaga sikap dan perkataan kita kepada siapa pun yang kita temui.
Semoga bermanfaat, selamat berlibur :)
Penulis : Tim AndrieWongso
Kamis, 23 Maret 2017
MUKJIZAT NYANYIAN SEORANG KAKAK
Subhannallah .. LUAR BIASA kasih sayangMU, ya Allah.
Kisah aktual ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA. Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya yg pertama yg gres berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan alasannya ialah Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yg masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.
Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan duka berterus terperinci kepada Karen; bersiaplah bila sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.
Karen dan suaminya berusaha mendapatkan keadaan dengan tabah dan hanya mampu pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan program penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael, semenjak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! "Mami,... saya Mau nyanyi buat adik kecil!" Ibunya kurang tanggap. "Mami, ....aku pengen nyanyi!" Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. "Mami, ....aku kepengen nyanyi!"
Ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU ialah kawasan terlarang bagi anak-anak.
Baru ketika impian menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik,setidaknya supaya Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup! Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk! Karen ragu-ragu. Tapi, suster.... suster tak mau tahu; ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap
tajam suster itu, lalu katanya: "Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!" Suster termenung menatap Michael dan berkata, "Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!"
Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya......lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah bunyi nyanyian yang nyaring, ".....You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey...." Ajaib! Si Adik pribadi memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya. "You never know, dear, How much I love you. Please don't take my sunshine away." Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus,.... terus Michael! "Teruskan sayang!" bisik ibunya...."The other night, dear, as I laid sleeping,I dream, I held you in my hands....." dan......Sang adikpun meregang,seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur........ "I'll always love you and make you happy, if you will only stay the same......." Sang adik kelihatan begitu tenang .... sangat tenang.
"Lagi sayang!" bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan.... adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai....... lalu tertidur lelap.
Suster yg tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yg telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang gres saja ia saksikan sendiri.
Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yg menimpa pasien yg satu ini. Mereka hanya mampu menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak mampu mengungkapkan dengan kata-kata.
Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yg menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahipun membutuhkan ekspresi kecil si Michael untuk mengatakan "How much I love you".
Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil ibarat Michael untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA bila IA menghendaki terjadi.
sumber:
http://balita-anda@indoglobal.com/
Kisah aktual ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA. Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya yg pertama yg gres berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan alasannya ialah Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yg masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.
Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan duka berterus terperinci kepada Karen; bersiaplah bila sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.
Karen dan suaminya berusaha mendapatkan keadaan dengan tabah dan hanya mampu pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan program penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael, semenjak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! "Mami,... saya Mau nyanyi buat adik kecil!" Ibunya kurang tanggap. "Mami, ....aku pengen nyanyi!" Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. "Mami, ....aku kepengen nyanyi!"
Ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU ialah kawasan terlarang bagi anak-anak.
Baru ketika impian menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik,setidaknya supaya Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup! Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk! Karen ragu-ragu. Tapi, suster.... suster tak mau tahu; ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap
tajam suster itu, lalu katanya: "Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!" Suster termenung menatap Michael dan berkata, "Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!"
Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya......lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah bunyi nyanyian yang nyaring, ".....You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey...." Ajaib! Si Adik pribadi memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya. "You never know, dear, How much I love you. Please don't take my sunshine away." Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus,.... terus Michael! "Teruskan sayang!" bisik ibunya...."The other night, dear, as I laid sleeping,I dream, I held you in my hands....." dan......Sang adikpun meregang,seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur........ "I'll always love you and make you happy, if you will only stay the same......." Sang adik kelihatan begitu tenang .... sangat tenang.
"Lagi sayang!" bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan.... adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai....... lalu tertidur lelap.
Suster yg tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yg telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang gres saja ia saksikan sendiri.
Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yg menimpa pasien yg satu ini. Mereka hanya mampu menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak mampu mengungkapkan dengan kata-kata.
Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yg menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahipun membutuhkan ekspresi kecil si Michael untuk mengatakan "How much I love you".
Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil ibarat Michael untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA bila IA menghendaki terjadi.
sumber:
http://balita-anda@indoglobal.com/
Senin, 27 Februari 2017
Anak Lebih Taat kepada Bunda, Tanya Kenapa?
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif
Gunawan -bukan nama sebenarnya- mengeluh lantaran Bobby (5), anaknya, lebih mau mendengar kata-kata bundanya tinimbang dirinya. Bahkan ketika ia harus mengeluarkan perintah dengan nada yang lebih keras pun, Bobby tetap tak menggubrisnya, bahkan berlari mencari perlindungan ke Soffie, sang bunda.
Sebagai Ayah, Gunawan merasa 'cemburu' kepada Soffie karena tidak dipatuhi, ditaati bahkan mungkin tidak lebih dicintai oleh Bobby, buah hatinya sendiri. Haruskah Gunawan menghukum Bobby? Adakah andil Soffie yang membuat Bobby tak patuh kepada Ayahnya? Benarkah keadaan menyerupai ini kesalahan sepenuhnya dialamatkan kepada si kecil Bobby? Atau memang sangat wajar dan demikian adanya, bahwa belum dewasa sudah sepantasnya lebih akrab dan lebih patuh kepada bunda alasannya ialah kedekatannya selama dalam kandungan, melahirkan dan menyusui.
Masalah yang dihadapi Gunawan, hanyalah satu dari sekian banyak kasus yang terjadi. Tidak sedikit Ayah yang memiliki problem yang sama, dan sangat mungkin ini menjadi permasalahan bersama para Ayah di banyak tempat. Tetapi sebelum mengalamatkan telunjuk kesalahan kepada isteri atau belum dewasa akhir keadaan ini, mari melihat apa yang sudah kita lakukan kepada anak-anak.
Untuk kasus Gunawan misalnya. Ia pernah didatangi Bobby dikala tengah sibuk memperbaiki kendaraannya. Bobby yang sering memperhatikan Ayahnya mengutak-atik kendaraan menganggap sang Ayah ialah montir handal dan kesannya pastilah mampu pula memperbaiki mobil-mobilan kesayangannya yang rusak. Namun ketika ia meminta pinjaman Ayahnya untuk memperbaiki mainannya, kekecewaan lah yang didapatinya dari kalimat, "Pergi sana ke bunda, apa kau nggak lihat Ayah sedang sibuk." Bobby yang patah hati pun mendatangi sang bunda. Soffie mencoba memperbaiki mainan kesayangan anaknya, dan berhasil!
Boleh jadi, kerusakan kendaraan beroda empat kesayangan Bobby bukan sesuatu yang parah. Mungkin saja hanya battery-nya yang habis dan tidak akan menyita waktu banyak untuk memperbaikinya. Pada dikala Bobby mendatangi Ayahnya untuk meminta bantuan, itu lah kesempatan terbaik sang Ayah untuk berdekatan dengan anaknya, itulah saat-saat emas menawarkan perhatian terbaik kepada anak-anak. Nampaknya Gunawan tak menyadari dan melewatkan kesempatan berharga tersebut. Persepsi Bobby pun berubah, "Bunda lebih handal."
Contoh lain ada di malam hari. Suatu kali Bobby meminta Ayahnya untuk menemani tidurnya dengan mendongeng. Lagi-lagi Bobby tak menangkap isarat, bahwa Bobby ingin mendapat perhatian lebih dari sang Ayah. "Sama bunda saja ya, Ayah lelah sekali," ujar Gunawan. Barangkali memang Bobby tak tahu kalau Ayahnya lelah setelah seharian kerja, tetapi Bobby juga seorang anak kecil yang ingin merasa memiliki Ayah. "Bobby juga punya Ayah kan? Bobby tidak hanya punya Bunda kan?" barangkali kalimat ini yang mampu menggambarkan perasaan seorang anak menyerupai Bobby.
Keberadaan Ayah pada dikala dibutuhkan, kehadirannya ketika dinantikan, seringkali menjadi mimpi bagi anak-anak. Terutama bagi belum dewasa yang orangtuanya super sibuk. Jangan heran bila Anda mendengar kisah perihal belum dewasa yang lebih akrab kepada pembantunya, atau belum dewasa yang setiap kali menangis justru berlari ke pelukan babby sitter dan bukan orangtuanya. Salahkah belum dewasa memiliki perasaan menyerupai itu?
Ketika buah hati Anda tak lebih akrab kepada Anda sebagai Ayahnya, tak lebih mendengar kata-kata Anda dibanding ucapan sang Bunda, bahkan tak lebih sayang menyerupai yang Anda inginkan? Cobalah beri perhatian lebih kepada mereka. Anak-anak akan berlari mendekat kepada Anda, dikala Anda berjalan mendekatinya. Saat Anda menciumnya di kening, mereka akan mencium Anda di kening, pipi, mulut, hidung dan dagu Anda. Ketika Anda mau mendengarkan mereka barang sedetik saja, mereka akan melaksanakan apa saja yang Anda inginkan. Cobalah.
Wassalam
berguru kpd Bayu Gawtama
Gunawan -bukan nama sebenarnya- mengeluh lantaran Bobby (5), anaknya, lebih mau mendengar kata-kata bundanya tinimbang dirinya. Bahkan ketika ia harus mengeluarkan perintah dengan nada yang lebih keras pun, Bobby tetap tak menggubrisnya, bahkan berlari mencari perlindungan ke Soffie, sang bunda.
Sebagai Ayah, Gunawan merasa 'cemburu' kepada Soffie karena tidak dipatuhi, ditaati bahkan mungkin tidak lebih dicintai oleh Bobby, buah hatinya sendiri. Haruskah Gunawan menghukum Bobby? Adakah andil Soffie yang membuat Bobby tak patuh kepada Ayahnya? Benarkah keadaan menyerupai ini kesalahan sepenuhnya dialamatkan kepada si kecil Bobby? Atau memang sangat wajar dan demikian adanya, bahwa belum dewasa sudah sepantasnya lebih akrab dan lebih patuh kepada bunda alasannya ialah kedekatannya selama dalam kandungan, melahirkan dan menyusui.
Masalah yang dihadapi Gunawan, hanyalah satu dari sekian banyak kasus yang terjadi. Tidak sedikit Ayah yang memiliki problem yang sama, dan sangat mungkin ini menjadi permasalahan bersama para Ayah di banyak tempat. Tetapi sebelum mengalamatkan telunjuk kesalahan kepada isteri atau belum dewasa akhir keadaan ini, mari melihat apa yang sudah kita lakukan kepada anak-anak.
Untuk kasus Gunawan misalnya. Ia pernah didatangi Bobby dikala tengah sibuk memperbaiki kendaraannya. Bobby yang sering memperhatikan Ayahnya mengutak-atik kendaraan menganggap sang Ayah ialah montir handal dan kesannya pastilah mampu pula memperbaiki mobil-mobilan kesayangannya yang rusak. Namun ketika ia meminta pinjaman Ayahnya untuk memperbaiki mainannya, kekecewaan lah yang didapatinya dari kalimat, "Pergi sana ke bunda, apa kau nggak lihat Ayah sedang sibuk." Bobby yang patah hati pun mendatangi sang bunda. Soffie mencoba memperbaiki mainan kesayangan anaknya, dan berhasil!
Boleh jadi, kerusakan kendaraan beroda empat kesayangan Bobby bukan sesuatu yang parah. Mungkin saja hanya battery-nya yang habis dan tidak akan menyita waktu banyak untuk memperbaikinya. Pada dikala Bobby mendatangi Ayahnya untuk meminta bantuan, itu lah kesempatan terbaik sang Ayah untuk berdekatan dengan anaknya, itulah saat-saat emas menawarkan perhatian terbaik kepada anak-anak. Nampaknya Gunawan tak menyadari dan melewatkan kesempatan berharga tersebut. Persepsi Bobby pun berubah, "Bunda lebih handal."
Contoh lain ada di malam hari. Suatu kali Bobby meminta Ayahnya untuk menemani tidurnya dengan mendongeng. Lagi-lagi Bobby tak menangkap isarat, bahwa Bobby ingin mendapat perhatian lebih dari sang Ayah. "Sama bunda saja ya, Ayah lelah sekali," ujar Gunawan. Barangkali memang Bobby tak tahu kalau Ayahnya lelah setelah seharian kerja, tetapi Bobby juga seorang anak kecil yang ingin merasa memiliki Ayah. "Bobby juga punya Ayah kan? Bobby tidak hanya punya Bunda kan?" barangkali kalimat ini yang mampu menggambarkan perasaan seorang anak menyerupai Bobby.
Keberadaan Ayah pada dikala dibutuhkan, kehadirannya ketika dinantikan, seringkali menjadi mimpi bagi anak-anak. Terutama bagi belum dewasa yang orangtuanya super sibuk. Jangan heran bila Anda mendengar kisah perihal belum dewasa yang lebih akrab kepada pembantunya, atau belum dewasa yang setiap kali menangis justru berlari ke pelukan babby sitter dan bukan orangtuanya. Salahkah belum dewasa memiliki perasaan menyerupai itu?
Ketika buah hati Anda tak lebih akrab kepada Anda sebagai Ayahnya, tak lebih mendengar kata-kata Anda dibanding ucapan sang Bunda, bahkan tak lebih sayang menyerupai yang Anda inginkan? Cobalah beri perhatian lebih kepada mereka. Anak-anak akan berlari mendekat kepada Anda, dikala Anda berjalan mendekatinya. Saat Anda menciumnya di kening, mereka akan mencium Anda di kening, pipi, mulut, hidung dan dagu Anda. Ketika Anda mau mendengarkan mereka barang sedetik saja, mereka akan melaksanakan apa saja yang Anda inginkan. Cobalah.
Wassalam
berguru kpd Bayu Gawtama
Jumat, 11 November 2016
Usai Sholat Ied

Usai adzan Maghrib maka takbirpun bergema di mana-mana, Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar..Laailahailallahhu Allahhuakbar..Allahuakbar walillahilham hingga menjelang sholat Ied.
Sejak pagi, saya sudah dilipat, dimasukkan ke sebuah tas yang harum sekali aromanya dan di bawa oleh seseorang dengan penuh semangat ke sebuah tanah lapang. Sesampai di sana, sudah banyak juga teman-temanku yang sudah berada di sana. Lalu akupun di dibentangkan dan di selimuti sajadah.
Namun tiba-tiba, saya mencicipi sepasang kaki yang menginjakku kemudian badan yang mendudukiku. Tak berapa kemudian kudengan bunyi takbir dan alunan ayat-ayat suci yang merdu sebagai tanda sholat Ied dimulai.
Selang beberapa waktu, terdengar ucapan salam tanda sholat telah usai dan setelah itu terdengar kembali bunyi ceramah dari khotib. Sama juga ibarat sebelumnya, bunyi ceramah itu kembali tenang tanda sudah usai semuanya.
Namun yang saya heran, kenapa setelah semua usai ... bahkan sajadah yang menyelimutiku pun beranjak pergi bersama orang yang membawaku ke lapangan ini.
Lalu ............................
......... mereka meninggalkan aku,
......... mereka membiarkan aku
......... dan mereka tak peduli saya lagi?
......... atau lupa?
Ah, insan memang sering lupa.
Lupa akan makna atau memang enggan memaknai ?
walau hanya untuk sekedar membawaku pergi lagi
atau menumpuknya bersama temanku yang lain
Mereka lupa atau enggan ?
Tapi tak mengapa kok, saya mengerti!
karena saya hanyalah selembar koran bekas
yang mungkin tak sebanding dengan
ketupat, opor dan sambal goreng???
Minal Aidzin Walfaidzin, Mohon maaf lahir batin ... 1431H
Kamis, 27 Oktober 2016
Bunda, Tolong Mandikan Aku Sekali Saja ... Please?
Assalamualaikum wr wb,
Dewi ialah sahabat saya, ia ialah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not to be the best?,'' begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.
Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, "Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?" Dengan sigap Dewi menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna". "Everything is OK !, Don’t worry Everything is under control kok !" begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.
Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol kegiatan Bayu lewat telepon. Pada balasannya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas berdikari dan mudah mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan pujian kepada cucu semata wayang itu, wacana betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, wacana naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. "Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah menyerupai Bunda". Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di selesai dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya memberikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk mampu menjadi sahabat bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian.
Terkejut dengan undangan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ''memahami'' orangtuanya.
Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kau memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kau tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi aksara ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya," Bunda saya ingin mandi sama bunda...please...please bunda", pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.
Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan undangan anaknya. Ia dengan tegas menolak undangan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu supaya mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini terus berulang hingga hampir sepekan. "Bunda, mandikan saya !" Ayo dong bunda mandikan saya sekali ini saja...?" kian lama bunyi Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu alasannya ialah Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, balasannya Bayu mampu ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.
Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, "Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency".
Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi pribadi ngebut ke UGD. Tapi sayang... terlambat sudah...Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya impian ia ialah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu dikala memandikannya sendiri jikalau ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi balasannya terpenuhi juga, meskipun setelah badan si kecil terbujur kaku.
Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar bunyi Dewi dengan nada yang bergetar berkata "Ini Bunda Nak...., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya...sayang....! balasannya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak.." . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring mayit masih bangkit mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, "Inikan sudah takdir, ya kan..!" Sama saja, saya di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya ia pergi juga, iya kan?". Saya yang dikala itu tepat berada di sampingnya membisu saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.
Wassalam
cerita dari ayah Edi
Dewi ialah sahabat saya, ia ialah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not to be the best?,'' begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.
Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, "Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?" Dengan sigap Dewi menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna". "Everything is OK !, Don’t worry Everything is under control kok !" begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.
Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol kegiatan Bayu lewat telepon. Pada balasannya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas berdikari dan mudah mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan pujian kepada cucu semata wayang itu, wacana betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, wacana naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. "Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah menyerupai Bunda". Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di selesai dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya memberikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk mampu menjadi sahabat bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian.
Terkejut dengan undangan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ''memahami'' orangtuanya.
Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kau memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kau tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi aksara ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya," Bunda saya ingin mandi sama bunda...please...please bunda", pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.
Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan undangan anaknya. Ia dengan tegas menolak undangan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu supaya mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini terus berulang hingga hampir sepekan. "Bunda, mandikan saya !" Ayo dong bunda mandikan saya sekali ini saja...?" kian lama bunyi Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu alasannya ialah Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, balasannya Bayu mampu ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.
Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, "Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency".
Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi pribadi ngebut ke UGD. Tapi sayang... terlambat sudah...Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya impian ia ialah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu dikala memandikannya sendiri jikalau ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi balasannya terpenuhi juga, meskipun setelah badan si kecil terbujur kaku.
Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar bunyi Dewi dengan nada yang bergetar berkata "Ini Bunda Nak...., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya...sayang....! balasannya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak.." . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring mayit masih bangkit mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, "Inikan sudah takdir, ya kan..!" Sama saja, saya di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya ia pergi juga, iya kan?". Saya yang dikala itu tepat berada di sampingnya membisu saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.
Wassalam
cerita dari ayah Edi
Sabtu, 15 Oktober 2016
Ibu, Aku Hanya Ingin Dipahami
Ibu,Bukannya saya malas dan suka melamun, tapi saya lagi menyiapkan diriku mendapatkan seluruh keindahan alam semesta. Beri saya kesempatan berdiam sejenak alasannya ialah gambar-gambar kehidupan yang sedang kurekam akan membuatku mampu memahami simfoni dan harmoni. Ingin sekali saya menciptakan melodi yang mengagumkan biar Ibu mampu menikmatinya sambil menyebarkan saya kuliner yang enak.
Ibu,
Bukannya saya tak mampu menjumlah 2 + 0 + 4, tapi saya lagi melihat seekor belibis berenang di bak yang mengagumkan dengan deretan dingklik cantik di sekelilingnya. Beri saya kesempatan merekamnya di alam kesadaranku alasannya ialah ingin sekali saya menyebarkan Ibu sebuah bak renang yang mengagumkan dan kita duduk bersama di dingklik yang empuk dan cantik sambil menikmati bahagianya belibis berenang.
Ibu,
Bukannya saya tak mau mendengar dan menatap mata Ibu saat dongeng-dongeng itu dibacakan dan lagu nina bobo dinyanyikan, tapi saya lagi mencicipi indahnya bunyi Ibu berpadu dengan suara-suara lain di kamar ini. Beri saya kesempatan menikmatinya alasannya ialah suatu hari nanti akan kubuatkan sebuah ruangan biar Ibu mampu menyanyi dan mengaji. Di Ruangan itu kita mampu bernyanyi bersama dan selalu mampu kunikmati bunyi Ibu yang merdu melantunkan ayat-ayatNya.
Ibu,
Bukannya saya tak mampu membaca kata demi kata yang ibu ajarkan, tapi saya lagi merekam taburan kata-kata biar terangkai sebuah kalimat yang indah, layak dan sopan. Beri saya kesempatan melihat kata-kata itu saling merangkai, alasannya ialah saya ingin menulis sebuah puisi yang mengagumkan yang spesial untuk saya persembahkan di hari ulang tahun Ibu.
Ibuku Sayang,
Kalau Ibu marah dan mencubit, tangis dan air mataku itu bukanlah alasannya ialah saya benci atau marah. Aku hanya duka kalau cubitan dan amarah Ibu mengikis rasa sayang, cinta, dan potensiku untuk menghadiahi Ibu sebuah rumah mungil dengan bak renang, ruang bernyanyi dan dapur yang indah. Dan hatiku akan sangat menyesal kalau tak tak sanggup merangkai dan membacakan puisi mengagumkan di hari spesial Ibu. Karena bagiku : IBU ADALAH SEGALANYA.
Suara Hati dari Seorang Anak yang lebih banyak didominasi otak kanan.
Ditulis dan Dikirim oleh: Pak Muliadi Saleh
Sumber : Ayah Edi
Jumat, 07 Oktober 2016
Benarkah Ada Anak Nakal?
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatifSeperti halnya kita orang tua, belum dewasa pun juga memiliki etika ganda. Kadang menyenangkan, kadang menjengkelkan. Di sebuah kantor, saya pernah melihat seorang karyawan, yang sebab sebuah duduk perkara harus mengajak serta anaknya. Anak ini berlari-lari riang tanpa rasa takut, main teriak sana-sini, dan meskipun terganggu, orang-orang mencoba memakluminya.Puncaknya saat anak ini, sambil berlari menabok pantat seseorang tanpa pernah menduga, bahwa pemilik pantat itu yaitu atasan bapaknya.
Di sebuah kampung, ada anak yang seluruh penderitaannya gagal memancing iba, gara-gara ulahnya sendiri. Dari semua sisi, ia bahu-membahu anak sengsara. Hidup cuma bersama ibunya, bapaknya telah meninggal dan ibunya menganggur pula. Tapi anak ini memiliki kemampuan ekstra dalam meludah dan ia kerap meludahi siapa saja lebih-lebih kepadaorang yang iseng menggodanya.
Seperti Anda, saya juga penyuka anak-anak, atau setidaknya bukan jenis insan yang jahat terhadap anak. Tapi pengalaman berikut ini membingungkan saya. Ada seorang kawan yang di antara kami selalu menjaga kesopanan dalam pergaulan. Kesopanan itu pula yangsaya peragakan saat suatu kali kamibertemu ia bersama anak kecilnya. Anak yang tampak sehat dan cerdas dan dengan gaya orang renta penyayang anak, saya menggodanya. Tapi alhasil yaitu gamparan keras sempurna di mata saya.
Sepintar saya bersikap ramah, semulia apapun hati saya, tamparan ini membuat mata saya merah dan berair. Membutuhkan waktu ekstra bagi saya untuk menenangkan diri, menahan aib dan masih pula harus menentramkan hati orang renta si anak yang harus tak enak hati. Si kawan ini meminta maaf dengan gegap gempita, danuntuk menenangkan hatinya, sayatetap mengoda anak ini, mencoba tertawa-tawa, mengelus-elus pantanya, tapi sebetunya yang saya lalukan yaitu belakang layar mencubitnya, kerassekali, tanpa orang tuanya tahu bahwa saya telah melunaskan sakit hati ini.
Sakit hati ibarat itu tentu sesuatu yang saya sesali. Menyadari bahwa ternyata saya juga seorang pendendam, bahkan terhadap anak kecil, yaitu kenyataan yang membuat saya kecewa pada diri sendiri. Tapi kekecewaan serupa ternyata bisa terus saya ulangi. Kejengkelan saya terhadap belum dewasa ibarat godaan yang harus saya akrapi.
Misalnya terhadap anak tetangga yang ini, yang jikalau harus bertandang ke rumah eksklusif mengobrak-abrik apa saja. Repotnya, anak ini benar-benar menganggap semua orang renta di dunia ini yaitu orang tuanya. Semuanya harus serba boleh, termasuk mencoret-coret tembok rumah, memreteli mainan, dan membongkari barang-barang. Jika kami menegurnya baik-baik, ia tak merasa, jikalau kami menghardiknya ia melawan, jikalau kami mencowel pantatnya, ia ganti akan memainkan cakarnya. Jika kami mendelik ia akan menggeram. Horor sekali perlawanan anak ini dan ini membuat kami aib jikalau harus terprovokasi.
Pendek kata habis nalar kami mengadapi anak ini. Semua jenis hardikan tak mempan untuknya sebab tak pernah ia tanggapi. Cara satu-satunya yaitu memutuskan kata tidak bagi anak ini saat hendakmain ke rumah. Kami putuskan untuk berceraisecara pergaulan kepadanya katimbang kami tersiksa oleh kenakalannya.
Sedih juga saya harus memutuskan ini. Betapa memang rendah mutu kesabaransaya. Dalam keadaan kecewa ibarat ini saya jadi membayangkan wajah tokoh pecinta anak-anak, Kak Seto yang ramah itu, dengan rasa iri. Sungguh wajah yang penuh tawa dan kesabaran, wajah yang selalu di kepung belum dewasa yang gembira dibuatnya. Ingin saya meminta pesan yang tersirat Kak Seto bagaimana caranya tabah mengahadapi kenakalan anak ibarat ini. Ingin saya banyak sekali pengalaman,apa cara Kak Seto jikalau pernah ditampar mukanya ibarat saya itu.
Tapi sebelum saya ketemu Kak Seto, pesan yang tersirat itu ternyata keburu diberikan oleh daun pintu rumah saya yang suatu hari terkunci, sementara anak kuncinya tertinggal di dalam. Kami yang tengah buru-buru itu malah melaksanakan kekeliruan yang tak perlu. Tapi semuanya sudahterlanjur. Anak kunci itu menggeletak didalam dan kami hanya bisa putus asa menatapnya.
Ada memang potensi pertolongan, tapi tak seberapa bentuknya, yakni cuma berupa lubang dari jendela yang kami lupa menguncinya dari dalam. Jendela ini bisa dibuka tapi sebab bentuknya, ia cuma menyediakan sedikit lubangsaja. Siapa lagi yang sanggup menerobos lubang sempit ini, tak ada kecuali anak dengan penggalan badan ekstra mungil dan seluruh kampung, hanya anak bandel itulah yang cocok mengembantugas ini.
Akhirnya anak inilah yang kami datangkan dengan segenap rasa malu. Dengan tubuhnya yang enteng gampang saja iamenelusup ke lubang ini unruk mengambilkan anak kunci untuk kami. Ia besar hati sekali akan tugasnya dan tawanya itu terperinci tawa seorang anak yang sama sekali tidak pernah menaruh dendam apapun kepada kami yang pernah dendam kepadanya itu.
Wassalam,
Penulis : Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
http://andriewongso.com/awartikel-125-Artikel_Tetap-Anak-anak_Nakal
Kamis, 04 Agustus 2016
Kisah Pengembara Dan Si Pelit
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Adik² ... malam liburan Minggu ini, apa sudah punya dongeng/cerita atau belum? Nah, jikalau belum, kakak punya dongeng yang menarik yaitu "Kisah Pengembara dan Si Pelit".
Ini kisah dongengnya:
Seorang yang sangat pelit mengubur emasnya secara belakang layar di daerah yang dirahasiakannya di tamannya. Setiap hari beliau pergi ke daerah dimana beliau mengubur emasnya, menggalinya dan menghitungnya kembali satu-persatu untuk memastikan bahwa tidak ada emasnya yang hilang.
Dia sangat sering melaksanakan hal itu sehingga seorang pencuri yang mengawasinya, dapat menebak apa yang disembunyikan oleh si Pelit itu dan suatu malam, dengan belakang layar pencuri itu menggali harta karun tersebut dan membawanya pergi.
Ketika si Pelit menyadari kehilangan hartanya, beliau menjadi sangat duka dan putus asa. Dia mengerang-erang sambil menarik-narik rambutnya.
Satu orang pengembara kebetulan lewat di daerah itu mendengarnya menangis dan bertanya apa saja yang terjadi.
"Emasku! oh.. emasku!" kata si Pelit, "seseorang telah merampok saya!"
"Emasmu! di dalam lubang itu? Mengapa kau menyimpannya disana? Mengapa emas tersebut tidak kau simpan di dalam rumah dimana kau dapat dengan mudah mengambilnya dikala kau ingin membeli sesuatu?"
"Membeli sesuatu?" teriak si Pelit dengan marah. "Saya tidak akan membeli sesuatu dengan emas itu. Saya bahkan tidak pernah berpikir untuk berbelanja sesuatu dengan emas itu." teriaknya lagi dengan marah.
Pengembara itu kemudian mengambil sebuah watu besar dan melemparkannya ke dalam lubang harta karun yang telah kosong itu.
"Kalau begitu," katanya lagi, "tutup dan kuburkan watu itu, nilainya sama dengan hartamu yang telah hilang!"
----------------------------
Pesan dari kisah ini adalah:
"Harta yang kita miliki sama nilainya dengan kegunaan harta tersebut."
Selamat berlibur ya ... wassalam.
sumber: http://www.ceritakecil.com/cerita-dan-dongeng/Si-Pelit-58
Rabu, 03 Agustus 2016
Sayangi Mereka, Mereka Juga Saudara Kita
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Mereka jarang tersenyum bukan alasannya mereka enggan untuk tersenyum. Tapi hidup dan waktu seolah menuntut mereka untuk menghabiskan sebagian besar kehidupan untuk bekerja keras sehingga terkadang mereka lupa bahwa ada waktu untuk tersenyum. Seolah dunia begitu keras menuntut mereka hingga mereka lupa untuk tertawa. Lihatlah teman….bahkan mereka tidak punya waktu untuk tersenyum. Apa mereka lupa cara tersenyum? Atau alasannya mereka tak pernah mendapatkan senyuman, makanya mereka tak tahu lagi bagaimana caranya tersenyum?
Terkadang saya melihat dunia memang terlalu keras pada mereka. Bukan dunia sebagai objek, tapi dunia dengan manusianya. Bagaimana jikalau sesekali kita tidak menghabiskan waktu di tempat-tempat yang indah? Kenapa kita tak meluangkan waktu sejenak untuk memperhatikan mereka? Jika tak mau atau tak bisa membantu mereka dengan materi, tidak ada salahnya juga kita menghargai mereka dengan sebuah senyuman nrimo dari wajah kita. Bukankah mereka juga saudara kita???
Teman,,, andai kita punya waktu untuk memperhatikan kehidupan mereka yang begitu sederhana. Maka kita akan menemukan kehidupan yang begitu indah. Di sana kita sadar betapa lebih beruntungnya kita….
Teman… tidak ada salahnya sesekali kita berjalan kaki sendirian di tengah keramaian sambil memperhatikan lingkungan kita. Cobalah luangkan waktu sedikit saja untuk itu. Sekali lagi, jikalau tak dapat memberi pada mereka, paling tidak kita bisa sadar dan lebih memahami lagi hidup kita.
Aku gembira pada mereka. Mereka hebat. Dengan kehidupan yang begitu keras, mereka tetap bisa menjalaninya. Meski tak tahu dengan apa hidup ini akan dilanjutkan esok hari dan dengan apa perut mereka akan diisi, mereka tetap menanti datangnya mentari pagi. Mereka bilang kalau mereka percaya bahwa selama mereka masih hidup, maka rezeki dari Tuhan akan tetap ada untuk mereka,rezeki akan tetap ada selama mereka masih percaya dan mau berusaha serta berdo’a.
Mereka dengan kesederhaannya selalu bahagia dan bersyukur ketika mendapatkan sejumlah uang. Jika orang kaya yang mendapatkan uang sejumlah itu, mungkin mereka menganggap uang itu tak berarti apa-apa. Tapi mereka tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca ketika mendapatkannya. Mengapa harus ada perbedaan ibarat itu?
Jika si miskin datang ke rumah si kaya, sangat jarang atau bahkan tak akan ada sambutan hangat bagi mereka. Tapi, ketika si kaya yang datang ke rumah si miskin, maka si miskin terlihat begitu menghargai. Seolah mereka didatangi oleh tamu agung di rumahnya. Sekali lagi, mengapa harus ada perbedaan ibarat itu?
Jika suatu ketika si miskin dengan pakaiannya yang tampak lusuh dan kotor terjatuh, maka si kaya tak akan menghiraukan alasannya mungkin bagi mereka tidak akan mengakibatkan manfaat apa-apa bagi dirinya. Yang ada paling hanya akan mengotori pakaiannya, mungkin itulah yang ada di fikirannya. Tapi, si miskin masih tetap berbeda dengan si kaya. Ketika keadaan berbalik, maka si miskin akan tetap membantu. Si miskin begitu penghiba. Hati mereka begitu lembut, sehingga tak bisa membiarkan orang lain dalam kesusahan alasannya mereka tahu bagaimana rasanya kesusahan itu.
Ya Rabb….saudara-saudaraku itu mungkin di dunia tidak seberuntung yang lainnya. Mereka tidak dapat memiliki apa-apa yang mereka impikan. Tapi semoga mereka tetap bahagia dan penuh rasa syukur pada_Mu Rabb..
Ya Rabb…. Sayangi saudara-saudaraku itu. Jangan biarkan mereka jauh dari_Mu. Ingatkan mereka selalu bahwa ada Engkau yang tetap menyayangi dan menjaga mereka. Dan berikanlah selalu semangat bagi mereka.
Ya Rabb… Berikan hati yang lembut pada mereka. Jangan biarkan kerasnya perlakuan yang mereka dapat menjadikan hati mereka ikut keras. Tapi jadikan kekerasan yang mereka terima itu sebagai materi untuk lebih membuat hati mereka jernih melihat segala sesuatu.
Ya Rabb…Jangan biarkan rasa rendah diri melekat pada diri mereka akhir cemooh yang mereka terima. Tapi biarkan rasa rendah hati bersemayam pada diri mereka. Jagalah mereka biar tetap yakin akan kuasa_Mu dan biar mereka tetap beribadah kepada_Mu sehingga mereka dapat bertemu dengan kebahagiaan yang hakiki bersama_Mu.
Mungkin benar bahwa saya tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya seorang anak yang bahkan hingga ketika ini masih bergantung pada orang tuaku. Lalu apa yang dapat saya lakukan??? Ya…kalian boleh mengatakan bahwa saya tak bisa apa-apa.
Tapi mereka tetap saudaraku. Dan sekarang, saya hanya bisa berdo’a untuk mereka semua, di manapun mereka berada. Meski tak tahu apa-apa wacana mereka, yang jelas, satu hal yang sangat saya tahu bahwa MEREKA ADALAH SAUDARAKU……
Maaf jikalau terlintas fatwa bahwa tampaknya saya terlihat lebih berpihak pada si miskin. Tapi, jujur, bagaimana pun juga saya memang lebih menyayangi si miskin. Namun, bukan berarti pula saya membenci si kaya alasannya saya juga tahu bahwa Tuhan tidak pernah membenci seseorang alasannya beliau kaya atau miskin. Hanya saja, goresan pena ini ku buat ketika saya melihat apa yang ku ceritakan ketika ini. Dan bukan berarti hal ini harus terjadi selamanya.
Yang jelas, saya sangat berharap, kaya atau miskinkah, yang terpenting yaitu bagaimana kita menghargai amanah yang diberikan kepada kita…
MAAf jikalau saya terlihat sok tahu. Bukan maksud mengurui alasannya saya sadar bahwa tak pantas diri ini menjadi seorang guru. Jika menemukan kebenaran, maka ambillah. Tuhan selalu menginginkan hamba Nya memperoleh kebenaran alasannya kebenaran itu niscaya hanya dari Nya. Tapi, jikalau hanya ada kesalahan dan keburukan dari tiap untaian kata, mungkin itu alasannya si penulis ini yang tak mengerti apa-apa atau masih terlalu kurang arif memaknai kehidupan… (vivi ardi)
Semoga kita makin peduli, InsyaAllah.
Wassalam
sumber:http://www.resensi.net/sayangi-mereka-mereka-saudara-kita/2010/11/
Selasa, 02 Agustus 2016
Mama, Kok Sibuk Terus, Sih?
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Mama, kok sibuk terus, sih? Memangnya kerja enggak ada liburnya?” protes Cindy Fahira Pohan (4 tahun) kepada ibunya, Iramawati Tambunan (38). Ya, boleh-boleh saja Anda sibuk berkarir di luar rumah, alasannya tujuan bekerja pasti untuk anak juga. Namun, anak pun menginginkan Anda memiliki waktu luang baginya. Jadi, Anda harus berilmu me-manage waktu untuk menawarkan perhatian kepadanya.
Kisah wanita yang berdomisili di Jalan SM Raja ini banyak juga dialami ibu-ibu di kurun zaman sekarang. Kedua orangtua terpaksa harus bekerja demi pemenuhan masa depan anaknya. Ujung-ujungnya, anak terpaksa diasuh pembantu atau dititip ke keluarga. Namun tanpa disadari, kebutuhan anak tak hanya kebutuhan fisik. Hal ini seringkali tidak disadari para orangtua yang sibuk berkarier. Mereka berpikir, melimpahi anak dengan harta benda sudah cukup.
Padahal tidak, kasih sayang dan perhatian orangtua paling penting untuk anak. Bentuk perhatian tidak melulu harus hadiah, tetapi dengan menemaninya berguru ataupun bermain, sudah cukup membuat anak senang dan bahagia.
Memang, demi tuntutan ekonomi, Iramawati Tambunan dan suaminya, Rifai Pohan (43), terpaksa harus bekerja. Anak mereka, Cindy Fahira Pohan, terpaksa diasuh kakak dari Iramawati, Suliarti Tambunan. Hampir tiap hari anaknya menghabiskan waktu bersama keluarga kakaknya. “Saya terpaksa harus bekerja untuk membantu ekonomi dan masa depan anak saya. Memang ada yang harus dikorbankan, anak aku jadi kurang perhatian orangtuanya. Saya hanya memiliki waktu di final pekan. Nak aku juga tidak rewel dikala diasuh kakak saya,” ujar wanita yang bersahabat disapa Ira ini.
Begitu juga yang dikatakan Ali Torgis Pasaribu, suami kakaknya yang selama ini mengasuh anak Ira. Karena saban hari Cindy (anak Ira, Red) berada dalam asuhan mereka, Cindy pun sangat dekat dengan mereka. “Cindy memanggil aku dengan sebutan ayah. Padahal aku bukan ayahnya, tapi Om-nya. Mungkin ini alasannya Cindy tiap hari bersama kami jika orangtuanya sibuk bekerja,” kata Ali.
Kata Ali, Cindy bukanlah tipe anak yang mengesalkan meski kadang rewel. Rewel bukan berarti cengeng. “Cindy anak cerdas. Cindy selalu banyak bertanya alasannya keingintahuannya. Meski Cindy kami asuh siang hari, tapi Cindy tidak melupakan siapa orangtuanya. Cindy anak pengertian alasannya beliau tahu jika mama-papanya bekerja untuk cari duit,” ujar Ali.
Menurut Ali, Cindy bukan anak yang gampang untuk bersosialisasi dengan orang lain. Cindy tak gampang dekat dengan orang lain yang belum dikenalnya. Tapi jika sudah kenal, Cindy akan menjadi anak yang ramah dengan selalu banyak pertanyaan,” tambahnya.
Apalagi dikala ini, kata Ali, Cindy sudah memiliki kesibukan bersekolah. Cindy gres duduk di dingklik sekolah Taman Kanan-kanan (TK) Harapan Mandiri, Jalan Brig Jend Katamso Medan. “Setiap hari Cindy aku antar ke sekolah pada pukul 07.30 WIB. Cindy merasa senang dengan aktivitas barunya ini,” bilang Ali.
Dikatakan Ali, meski kedua orangtua Cindy tidak dapat sepenuhnya menawarkan perhatian kepada Cindy, tapi dirinya tetap selalu mengingatkan kepada Cindy untuk mengerti keadaan orangtuanya, harus menyayangi orangtuanya dan tidak boleh menjadi anak yang manja. “Cindy justru sayang sama orangtuanya. Kalau lagi libur final pekan bersama orangtuanya, Cindy malah nyombong sama kami,” pungkas Ali sambil tersenyum. (del)
Sediakan Waktu Luang Untuk Anak
----------------------------------------
Ternyata, anak pun punya cita-cita kepada orangtua. Anak menginginkan orangtua punya waktu luang untuknya, yang mau berbagi, dan sebagainya. Apa lagi keinginan anak yang perlu diketahui orangtua?
Waktu luang Anda sangat diharapkan anak. Anda harus sering menelepon anak sesibuk apapun. Pada final pekan, harus menetapkan hari libur yang tak boleh lagi diusik dengan pekerjaan. Kemudian, orangtua jangan cekcok di depan anak. Sebab, jiwanya akan tertekan dan ia akan bingung, siapa yang harus dibela dan disalahkan. Ayahnya-kah atau ibunya-kah?
Anak juga mengingkan biar orangtuanya ramah terhadap teman-teman anak yang berkunjung. Lalu, anak menginginkan biar orangtua tak ingkar janji. Sebaiknya, jangan pernah menawarkan komitmen pada anak, bila tak mau dicap anak sebagai orangtua pembohong?
Anak juga menginginkan orangtuanya berilmu dan cekatan sehingga bisa menjawab setiap pertanyaan. Sebagai anak, mereka juga menginginkan orangtua tidak saja menjadi daerah berlindung, melainkan juga bisa diajak membuatkan alias curhat. Inilah yang terkadang tidak disadari para orangtua terhadap keinginan anak.
Sulit membaur dalam kehidupan anak, membuat jarak, dan tidak mau tahu masalah yang dihadapi anak. Mulai sekarang, cobalah menata kembali relasi Anda dan anak biar lebih akrab. Sehingga posisi Anda tak hanya sebagai orang tua, tetapi juga bisa sebagai teman.
Seringkali, orangtua tidak menyadari sikapnya, dan mengeluh di depan anak. Keluhan Anda pun bermacam-macam, dari masalah keluarga hingga urusan pekerjaan yang membuat galau si kecil. Mau tidak mau, ini melibatkan anak untuk turut berpikir dalam duduk perkara yang Anda hadapi. Padahal, itu tidak perlu. Kenapa harus membuatkan masalah dengan anak? Apa yang dapat Anda harapkan dari seorang anak yang masih kecil dan teladan pikirnya belum luas? Kalaupun anak menawarkan pendapat, pasti Anda tidak puas alasannya tidak sesuai dengan yang Anda harapkan. Jadi, bicarakan masalah Anda dengan pasangan ataupun orang yang lebih renta dan memahami masalah tersebut. (net/jppn)
Semoga bermanfaat, wassalam
Artikel ini dari [subberita]:http://www.hariansumutpos.com/arsip/?p=12305
Langganan:
Postingan (Atom)














