Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Dunia anak memang dunia bermain dan jikalau bicara permainan, sudah semenjak dari dulua ada. Namun dengan berkembangnya ilmu dan tehnologi, permainan bawah umur sekarang berbeda dengan permainan bawah umur dulu (jaman kita masih kecil)
Nah berikut ini yang saya masih ingat, permainan idola bawah umur dulu:
1. Petak Umpet
Kayanya permainan idola bawah umur .. jangan-jangan juga sudah terkenal diseluruh dunia nih ... hihihi ..
2. Main Kelereng
Yang main permainan ini biasanya anak laki-laki. saling incar semoga mampu kena ke kelereng lawan
3. Lompat Tali Karet
Biasanya yang bermain lompat tali karet ini anak perempuan, tapi ada juga sih bawah umur lagi yang ikut.
4. Bola Bekel
lempar dan tangkep bola kembali sambil mengambil biji-bijinya (maaf namanya lupa)
5. Engkle' (dibaca Engklek ... bener ga?)
Cara mainnya, melempar bagian genteng ke daerah yang sudah dibuat. Lalu pemain mengambilnya dengan cara melompat dengan kaki satu (engkle')
6. Bentengan
susah jelasin permainan ini, pokonya kita mesti nginjek benteng lawan duluan.
7. Kucing-kucingan
resah juga jelasin permainan ini pokonya .. kucing-kucingan beliau jadi kucing-kucingan ... hihihi.
8. Ular-ular'an
permainan ini dilakukan oleh banyak anak dengan cara berbaris saling berpegangan bahu satu sama lain . .terus ntar bakal masuk terowongan yg dibuat 2 anak lainnya
9. Perang -perangan
permainan ini cuman butuh pistol2an dan bunyi yang nyaring . .cuman susahnya ga pernah ada yang mau mati, jadi udah ditembak tetep aja pengen ikutan maen.
10. Boy-boy'an (bahasa Indonesianya apa ya .. ?)
permainan ini memakai bola tenis yg harus digelindingin sama satu tim semoga kena tumpukan genteng yg udah disusun tim yg lain . .lumayan seru
11. Main Bola
mau cuaca panas, hujan, angin ribut, gempa bumi ane tetep pegi maen bola pasti ga pernah dulu ane liat ada anak yg ga maen bola
Itu beberapa permainan anak dulu yang masih saya ingat. jikalau teman ada yang lain silahkan untuk menambahnya. Terima kasih
Wassalam
gambar dari google
Tampilkan postingan dengan label be SMART be CREATIVE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label be SMART be CREATIVE. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 30 Desember 2017
Kamis, 28 Desember 2017
Mengapa Mama Atau Papa Menjadi Kata Pertama Yang Diucapkan Bayi?
Assalamualaikum wr wr,salam cerdas kreatif.
ALANGKAH bahagianya dikala si kecil menyebut kata "mama" atau "papa" untuk pertama kalinya. Kedua kata tersebut memang sering menajadi kata pertama bayi-bayi di seluruh dunia. Ternyata ada alasan ilmiah di balik semua itu.
Sejak usia 2 bulan umumnya bayi sudah bisa menirukan intonasi bunyi kita dan membedakan suara. Seiring dengan bertambahnya usia, dia pun makin sering mengoceh, dan di usia 8-9 bulan normalnya bayi sudah bisa bicara dalam arti menyebutkan kata, menyerupai "mama" atau "papa".
Peneliti post-doktoral dari Universitas British Columbia, Judith Gervain, menyebutkan, kata "mama" atau "papa" dalam banyak bahasa di seluruh dunia pada umumnya merupakan kata yang sering diulang-ulang. Selain itu, baik dari segi linguistik maupun fungsi susunannya, kata "mama" dan "papa" lebih mudah bagi bayi ketimbang "ibu" atau "bunda" misalnya.
Untuk mengungkap alasan ilmiah di balik ocehan bayi ini, tim peneliti yang diketuai oleh Gervain melaksanakan pindai otak terhadap 22 bayi gres lahir berusia 2-3 hari sambil diperdengarkan rekaman kata-kata. Bayi-bayi mungil tadi mendengarkan kata yang memiliki pengulangan silabel, menyerupai "mubaba" dan "penana", juga kata yang tidak berulang, menyerupai "mubage" dan "penaku".
Ternyata acara otak bayi di adegan yang merupakan sentra bahasa meningkat dikala rekaman kata-kata dengan pengulangan silabel diperdengarkan. Sementara dikala bayi mendengar kata yang tidak berulang menyerupai "bamuba atau napena", tidak terlihat adanya respons di otak.
"Hal ini menawarkan bahwa bayi lahir dengan kemampuan untuk mendapatkan dan berguru bahasa ibu secara sistematik dan efisien," kata Gervain yang hasil penelitiannya dipublikasikan secara online dalam jurnal Proceeding of the National Academy of Sciences.
Untuk menstimulai kemampuan bicara bayi sedini mungkin, sering-seringlah berbicara kepada bayi. Gunakan kata-kata dengan artikulasi sederhana dan bicaralah lebih lambat dan terperinci dengan intonasi yang menyenangkan sehingga bayi mendapat kesempatan untuk menangkap kata-kata itu dan memahaminya.
Wassalam.
-----------
sumber:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/28/10125514/mengapa.mama.adalah.kata.pertama.bayi.
Kombinasi 2 Nutrisi Agar Anak Cerdas
Asalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
VIVAnews - Wanita yang merencanakan atau sedang hamil dianjurkan semoga mengasup makanan kaya asam folat dan zat besi. Kombinasi dua nutrisi akan menimbulkan anak cerdas.
Hasil penelitian dimuat dalam edisi terbaru Journal of American Medical Association. Studi di Nepal menemukan ibu yang makan zat besi dan asam folat selama kehamilan, belum dewasa mereka memperlihatkan keterampilan kognitif dan motorik lebih besar dibandingkan belum dewasa yang ibunya tidak mengasup pelengkap kehamilan.
Sebanyak 676 responden anak, diamati tumbuh kembang sejak balita, sampai anak berusia 7-9 tahun. Anak-anak dari ibu yang minum pelengkap prenatal asam folat dan zat besi memperlihatkan kemampuan kognitif lebih berpengaruh dan kemampuan daypikir lebih tinggi.
Salah satu peneliti studi, Laura Murray-Kolb, ajudan profesor di Penn State University mengatakan, penelitian pada tikus memperlihatkan kekurangan zat besi selama kehamilan dapat mengubah neurotransmitter di otak. Akibatnya akan menghipnotis kecepatan pemrosesan informasi. Studi di Nepal memperlihatkan hal serupa pada manusia.
"Program prental yang rendah biaya yang dapat diimplementasikan di tingkat masyarakat. Di negara berkembang banyak wanita hamil yang tidak memeriksakan kehamilan ke dokter," kata Murray-Kolb menyerupai dimuat dalam AolHealth. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan sekitar 50 persen wanita hamil di negara berkembang mengalami anemia.
Kombinasi dua nutrisi ini akan menimbulkan anak miliki 'otak encer'.
Wassalam,
image: Corbis
sumber:http://kosmo.vivanews.com/news/read/195955-nutrisi-agar-anak-cerdas
Rabu, 27 Desember 2017
Ditemukan, Gen Pembentuk Anak Kriminal
(brainstorm-services.com)
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin ini lah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan sikap anak yang tidak jauh berbeda dari perangai orang tuanya.
Bahkan, jikalau anak sering melaksanakan tindak kriminal dan berulang kali berurusan dengan hal-hal kejahatan, hal ini turut dipengaruhi oleh faktor genetik. Jika Anda menemukan seseorang yang sering melaksanakan tindak kriminal, mampu diselidiki, apakah orang tuanya juga berperilaku sama menyerupai anaknya.
Seperti dikutip dari laman Daily Mail, sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa segala tindakan dan perilaku seorang anak pasti tidak akan jauh dari langsung orang tuanya.
Sebuah studi yang melibatkan anak laki-laki dan perempuan yang diketahui memiliki catatan kriminal empat kali ternyata setelah diteliti memiliki orang renta dengan segudang catatan kriminal.
The Florida State University mempelajari sikap 250 anak dewasa pria dan perempuan. Mereka diteliti dengan melaksanakan wawancara ketika memasuki usia SMA, kemudian secara terencana diwawancarai selama 13 tahun ke depan.
Dari penelitian ini terungkap, bahwa anak dewasa laki-laki dan perempuan yang memiliki orang renta kandung dengan duduk perkara kriminal dan pernah berurusan dengan polisi 4-5 kali, cenderung memiliki anak dengan sikap yang sama dibanding dengan orang renta kandung yang sama sekali tidak pernah berurusan dengan kepolisian.
"Anak-anak yang memiliki ayah biologis atau ibu kandung pernah bertindak kriminal, secara signifikan akan mengalami hal yang sama, dengan hukuman masa percobaan, beberapa kali dipenjara atau ditangkap," kata Kevin Beaver, penulis studi dan kriminologi.
Gen ini juga terlibat dalam perilaku kekerasan antisosial termasuk salah satu yang disebut MAO-A yang membuat enzim sebagai pemecah materi kimia dalam otak yang terkait dengan agresi.
Versi ekstrim dari MAO-A atau gen jenis lain, telah terbukti memiliki pengaruh berpengaruh ketika dipasangkan dengan perilaku anak yang bermasalah dalam pendidikan. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Biological Psychiatry. (art)
Tidak sekedar nakal, gen ini juga mampu membawa perilaku anak pada tindak kriminal.
Wassalam,
sumber:http://kosmo.vivanews.com/news/read/193241-ditemukan-gen-pembentuk-anak-kriminal
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin ini lah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan sikap anak yang tidak jauh berbeda dari perangai orang tuanya.
Bahkan, jikalau anak sering melaksanakan tindak kriminal dan berulang kali berurusan dengan hal-hal kejahatan, hal ini turut dipengaruhi oleh faktor genetik. Jika Anda menemukan seseorang yang sering melaksanakan tindak kriminal, mampu diselidiki, apakah orang tuanya juga berperilaku sama menyerupai anaknya.
Seperti dikutip dari laman Daily Mail, sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa segala tindakan dan perilaku seorang anak pasti tidak akan jauh dari langsung orang tuanya.
Sebuah studi yang melibatkan anak laki-laki dan perempuan yang diketahui memiliki catatan kriminal empat kali ternyata setelah diteliti memiliki orang renta dengan segudang catatan kriminal.
The Florida State University mempelajari sikap 250 anak dewasa pria dan perempuan. Mereka diteliti dengan melaksanakan wawancara ketika memasuki usia SMA, kemudian secara terencana diwawancarai selama 13 tahun ke depan.
Dari penelitian ini terungkap, bahwa anak dewasa laki-laki dan perempuan yang memiliki orang renta kandung dengan duduk perkara kriminal dan pernah berurusan dengan polisi 4-5 kali, cenderung memiliki anak dengan sikap yang sama dibanding dengan orang renta kandung yang sama sekali tidak pernah berurusan dengan kepolisian.
"Anak-anak yang memiliki ayah biologis atau ibu kandung pernah bertindak kriminal, secara signifikan akan mengalami hal yang sama, dengan hukuman masa percobaan, beberapa kali dipenjara atau ditangkap," kata Kevin Beaver, penulis studi dan kriminologi.
Gen ini juga terlibat dalam perilaku kekerasan antisosial termasuk salah satu yang disebut MAO-A yang membuat enzim sebagai pemecah materi kimia dalam otak yang terkait dengan agresi.
Versi ekstrim dari MAO-A atau gen jenis lain, telah terbukti memiliki pengaruh berpengaruh ketika dipasangkan dengan perilaku anak yang bermasalah dalam pendidikan. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Biological Psychiatry. (art)
Tidak sekedar nakal, gen ini juga mampu membawa perilaku anak pada tindak kriminal.
Wassalam,
sumber:http://kosmo.vivanews.com/news/read/193241-ditemukan-gen-pembentuk-anak-kriminal
Selasa, 26 Desember 2017
Pahami Gaya Berkomunikasi Batita
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Bukan hal mudah untuk berkomunikasi secara efektif dengan anak. Komunikasi merupakan penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain, baik secara ekspresi (kata-kata) maupun nonverbal (gerak atau simbol).
Komunikasi dikatakan efektif jikalau pesan itu bisa dipahami oleh penerima. Komunikasi yang tidak efektif ditandai dengan pesan yang tidak nyambung, atau si peserta salah memahami pesan itu. Kasandra Oemarjadi, Psi., dari agen konsultasi Kasandra Persona Prawacana, mengatakan ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam hal berkomunikasi dengan anak batita:
KEMAMPUAN USIA BATITA
Kemampuan berbicara merupakan keterampilan mental-motorik. Dengan kata lain, bicara tidak hanya melibatkan fungsi otot bicara dan sekumpulan suara saja, tapi juga melibatkan fungsi mental adalah memahami arti dari suara yang dihasilkan. Inilah banyak sekali kemampuan berkomuikasi yang ditunjukkan anak batita:
* Bicara membeo.
Jika anak usia ini sering menggandakan kata yang diucapkan orang remaja atau anak lain ibarat halnya seekor burung beo, itu karena beliau gres bisa menggandakan suara tapi belum memiliki kemampuan mental komunikasi.
* Paham benda dan fungsinya gres secara konkret.
Misalnya gelas untuk minum atau pulpen untuk menulis. Ia belum bisa memahami kata-kata ajaib ibarat tanggung jawab atau stres.
* Perbendaharaan kata terbatas.
Anak batita awal atau pertengahan (12-18 bulan) malah mungkin belum bisa berkata-kata sama sekali. Itulah sebabnya, komunikasi yang kerap dilakukan anak usia ini bersifat nonverbal.
* Berperilaku tak terduga.
Keterbatasan si batita berkomunikasi secara ekspresi memunculkan banyak perilaku tak disangka-sangka. Misalnya melaksanakan protes dengan cara mengganggu orang tuanya yang sedang membaca koran karena sibuk sendiri dan tidak memperhatikan dirinya.
* Daya tangkapnya belum sebaik anak prasekolah atau sekolah.
Tak heran banyak anak galau ketika mendapat larangan maupun perintah yang merupakan membuktikan beliau belum mengerti secara utuh ucapan orang tuanya.
* Meski sudah bisa bicara, bukan berarti sudah paham benar arti dan penggunaan kata-kata. Contohnya, "bola" bukan sebagai bola yang bentuknya bundar saja, melainkan untuk semua mainannya. Atau menyebut "teh" untuk semua minuman.
* Hanya bisa menangkap pesan-pesan singkat.
Agar anak tidak bingung, orang renta harus membatasi diri pada ungkapan "ya" sebagai tanda baiklah dan "tidak" sebagai larangan.
Semoga bermanfaat, wassalam
Senin, 25 Desember 2017
Boleh Nggak Anak Pakai Kalkulator?
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Kalkulator bisa menjadi alat bantu, bisa juga membuat otak tumpul. Kapan waktu yang sempurna membolehkan anak memakai alat canggih ini?
"Ma... saya pusing nih. Banyak banget PR matematikanya! Hitungannya banyak lagi. Boleh nggak, saya pakai kalkulator biar ngerjainnya cepat?" pinta Anggia (10 tahun).
"Lho, kau kan gres kelas 4, belum boleh pakai kalkulator. Nanti otak kau jadi tumpul bila ngitung pakai kalkulator," terang Samira (35 tahun).
"Yaah, Mama kuno deh. Teman-teman bila di rumah boleh sama mamanya pakai kalkulator," sungut Angia.
***
Penggunaan alat bantu menyerupai kakulator hingga sekarang masih jadi materi pertentangan. Banyak orangtua serta sekolah yang melarang muridnya membawa alat itu ke dalam kelas. Tapi ada juga yang mengizinkan. Menurut pihak yang tidak mengizinkan, mereka mengatakan kalkulator bisa berdampak negatif, misalnya anak jadi malas, dan bikin otak jadi tumpul. Anak jadi tidak berlatih berpikir dengan otaknya. Apa-apa tinggal pencet tombol kalkulator. Perhitungan penjumlahan, perkalian, pembagian, akar, pecahan, persentasi, pribadi tampak di layar tanpa harus memutar otak lebih keras.
Henny Eunike Wirawan, psikolog di Universitas Tarumanagara Jakarta mengatakan, pengajaran matematika bagi kelas 1-3 gres sebatas pengenalan konsep, terutama untuk anak kelas 1. Kemudian, barulah anak diajarkan untuk memahami konsep, selanjutnya mengaplikasikan konsep. Karena itu untuk tahap awal, anak harus benar-benar kenal segala hal yang berkaitan dengan angka. Termasuk operasi matematika menyerupai tambah, kurang, kali, dan bagi. "Supaya bisa menguasai konsep dasar, anak harus mengerjakan sendiri tugas-tugasnya dengan cara manual, tanpa alat bantu."
Cara pengenalan secara manual ini menurut Henny lebih efektif daripada menggunakan alat bantu. Sebab bila memakai alat bantu, anak akan dengan mudah mengalami ketergantungan dengan benda tersebut. Khususnya kalkulator. "Tanpa kalkulator, bisa-bisa anak tidak bisa mengerjakan tugasnya. Kalaupun bisa, tentunya sangat lambat, alasannya yakni mereka tidak terbiasa melaksanakan perhitungan sederhana sekalipun. Dengan begitu potensi budi matematika anak menjadi tumpul, alasannya yakni penggunaan alat bantu yang bekerjsama belum pada waktunya digunakan."
Di samping itu, terang Henny, penggunaan kalkulator di usia dini cenderung mendorong anak tidak terbiasa teliti dalam bekerja. "Kalkulator bisa saja membuat anak tidak mengerti konsep matematika. Akibatnya malah jadi tidak bisa matematika."
Tak Akan Gaptek
Jika ditilik dari segi positifnya, kalkulator bisa mempercepat proses kerja dan menghemat kertas hitung. "Anak tidak perlu menggunakan kertas coret-coretan dan berlama-lama mengerjakan tugas. Efeknya, lebih banyak acara di luar mengerjakan PR yang bisa dilakukan anak," papar Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi ini.
Namun lanjut Henny, ada baiknya kalkulator digunakan oleh anak yang lebih besar. Misal untuk anak kelas 1 SLTP atau lebih. "Anak yang lebih remaja sudah mengenal rumus yang akan digunakan dan aplikasinya pada hitungan tertentu. Makara penggunaan kalkulator benar-benar sebagai alat bantu, bukan sarana utama. Anak sendirilah yang menentukan perhitungan menyerupai apa yang harus dijalankannya."
Dalam perkuliahan sekalipun, tanpa mengerti proses perhitungan secara manual, kalkulator secanggih apapun tak ada gunanya. "Mahasiswa sekalipun mesti mengerti apa yang harus dilakukannya. Barulah, kalkulator digunakan untuk membantu proses perhitungan itu."
Mengenai kekhawatiran orangtua bahwa bila anak tak dikenalkan kalkulator, anak jadi gaptek (gagap teknologi), Henny membantahnya. "Tak perlu khawatir si kecil dikatakan gaptek. Kecanggihan kalkulator bisa dipelajari dalam waktu cepat, asalkan hal-hal yang mendasar sudah dikuasai dengan baik."
Sempoa, Boleh Nggak?
Sempoa sudah ada jauh sebelum kalkulator ada. Hanya saja, gres mulai populer lagi belakangan ini. Penggunaan sempoa pada prinsipnya membantu anak untuk menyeimbangkan otak kiri dan kanan, supaya kedua belahan otak berfungsi secara optimal.
Tapi menurut Henny, seandainya mau digunakan sebagai alat bantu berhitung, seyogyanya penggunaan sempoa dipertimbangkan kembali. Sebab fungsi sempoa menyerupai kalkulator. "Kecuali bila si anak sudah sangat menguasai sempoa, sehingga bisa melaksanakan perhitungan cara sempoa cukup dengan menggunakan jari tangan. "Jadi, metodenya yang diadaptasi, tanpa perlu membawa alatnya ke dalam kelas." (Esi)
Wassalam.
Tips Mengenalkan Arti Bahaya Pada Anak
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Diperlukan cara komunikasi yang sempurna untuk menunjukkan penjelasan selengkap mungkin mengenai apa itu bahaya, bukan hanya sekadar melarang. Ada beragam ancaman yang mungkin bakal ditemui anak di lingkungannya.
Komunikasikan dengan bahasa yang sederhana dan sediakan waktu yang cukup untuk menjelaskannya, jangan terburu-buru. Namun penjelasan dengan kata-kata saja tidaklah cukup, harus disertai pola nyata. Melalui pola itulah anak akan mencar ilmu eksklusif mencicipi sesuatu yang membahayakan dirinya.
Namun, orang renta harus hati-hati dalam memilih pola positif tersebut. Jika membahayakan ibarat panasnya api, tak perlulah ia bersentuhan eksklusif karena dikhawatirkan malah membuatnya cedera dan trauma.
Berikut tips mengenalkan arti ancaman pada anak:
1. Jelaskan kekerabatan sebab-akibat yang mungkin timbul.
Selain dapat membuat anak memahami bahwa sesuatu yang dilarang ini memang dapat membahayakan dirinya, juga sekaligus dapat menyebarkan kemampuan kognitifnya untuk mempelajari kekerabatan sebab-akibat. Dalam mengenalkan api, misal, berikan penjelasan perihal jawaban yang ditimbulkan. "Api ini berbahaya karena panas. Saking panasnya, kalau terkena api dapat menimbulkan luka bakar di kulit. Permukaan kulit akan menggelembung ibarat balon dan berisi air, rasanya perih dan sakit."
2. Ajak anak untuk mencoba langsung.
Untuk lebih memahami rasa panas itu, ajak anak ke dapur. Minta ia memegang pinggiran kompor sebentar atau memegang tempe goreng yang masih panas dan gres saja diangkat dari penggorengan. Cara ini untuk pertanda secara positif akan rasa panas. Sambil memegang pinggiran kompor atau tempe goreng, berikan penjelasan. Contoh, "Coba, deh, pegang pinggiran kompor ini. Panas, kan? Api itu lebih panas lagi." Atau, "Coba pegang tempe yang gres saja Mama angkat. Panas enggak? Panas api kompor itu bisa membuat minyak goreng jadi panas, lo, sampai-sampai makanan mentah jadi matang. Tempe yang Mama goreng tadi masih panas, kan, walau sudah diangkat dari minyak goreng? Jadi, jangan main dengan api, ya... berbahaya."
3. Minta anak mengungkapkan pendapatnya.
Setelah anak mencicipi langsung, minta ia mengungkapkan pendapatnya. Dengan demikian dapat diketahui, apakah si batita sudah memahami atau belum penjelasan yang gres saja disampaikan.
4. Ajari anak perihal pemberian yang harus ia lakukan kalau dirinya mengalami bahaya.
Untuk memudahkan pemahaman si batita, tentunya tak cukup dengan menunjukkan penjelasan tetapi sampaikan pula cara-cara yang harus dilakukan dengan konkret. Umpama, ketika anak terkena pisau. Praktikkan cara membersihkan lukanya berikut cara menunjukkan obatnya serta cara membalutnya kalau perlu. Dengan demikian, ketika tak ada yang mendampingi dan si batita nekad mencoba-coba, ia sudah bisa menolong diri sendiri. Tak perlu ragu anak tak akan bisa melakukan, karena si batita sudah semestinya bisa menolong dirinya.
Semoga bermanfaat, wassalam
sumber: Utami Sri Rahayu.
Foto: Iman/nakita
Diperlukan cara komunikasi yang sempurna untuk menunjukkan penjelasan selengkap mungkin mengenai apa itu bahaya, bukan hanya sekadar melarang. Ada beragam ancaman yang mungkin bakal ditemui anak di lingkungannya.
Komunikasikan dengan bahasa yang sederhana dan sediakan waktu yang cukup untuk menjelaskannya, jangan terburu-buru. Namun penjelasan dengan kata-kata saja tidaklah cukup, harus disertai pola nyata. Melalui pola itulah anak akan mencar ilmu eksklusif mencicipi sesuatu yang membahayakan dirinya.
Namun, orang renta harus hati-hati dalam memilih pola positif tersebut. Jika membahayakan ibarat panasnya api, tak perlulah ia bersentuhan eksklusif karena dikhawatirkan malah membuatnya cedera dan trauma.
Berikut tips mengenalkan arti ancaman pada anak:
1. Jelaskan kekerabatan sebab-akibat yang mungkin timbul.
Selain dapat membuat anak memahami bahwa sesuatu yang dilarang ini memang dapat membahayakan dirinya, juga sekaligus dapat menyebarkan kemampuan kognitifnya untuk mempelajari kekerabatan sebab-akibat. Dalam mengenalkan api, misal, berikan penjelasan perihal jawaban yang ditimbulkan. "Api ini berbahaya karena panas. Saking panasnya, kalau terkena api dapat menimbulkan luka bakar di kulit. Permukaan kulit akan menggelembung ibarat balon dan berisi air, rasanya perih dan sakit."
2. Ajak anak untuk mencoba langsung.
Untuk lebih memahami rasa panas itu, ajak anak ke dapur. Minta ia memegang pinggiran kompor sebentar atau memegang tempe goreng yang masih panas dan gres saja diangkat dari penggorengan. Cara ini untuk pertanda secara positif akan rasa panas. Sambil memegang pinggiran kompor atau tempe goreng, berikan penjelasan. Contoh, "Coba, deh, pegang pinggiran kompor ini. Panas, kan? Api itu lebih panas lagi." Atau, "Coba pegang tempe yang gres saja Mama angkat. Panas enggak? Panas api kompor itu bisa membuat minyak goreng jadi panas, lo, sampai-sampai makanan mentah jadi matang. Tempe yang Mama goreng tadi masih panas, kan, walau sudah diangkat dari minyak goreng? Jadi, jangan main dengan api, ya... berbahaya."
3. Minta anak mengungkapkan pendapatnya.
Setelah anak mencicipi langsung, minta ia mengungkapkan pendapatnya. Dengan demikian dapat diketahui, apakah si batita sudah memahami atau belum penjelasan yang gres saja disampaikan.
4. Ajari anak perihal pemberian yang harus ia lakukan kalau dirinya mengalami bahaya.
Untuk memudahkan pemahaman si batita, tentunya tak cukup dengan menunjukkan penjelasan tetapi sampaikan pula cara-cara yang harus dilakukan dengan konkret. Umpama, ketika anak terkena pisau. Praktikkan cara membersihkan lukanya berikut cara menunjukkan obatnya serta cara membalutnya kalau perlu. Dengan demikian, ketika tak ada yang mendampingi dan si batita nekad mencoba-coba, ia sudah bisa menolong diri sendiri. Tak perlu ragu anak tak akan bisa melakukan, karena si batita sudah semestinya bisa menolong dirinya.
Semoga bermanfaat, wassalam
sumber: Utami Sri Rahayu.
Foto: Iman/nakita
Minggu, 24 Desember 2017
Anak Indonesia Meraih Juara 1, Sun Golden Lykia World Oludeniz Folk Dance Competition, Turki
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Alhamdulillah, kembali Anak Indonesia menjadi juara pertama dalam ekspo tari anak internasional di 4th International Children Festival (Sun Golden Lykia World Oludeniz Folk Dance Competition) yang berlangsung di Fethiye, Mugla, Turki pada 24 April 2011.
Festival dan kompetisi ini dilaksanakan untuk memperingati hari anak nasional di Turki yang jatuh pada tanggal 23 April. Selama sembilan hari, ratusan bawah umur dari seluruh dunia, mengikuti rangkaian acara untuk merayakan hari anak ini.
Kompetisi ini diikuti 16 grup dari 14 negara. Negara yang ikut bertanding dalam kompetisi tersebut diantaranya Turki, Azebaijan, Moldova, Rusia, Lithuania, India, Kazakhstan, Inggris, Georgia, Ukraina, Kenya, Siera Leone. Kompetisi tari tradisional sendiri berlangsung di Fethiye City Center disaksikan ribuan orang dan pejabat setempat.
Tim Indonesia diwakili SD Islam Al Ikhlas Jakarta yang beranggotakan 27 penari berbakat dan berada di bawah pelatihan Sanggar Gema Citra Nusantara, pimpinan Ibu Mira Arismunandar, tampil memukau sampai menerima poin tertinggi dari akumulasi seluruh perhitungan dewan juri.
Tim juri yang berasal dari perwakilan masing-masing negara balasannya menobatkan Indonesia sebagai juara pertama dalam kompetisi ini. Juara kedua diraih Ukraina dan juara ketiga jatuh kepada Georgia.
Rulli Habibie, orang bau tanah murid SD Islam Al Ikhlas membenarkan info tersebut. “Saya senang sekali waktu dikabari Istri saya dari Turki. Bangga,” katanya.
Anak Rully, Mohammad Rafid Habibie (10) dan Mazaya Rafina Habibie (10) telah berlatih selama lima bulan untuk mengikuti kompetisi ini.
Menurut Rully, anaknya membawakan tari Piring untuk kategori lelaki, dan tari Saman untuk kategori perempuan. “Tari Saman itu paling ditunggu-tunggu oleh orang sana,” katanya.
Luarbiasa! Semoga menyusul bawah umur Indonesia yang lain, InsyaAllah
Wassalam,
------------------------------------------
Sumber: http://indonesiaproud.wordpress.com/
Alhamdulillah, kembali Anak Indonesia menjadi juara pertama dalam ekspo tari anak internasional di 4th International Children Festival (Sun Golden Lykia World Oludeniz Folk Dance Competition) yang berlangsung di Fethiye, Mugla, Turki pada 24 April 2011.
Festival dan kompetisi ini dilaksanakan untuk memperingati hari anak nasional di Turki yang jatuh pada tanggal 23 April. Selama sembilan hari, ratusan bawah umur dari seluruh dunia, mengikuti rangkaian acara untuk merayakan hari anak ini.
Kompetisi ini diikuti 16 grup dari 14 negara. Negara yang ikut bertanding dalam kompetisi tersebut diantaranya Turki, Azebaijan, Moldova, Rusia, Lithuania, India, Kazakhstan, Inggris, Georgia, Ukraina, Kenya, Siera Leone. Kompetisi tari tradisional sendiri berlangsung di Fethiye City Center disaksikan ribuan orang dan pejabat setempat.
Tim Indonesia diwakili SD Islam Al Ikhlas Jakarta yang beranggotakan 27 penari berbakat dan berada di bawah pelatihan Sanggar Gema Citra Nusantara, pimpinan Ibu Mira Arismunandar, tampil memukau sampai menerima poin tertinggi dari akumulasi seluruh perhitungan dewan juri.
Tim juri yang berasal dari perwakilan masing-masing negara balasannya menobatkan Indonesia sebagai juara pertama dalam kompetisi ini. Juara kedua diraih Ukraina dan juara ketiga jatuh kepada Georgia.
Rulli Habibie, orang bau tanah murid SD Islam Al Ikhlas membenarkan info tersebut. “Saya senang sekali waktu dikabari Istri saya dari Turki. Bangga,” katanya.
Anak Rully, Mohammad Rafid Habibie (10) dan Mazaya Rafina Habibie (10) telah berlatih selama lima bulan untuk mengikuti kompetisi ini.
Menurut Rully, anaknya membawakan tari Piring untuk kategori lelaki, dan tari Saman untuk kategori perempuan. “Tari Saman itu paling ditunggu-tunggu oleh orang sana,” katanya.
Luarbiasa! Semoga menyusul bawah umur Indonesia yang lain, InsyaAllah
Wassalam,
------------------------------------------
Sumber: http://indonesiaproud.wordpress.com/
Sabtu, 23 Desember 2017
Tip Memilih Tipe Gendongan Bayi Yang Nyaman
Assalamualikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Membawa bayi beraktifitas di luar rumah menyerupai berbelanja dan berjalan-jalan membutuhkan alat gendong yang nyaman. Bagaimana tidak, membawa bayi berjalan tanpa gendongan bayi dengan waktu yang tidak sebentar mampu sangat melelahkan untuk orangtua. Bayi sangat senang berada dalam gendongan orangtua sambil berjalan-jalan. Tapi jikalau orangtua merasa kelelahan, ini tidak nyaman juga untuk bayi.
Memilih gendongan bayi memang gampang-gampang susah. Bukan hanya model yang bagus, tapi juga fungsinya yang harus diadaptasi dengan kebutuhan. Bayi usia 0 hingga 3 bulan hanya membutuhkan gendongan bayi berbentuk selendang atau sling, alasannya ialah tubuhnya masih relatif kecil dan tidak banyak bergerak.
Sementara untuk bayi yang sudah lebih besar dan dapat menegakkan kepalanya membutuhkan gendongan bayi yang lebih berpengaruh dan sesuai dengan kebutuhan, menyerupai pada gendongan bayi berbentuk ransel. Alat gendongan menyerupai ini memiliki dua metode yaitu menghadap depan dan menghadap belakang. Lalu mana yang lebih nyaman untuk orang renta dan bayi?
Gendongan bayi depan, selain memudahkan orang renta menjaga dan berkomunikasi dengan bayi, juga menyenangkan untuk bayi cemerlang. Bayi cemerlang terlihat dari semangatnya untuk melihat dan mendengar segala hal yang ia temui. Dengan gendongan bayi depan ini bayi dapat dengan leluasa menikmati dunia di sekelilingnya.
Ini menunjukkan kesempatan orangtua untuk mendidik bayi mengenali objek-objek gres di luar rumah. Sementara dengan gendongan bayi belakang orangtua jadi lebih leluasa menggunakan kedua tangannya untuk melaksanakan hal lain menyerupai membawa tas misalnya.
Ukuran gendongan bayi biasanya diadaptasi dengan berat tubuh bayi. Gendongan bayi depan biasanya untuk bayi dengan berat tubuh hingga 9 kilogram, dan untuk bayi dengan berat tubuh lebih dari itu alat gendong belakang sepertinya lebih nyaman untuk orangtua. Karena punggung dan pundak orangtua lebih berpengaruh menanggung beban bayi dari pada tubuh bab depan.
Faktor lain yang mensugesti kenyamanan gendongan bayi ialah ukuran tali gendongan. Jika tali gendongan bayi cukup berpengaruh dan lebar maka ini tidak akan menyakiti pundak orangtua sekaligus nyaman untuk bayi. Selain itu, penjepit tali gendongan yang mudah dipasang atau dibuka dan berpengaruh menyangga beban bayi akan memudahkan orangtua untuk menyesuaikan tubuh bayi untuk menerima posisi yang paling nyaman.
Pada risikonya kegiatan memilih gendongan bayi tidak hanya bertumpu pada selera dan model depan atau belakang, tapi juga pada ukuran serta kenyamanan orangtua dan bayi. Perlu diingat juga ada kereta dorong bayi sebagai perlengkapan bayi bila anda memiliki dana lebih.
Semoga bermanfaat, wassalam.
---------------------------
http://nama-bayi.net/tipe-gendongan-bayi-yang-nyaman.html
Jumat, 22 Desember 2017
Mencegah Gigi Keropos Pada Anak
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Gigi merupakan gambaran kesehatan badan seorang anak. Pada anak tertentu, gigi bisa rapuh atau mudah keropos meski rajin sikat gigi dan menjaga makanan. Konon kondisi ini ada hubungannya dengan keturunan.
Gigi ialah salah satu alat bantu pencernaan, yang juga merupakan pintu masuk dari seluruh kuman-kuman dan basil dari luar tubuh. Oleh karena itu, kesehatan lisan dan gigi, sangat penting untuk dilakukan. Hanya saja, belum dewasa sering mengalami banyak sekali keluhan, misalnya gigi berlubang, gusi berdarah dan juga gigi keropos.
Gigi keropos, menurut drg. Risqa Rina Darwita, Ph.D., sebetulnya bisa terjadi pada siapa saja. "Pada anak-anak, umumnya pada dikala mereka masih memiliki gigi susu," terang Dosen di Fakultas Kedokteran Kesehatan Gigi Universitas Indonesia, Jakarta ini. Yang paling sering terjadi, keroposnya gigi balita, akhir banyaknya plak yang menumpuk akhir banyaknya sisa susu yang menempel pada gigi.
Anak-anak yang suka memakan makanan yang manis-manis atau permen, dan diperparah dengan kurangnya orangtua memperhatikan kebersihan gigi si kecil, menyebabkan gigi menjadi mudah berlubang bahkan keropos. "Gigi susu yang keropos ini, nantinya masih bisa diganti dengan gigi tetap." Hanya saja pada beberapa anak yang telah mempunyai gigi tetap, ada yang tetap mengalami gigi keropos, meski rajin sikat gigi dan menghindari makanan yang manis-manis.
Kerusakan Struktur Gigi
Secara struktur, gigi terdiri dari mahkota gigi, akar gigi, dan leher gigi yang ditutupi oleh gusi. "Semua episode rongga lisan tersebut, apabila tidak dipelihara dengan baik akan mudah terserang oleh penyakit," terangnya. Terjadinya gigi keropos, lanjut Risqa, secara kedokteran disebut dengan Radang gigi Gangraena Pulpa atau Pulpitis.
Kekeroposan ini, terjadi akhir adanya kerusakan pada struktur gigi yang berdampak pada email (lapisan keras yang melindungi gigi) dan lapisan terluar dari gigi, yang terus menjalar pada lapisan dentin dan pulpa. Secara umum, gigi keropos bisa terjadi akhir beberapa sebab. "Timbunan plak dari makanan dan kurang asupan kalsium dan mineral, bisa menimbulkan gigi keropos. Bahkan pada sebagian orang, gigi keropos juga bisa disebabkan oleh faktor keturunan," ungkapnya lagi.
Umumnya, gigi keropos banyak disebabkan oleh adanya plak yang tidak dibersihkan. "Plak yang tidak dibersihkan dari lapisan luar gigi, akan menjadi tempat berkumpulnya mikroorganisme, dimana mikroorganisme tersebut akan mengeluarkan zat yang bersifat asam." Plak terjadi akhir terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat (gula dan makanan yang mengandung perekat), menyerupai roti, sereal, susu, soda, buah-buahan, kue, atau permen yang tersisa pada gigi.
Bakteria yang tinggal di dalam lisan akan mencerna makanan-makanan ini, dan merubahnya menjadi acids (asam). Bakteria, asam, sisa makanan dan air liur yang menyatu pada plak, akan menempel dekat pada gigi. Asam yang dikeluarkan oleh plak, lama kelamaan akan mengikis lapisan lembut email pada gigi, dan menyebabkan timbulnya lubang pada gigi, yang disebut Calvities atau Caries. "Kekeroposan terjadi akhir zat asam yang menghancurkan jaringan lunak (misalnya gingiva)."
Mikroorganisme - salah satunya streptococcus Mutant - bersifat menghancurkan jaringan email, disamping itu mikroorganisme ini juga mendukung perubahan plak yang tidak dibersihkan, lama kelamaan bisa menjadi karang gigi. "Bila kondisi ini dibiarkan, maka kerusakan ini akan terus menjalar ke episode dentin dan pulpa," terangnya.
Bila kerusakan sudah mengenai dentin dan pulpa, apalagi jika sudah mengenai syaraf gigi yang menyebabkan gigi membusuk dan matinya syaraf pada gigi Gangraena atau Necrosis," terangnya. Bila syaraf gigi mati, maka lambat laun gigi akan runtuh sedikit demi sedikit dan menyebabkan gigi menjadi keropos. "Matinya syaraf gigi, juga berarti hilangnya fungsi gigi."
Unsur Penguat Gigi
Selain plak, gigi keropos juga bisa terjadi akhir kurangnya asupan fluor, yang bisa membantu gigi menjadi lebih kuat. "Saya pernah menemukan kasus dimana dalam satu masyarakat di tempat Kalimantan, mengalami gigi keropos," ungkap Risqa. Dari penelitian diketahui, ini terjadi akhir kurangnya asupan fluor (mineral). "Mereka minum dari air tadah hujan, yang tidak mengandung fluor," jelasnya.
Di lain pihak, gigi keropos pada anak-anak, bisa juga akhir adanya faktor keturunan. "Seorang ibu yang mempunyai gigi keropos, kemungkinan anaknya juga mengalami gigi keropos," paparnya. Sebab gen yang ikut terbawa pada bayi, bisa jadi gen yang kurang mengandung mineral dan kalsium dan menyebabkan anak juga mengalami kekurangan kalsium. "Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil untuk banyak mengkonsumsi kalsium dan mineral."
Kebutuhan kalsium dan mineral, lanjut Risqa, memang sangat dibutuhkan untuk memperkuat email gigi. "Kebutuhan ini, sebetulnya bisa dicukupi dengan meminum air yang mengandung mineral, asupan gizi yang cukup - terutama vitamin D, dan menggosok gigi dengan pasta gigi yang mengandung fluor." Vitamin D merupakan salah satu unsur pokok dalam metabolisme kalsium dan fosfor.
Jadi, usahakan belum dewasa cukup menerima vitamin D (dari sinar matahari pagi) setidaknya 10 mg per hari. Bila kebutuhan ini tidak terpenuhi, bisa jadi si kecil akan mengalami problem pada penguatan struktur gigi, akhir adanya gangguan mineralisasi pada struktur tulang dan gigi. Sehingga serajin apapun si kecil menggosok gigi dan menghindari makanan yang manis-manis, ia tetap akan mengalami gigi keropos akhir kurangnya unsur yang bisa memperkuat gigi.
Hindari Pencabutan
Sebenarnya, gigi keropos bisa terjadi pada siapa saja. Umumnya, gigi keropos banyak terjadi pada orang yang telah berusia lanjut (Manula). Sebab pada manula, semakin lama badan semakin kurang dapat menyerap fluoride. Namun Risqa tidak menutup kemungkinan adanya belum dewasa yang telah mengalami gigi keropos. "Kesehatan gigi, sangat dipengaruhi oleh kerajinan dan kedisiplinan anak dalam menggosok gigi," tegasnya.
Pada belum dewasa yang telah mempunyai gigi keropos, Risqa menyarankan untuk segera di bawa ke dokter gigi untuk diperiksa. "Pemeriksaan ini diharapkan untuk mengetahui penyebab mengapa gigi menjadi keropos." Bila penyebab gigi keropos disebabkan adanya plak atau karang gigi, maka biasanya dokter akan menyarankan untuk melaksanakan pembersihan plak atau karang gigi tersebut. "Bila keroposannya masih dalam bentuk gigi berlubang, maka penambalan harus dilakukan di tempat yang berlubang."
Penanganan gigi keropos, terang Risqa, tidak selalu harus dilakukan dengan pencabutan - yang merupakan ketakutan paling besar bagi anak-anak. "Dalam penanganan gigi dikala ini, pencabutan gigi merupakan alternatif yang paling terakhir." Untuk memperbaiki gigi yang telah keropos, lanjutnya, sebetulnya bisa dilakukan dengan memperlihatkan mahkota pada permukaan gigi. "Mahkota ini nantinya akan mengganti lapisan gigi yang telah keropos."
Kecuali, jika gigi yang keropos tersebut sudah sangat parah karena mulai membusuk dan syarafnya sudah mulai mati (necrosis), mau tidak mau gigi tersebut harus dicabut. Gigi yang berlubang atau yang telah membusuk harus segera ditangani, tuturnya, alasannya ialah jika tidak akan mengganggu kesehatan - bukan saja pada kesehatan di sekitar lisan (seperti sariawan), tapi juga pada anggota badan lainnya.
Gigi merupakan gambaran dari kesehatan badan kita. Seseorang bisa saja terkena hipertensi, penyakit jantung atau lainnya, hanya karena ia memiliki gigi berlubang atau gigi yang telah membusuk. "Kesehatan tubuh, bisa diakibatkan oleh adanya gangguan pada gigi, begitu juga sebaliknya. Karena badan merupakan satu kesatuan, yang saling terkait dengan unsur badan lainnya. Jadi, jangan anggap sepele kesehatan gigi ya," sarannya.
Tips Mencegah Gigi Keropos :
1. Gosoklah gigi sekurangnya dua kali sehari dengan pasta gigi yang mengandung fluoride. Terutama, setelah makan dan sebelum tidur.
2. Bila perlu, setiap seminggu sekali lakukan kumur-kumur dengan obat kumur yang bisa membantu mencegah terjadinya plak dan karang gigi.
3. Sikatlah gigi dengan baik dan benar, yaitu dengan menjangkau ke seluruh permukaan gigi dan sela-sela gigi.
4. Sikatlah gigi dengan tekanan yang sedang, tekanan yang terlalu keras akan menimbulkan email gigi rusak, begitu juga jika terlalu lunak yang bisa menyebabkan gigi kurang bersih.
5. Kalau perlu, pergunakanlah dental floss atau benang gigi untuk membantu membersihkan sisa-sisa makanan yang terselip pada sela-sela gigi.
6. Makanlah makanan yang bergizi dan seimbang. Hindari terlalu banyak memakan makanan yang mengandung karbohidrat, menyerupai permen atau makanan bertepung yang sisanya dapat melekat pada gigi.
7. Hindari penggunaan pasta gigi yang unsur fluoridenya terlalu rendah atau pun terlalu tinggi. Terlalu banyak fluoride, bisa menimbulkan kerusakan gigi dan keracunan.
8. Minumlah air yang mengandung fluor atau mineral.
9. Lakukan pemeriksaan gigi setiap 6 bulan sekali, dan lakukan pembersihan plak dan karang gigi secara rutin.
Pertahankan Keasaman Gigi
Menyikat gigi secara rutin, terang drg. Risqa Rina Darwita, Ph.D., bisa menghindari menumpuknya sisa makanan pada gigi, yang bisa menyebabkan terjadinya plak atau karang gigi - yang bisa menyebabkan gigi lambat laun menjadi keropos. Namun, Risqa juga menganjurkan untuk tidak terlalu cepat menggosok gigi setelah kita mengkonsumsi makanan.
"Mulut kita, sebetulnya membutuhkan keasaman (pH) tertentu, yaitu pH 7," terangnya. Pada dikala lisan kita mengunyah makanan, pH di dalam lisan lambat laun akan turun sampai mencapai pH kritis, yaitu 5,5. "Untuk mencapai pH yang normal, memerlukan waktu sampai mencapai 20-30 menit. "Bila kita terlalu sering ngemil, maka lambat laun gigi akan mudah keropos. Hal ini disebabkan oleh keasaman di dalam mulut, yang tidak normal."
Begitu juga pada belum dewasa yang pribadi menggosok gigi sehabis makan, karena dikala kita menggosok gigi keasaman dalam lisan pun menurun. "Oleh alasannya ialah itu sebaiknya kita gres menggosok gigi, sekitar 20-30 menit setelah makan. Sehingga pH gigi pun, bisa tetap terjaga. "Saya menyarankan untuk lebih banyak berkumur dari pada menggosok gigi, alasannya ialah umumnya kita menggosok gigi dengan menggunakan pasta gigi," sarannya.
Pasta gigi, meski mengandung fluoride yang dibutuhkan gigi, namun juga mengandung deterjen (terlihat pada efek busa dikala menggosok gigi). Padahal, deterjen tersebut juga tidak baik pengaruhnya pada gigi. "Dengan berkumur, sebetulnya kotoran dan sisa-sisa makanan pada gigi sudah terbuang. Atau kita juga bisa menyikat gigi dengan sikat gigi, tanpa harus menggunakan pasta gigi terlalu sering." (Rahmi)
Wassalam
sumber: nakita
Kamis, 21 Desember 2017
Bijaklah Menghadapi Anak Yang Tidak Naik Kelas/Tidak Lulus Ujian?
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Kata-kata "Tidak naik kelas atau tidak lulus" sekarang ini menjadi kata-kata yang paling dicemaskan dan ditakuti oleh para pelajar juga orang tuanya. Lalu bagaimana bila hal tersebut benar terjadi pada anak kita? Panik atau marah kepada anak? Tentunya sikap tersebut akan menambah beban pada anak kita bahkan bisa menimbulkan anak kita stress? Lalu bagaimana?
Menghadapi hal tersebut memang tidak mudah, diperlukan kesabaran dan pengertian orang bau tanah untuk memahami apa yang terjadi pada anak kita. Sering kita mendengar pepatah bijak," KEGAGALAN yakni KESUKSESAN yang TERTUNDA!!!" Menurut saya, pepatah itu benar adanya, alasannya yakni gagal kemarin, masih ada hari ini dan hari esok. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan biar lebih baik dari dari kemarin. Lagipula kesuksesan seseorang, tidak hanya ditentukan oleh akademik saja. Masih banyak bakat-bakat anak kita yang lain, menyerupai bakat olah raga, musik, melukis atau bisnis.
Ada pepatah bijak lain,"Kemarin yakni sejarah, esok yakni misteri, namun hari ini yakni anugerah". Benar, alasannya yakni salah satu anugerah dalam hidup yakni kehadiran bawah umur kita di dunia ini. Akankah kita kecewa dengan anugerah yang diberikan Yang Mahakuasa kepada kita. Sebagai orang bau tanah haruslah kita menyadari bahwa di dalam proses perkembangan anak, tentu tak semuanya akan berjalan mulus atau sesuai dengan kehendak orangtua, bahkan kehendak anak sendiri. Bila menemui hambatan, apa salahnya kalau kita memperbaikinya.
Berikut beberapa tips yang bisa membantu:
Semoga bermanfaat, wassalam.
Kata-kata "Tidak naik kelas atau tidak lulus" sekarang ini menjadi kata-kata yang paling dicemaskan dan ditakuti oleh para pelajar juga orang tuanya. Lalu bagaimana bila hal tersebut benar terjadi pada anak kita? Panik atau marah kepada anak? Tentunya sikap tersebut akan menambah beban pada anak kita bahkan bisa menimbulkan anak kita stress? Lalu bagaimana?
Menghadapi hal tersebut memang tidak mudah, diperlukan kesabaran dan pengertian orang bau tanah untuk memahami apa yang terjadi pada anak kita. Sering kita mendengar pepatah bijak," KEGAGALAN yakni KESUKSESAN yang TERTUNDA!!!" Menurut saya, pepatah itu benar adanya, alasannya yakni gagal kemarin, masih ada hari ini dan hari esok. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan biar lebih baik dari dari kemarin. Lagipula kesuksesan seseorang, tidak hanya ditentukan oleh akademik saja. Masih banyak bakat-bakat anak kita yang lain, menyerupai bakat olah raga, musik, melukis atau bisnis.
Ada pepatah bijak lain,"Kemarin yakni sejarah, esok yakni misteri, namun hari ini yakni anugerah". Benar, alasannya yakni salah satu anugerah dalam hidup yakni kehadiran bawah umur kita di dunia ini. Akankah kita kecewa dengan anugerah yang diberikan Yang Mahakuasa kepada kita. Sebagai orang bau tanah haruslah kita menyadari bahwa di dalam proses perkembangan anak, tentu tak semuanya akan berjalan mulus atau sesuai dengan kehendak orangtua, bahkan kehendak anak sendiri. Bila menemui hambatan, apa salahnya kalau kita memperbaikinya.
Berikut beberapa tips yang bisa membantu:
- Saat anak hendak mau melihat hasil kelulusannya, berilah pelukan pada anak dengan memperlihatkan pesan terhadap anak untuk tetap tenang, berdoa. Katakan," Tidak usah takutdan kecewa, bila tidak lulus. Sebab, kegagalan merupakan keberhasilan yang tertunda!"
- Tumbuhkan keyakinan untuk membantu sang anak memupuk keyakinannya. Yakinkan pada anak kalau beliau bukanlah anak yang "bodoh" hanya gara-gara tinggal kelas. Tetap tunjukkan penghargaan Anda pada usaha anak, walaupun kali ini ia gagal meraih kesuksesannya.
- Evaluasi kembali apa penyebab anak tidak naik kelas. Apaka memang pengaruh lingkungan di sekolah lama sangat buruk, dan kalau itu penyebabnya sebaiknya anak memang pindah sekolah saja.
- Support semangat mencar ilmu kembali, seperti: mencar ilmu bersama (sesibuk apapun kita), mengikutkan les/bimbingan mencar ilmu yang ada, asalkan memang itu menjadi kebutuhannya untuk meningkatkan kemampuan akademis.
- Katakan dan terapkan pada referensi pikir anak kita,"TIDAK ADA KATA TERLAMBAT". Segalanya bisa terjadi bila terus berusaha. Karena, kesuksesan tak akan tercapai bila tak pernah terjadi kesalahan sebelumnya. Ajarkan selalu kepada anak, untuk mencar ilmu dari kegagalannya. Jangan meratapi tetapi segeralah berdiri kembali!
Semoga bermanfaat, wassalam.
Rabu, 20 Desember 2017
Dampak Negatif Mengancam Anak
Assalamaualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Mengancam supaya anak patuh yakni salah satu bentuk paksaan yang identik dengan sikap otoriter. Tentunya sikap ini sangat tidak dianjurkan dalam mendidik anak. Anak yang terdidik dengan contoh didik adikara akan tumbuh dengan kepribadian hasil bentukan orang bau tanah alias tidak natural. Akibatnya mungkin saja potensi anak yang lain, yang bergotong-royong bisa menjadi besar, malah terpendam begitu saja.
Selain itu, kepatuhan anak ketika melaksanakan apa yang diminta pun bukan alasannya yakni kesadaran melainkan alasannya yakni ketakutan yang muncul dalam dirinya. Alhasil anak tidak memahami alasan dari segala sesuatu yang harus ia lakukan. Seperti anak mandi alasannya yakni beliau takut didatangi polisi.
Bentuk-bentuk bahaya menyerupai ini, kata Any Reputrawaty, Psi., dari RS Persahabatan, Jakarta Timur, menyebabkan banyak dampak negatif pada anak, antara lain:
* Tidak mencerdaskan
Ancaman tidak membuat anak mengerti perihal apa yang harus beliau lakukan. Padahal mandi yakni acara membersihkan badan dari kotoran dan keringat yang bila dibiarkan membuat tubuhnya tidak nyaman. Dengan mandi anak bisa kembali bugar, sehat, sehingga bisa beraktivitas lebih baik. Nah, bila perintah mandi dibarengi dengan bahaya tentu hal ini tidak akan mencerdaskan anak. Dia mematuhinya semata-mata alasannya yakni takut bukan alasannya yakni tahu alasan yang sebenarnya.
* Membangkang
Jika kepatuhan anak dilandasi rasa takut terhadap ancaman, maka di ketika sumber ketakutan itu tidak ada, kepatuhannya sangat mungkin berganti dengan ketidakpatuhan. Saat ia
hanya didampingi pengasuh misalnya, sangat sulit memintanya melaksanakan acara rutin, menyerupai mandi, makan, dan beristirahat. Berarti apa yang selama ini dilakukan tidak berjalan efektif.
Tak jarang anak mencari alternatif pelepasan emosinya di daerah lain. Bila di rumah tidak bisa, mungkin beliau akan melakukannya di playgroup, di rumah tetangga, di rumah nenek, dan lainnya, dimana beliau tidak menemukan sosok orang tuanya.
* Hubungan dengan orang bau tanah tidak lekat
Ancaman seringkali sangat seram buat anak. Apalagi bila mimik yang ditunjukkan orang bau tanah tampak begitu mengerikan. Dampaknya, mungkin saja anak merasa orang tuanya sendiri yang menjadi ancaman. Bila ini terjadi tentu akan sangat merugikan anak. Orang bau tanah sebagai pihak yang seharusnya paling erat dengan anak, menawarkan pengasuhan, pendidikan dan sumbangan justru menjadi sumber ketakutannya. Tentu saja, kondisi ini membuat kekerabatan anak dengan orang bau tanah renggang.
Bisa juga terjadi sebaliknya, anak semakin lekat dengan orang bau tanah alasannya yakni bahaya membuat anak merasa lingkungannya sangat tidak aman, ada genderuwo, ondel-ondel, orang gila, anjing galak, dan sebagainya. Tak mustahil anak akan selalu mengekor ke mana pun orang bau tanah pergi.
Makara kelekatan yang tumbuh merupakan bentuk ketergantungan yang didasari perasaan tidak aman.
* Penakut
Ketakutan yang sering dialami anak, mungkin saja akan membentuk langsung yang penakut. Anak selalu merasa tidak aman alasannya yakni ada bayang-bayang bahaya yang selalu saja terngiang di telinganya. Ketakutan yang berlebihan ini tentu akan menghambat pertumbuhan kreativitas anak alasannya yakni beliau tidak bisa menyebarkan kemampuannya secara optimal.
* Berpikir negatif
Seharusnya, anak didorong untuk memiliki konsep yang faktual terhadap hal-hal yang memang positif. Polisi misalnya, seharusnya tidak ditakuti alasannya yakni peran utamanya justru melayani masyarakat. Demikian juga dengan ondel-ondel dan badut, meskipun bentuknya mungkin terlihat gila bergotong-royong mereka diciptakan untuk menghibur, tidak layak untuk ditakuti. Namun alasannya yakni pembentukan citra negatif lewat bahaya dilakukan terus-menerus maka konsep berpikir anak mengenainya pun akan negatif.
Semoga bermanfaat, wassalam.
-------------------------------
sumber: nakita
Mengancam supaya anak patuh yakni salah satu bentuk paksaan yang identik dengan sikap otoriter. Tentunya sikap ini sangat tidak dianjurkan dalam mendidik anak. Anak yang terdidik dengan contoh didik adikara akan tumbuh dengan kepribadian hasil bentukan orang bau tanah alias tidak natural. Akibatnya mungkin saja potensi anak yang lain, yang bergotong-royong bisa menjadi besar, malah terpendam begitu saja.
Selain itu, kepatuhan anak ketika melaksanakan apa yang diminta pun bukan alasannya yakni kesadaran melainkan alasannya yakni ketakutan yang muncul dalam dirinya. Alhasil anak tidak memahami alasan dari segala sesuatu yang harus ia lakukan. Seperti anak mandi alasannya yakni beliau takut didatangi polisi.
Bentuk-bentuk bahaya menyerupai ini, kata Any Reputrawaty, Psi., dari RS Persahabatan, Jakarta Timur, menyebabkan banyak dampak negatif pada anak, antara lain:
* Tidak mencerdaskan
Ancaman tidak membuat anak mengerti perihal apa yang harus beliau lakukan. Padahal mandi yakni acara membersihkan badan dari kotoran dan keringat yang bila dibiarkan membuat tubuhnya tidak nyaman. Dengan mandi anak bisa kembali bugar, sehat, sehingga bisa beraktivitas lebih baik. Nah, bila perintah mandi dibarengi dengan bahaya tentu hal ini tidak akan mencerdaskan anak. Dia mematuhinya semata-mata alasannya yakni takut bukan alasannya yakni tahu alasan yang sebenarnya.
* Membangkang
Jika kepatuhan anak dilandasi rasa takut terhadap ancaman, maka di ketika sumber ketakutan itu tidak ada, kepatuhannya sangat mungkin berganti dengan ketidakpatuhan. Saat ia
hanya didampingi pengasuh misalnya, sangat sulit memintanya melaksanakan acara rutin, menyerupai mandi, makan, dan beristirahat. Berarti apa yang selama ini dilakukan tidak berjalan efektif.
Tak jarang anak mencari alternatif pelepasan emosinya di daerah lain. Bila di rumah tidak bisa, mungkin beliau akan melakukannya di playgroup, di rumah tetangga, di rumah nenek, dan lainnya, dimana beliau tidak menemukan sosok orang tuanya.
* Hubungan dengan orang bau tanah tidak lekat
Ancaman seringkali sangat seram buat anak. Apalagi bila mimik yang ditunjukkan orang bau tanah tampak begitu mengerikan. Dampaknya, mungkin saja anak merasa orang tuanya sendiri yang menjadi ancaman. Bila ini terjadi tentu akan sangat merugikan anak. Orang bau tanah sebagai pihak yang seharusnya paling erat dengan anak, menawarkan pengasuhan, pendidikan dan sumbangan justru menjadi sumber ketakutannya. Tentu saja, kondisi ini membuat kekerabatan anak dengan orang bau tanah renggang.
Bisa juga terjadi sebaliknya, anak semakin lekat dengan orang bau tanah alasannya yakni bahaya membuat anak merasa lingkungannya sangat tidak aman, ada genderuwo, ondel-ondel, orang gila, anjing galak, dan sebagainya. Tak mustahil anak akan selalu mengekor ke mana pun orang bau tanah pergi.
Makara kelekatan yang tumbuh merupakan bentuk ketergantungan yang didasari perasaan tidak aman.
* Penakut
Ketakutan yang sering dialami anak, mungkin saja akan membentuk langsung yang penakut. Anak selalu merasa tidak aman alasannya yakni ada bayang-bayang bahaya yang selalu saja terngiang di telinganya. Ketakutan yang berlebihan ini tentu akan menghambat pertumbuhan kreativitas anak alasannya yakni beliau tidak bisa menyebarkan kemampuannya secara optimal.
* Berpikir negatif
Seharusnya, anak didorong untuk memiliki konsep yang faktual terhadap hal-hal yang memang positif. Polisi misalnya, seharusnya tidak ditakuti alasannya yakni peran utamanya justru melayani masyarakat. Demikian juga dengan ondel-ondel dan badut, meskipun bentuknya mungkin terlihat gila bergotong-royong mereka diciptakan untuk menghibur, tidak layak untuk ditakuti. Namun alasannya yakni pembentukan citra negatif lewat bahaya dilakukan terus-menerus maka konsep berpikir anak mengenainya pun akan negatif.
Semoga bermanfaat, wassalam.
-------------------------------
sumber: nakita
Selasa, 19 Desember 2017
Brain Game Kreatif AKU SIAPA?, Untuk Anak TK
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Game ini berkhasiat untuk meningkatkan daya ingat lho. Yuk .. bermain game yuuuk ..
Game ini berkhasiat untuk meningkatkan daya ingat lho. Yuk .. bermain game yuuuk ..
Senin, 18 Desember 2017
Penyebab Umum Bayi Susah Tidur
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Tidur merupakan salah satu faktor tumbuh kembang bayi. Dimana dikala bayi tidur semua otot-otot bekerja sesuai dengan kedudukannya. Membuat tidur bayi itu tidak mudah, banyak hal yang harus kita lakukan. Kadang tidur pada bayi kurang maksimal, ada saja hal-hal yang membuat mereka terganggu pada dikala tidur sehingga membuat bayi susah tidur alias rewel.
Berikut penyebab umum bayi susah tidur:
Tidur merupakan salah satu faktor tumbuh kembang bayi. Dimana dikala bayi tidur semua otot-otot bekerja sesuai dengan kedudukannya. Membuat tidur bayi itu tidak mudah, banyak hal yang harus kita lakukan. Kadang tidur pada bayi kurang maksimal, ada saja hal-hal yang membuat mereka terganggu pada dikala tidur sehingga membuat bayi susah tidur alias rewel.
Berikut penyebab umum bayi susah tidur:
Jumat, 15 Desember 2017
Jangan Sepelekan Cacingan Pada Si Kecil
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Siapa mengira, 90 persen anak Indonesia mengidap cacingan? Rendahnya mutu sanitasi menjadi penyebabnya. Pemiskinan fisik hingga IQ loss yakni beberapa akibatnya.
Meski sering dianggap angin lalu, penyakit akhir diserapnya makanan oleh cacing di dalam tubuh sebaiknya tidak diremehkan. Dampaknya bagi si penderita ternyata tak kalah berbahaya ketimbang penyakit lain. Apalagi, yang jadi korban kebanyakan yakni anak-anak.
“Khususnya anak usia dua tahun ke atas yang mulai bermain di lantai/ tanah. Nah, tanahnya itu sudah tercemar (soiled), terutama oleh kotoran manusia,” kata dr Adi Tagor SpA DPH dari RS Pondok Indah Jakarta.
Cacingan merupakan penyakit khas tempat tropis dan sub-tropis, dan biasanya meningkat ketika ekspresi dominan hujan. Pada ketika tersebut, sungai dan kakus meluap, dan larva cacing menyebar ke banyak sekali sudut yang sangat mungkin bersentuhan dan masuk ke dalam tubuh manusia. Larva cacing yang masuk ke dalam tubuh perlu waktu 1-3 ahad untuk berkembang. Cacing yang biasa “menyerbu” tubuh insan yakni cacing tambang, cacing gelang, dan cacing kremi.
“Di tempat dimana sanitasi lingkungan masih buruk, mirip Indonesia, hampir 90 persen anak-anaknya pasti terkena cacingan,” lanjut Adi.
Di Indonesia seharusnya tidak lagi menggunakan septictank untuk keperluan buang air besar. “Khususnya di Jakarta, alasannya yakni daerahnya sangat padat, seharusnya tinja pribadi dibuang ke tempat penampungan, mirip di Singapura.”
Ketika seorang anak yang cacingan buang air besar di lantai, maka telur atau sporanya mampu tahan berhari-hari, meskipun sudah dipel. “Sebelum dapat rumah, larva tidak akan keluar (menetas). Begitu masuk ke usus, gres ia akan keluar.”
Selain melalui makanan yang tercemar oleh larva cacing, cacing juga masuk ke tubuh insan melalui kulit (pori-pori). Dari tanah, misalnya lewat kaki anak telanjang yang menginjak larva atau telur. Bisa juga larva cacing masuk melalui pori-pori, yang biasanya ditandai dengan munculnya rasa gatal.
“Setelah menembus kulit, ia masuk ke pembuluh darah vena (balik), lalu menuju paru-paru. Nah, di paru-paru inilah muncul Sindroma Loffler. Anak jadi batuk mirip TBC, berdahak mirip asma. Ini termasuk ke dalam siklus perjalanan cacing.”
Setelah itu, cacing menggigit dinding usus bertelur dengan cepat di usus. “Di usus inilah makanan dipecah menjadi nutrient (zat gizi elementer yang sudah mampu diserap oleh usus). Ini yang “dibajak” oleh cacing. Jadi, cacing itu memang berdomisili di usus, alasannya yakni ia tidak mampu mencernakan sendiri makanan. Ia harus makan yang sudah setengah cerna.”
Selain siklus normal, cacing juga mampu menyebar ke tempat-tempat lain, mirip hati atau episode tubuh lain.
“Fungsinya mirip alat angkut, mirip truk, yang membawa oksigen dan makanan dari usus ke seluruh organ tubuh,” terang Adi yang mengibaratkan fungsi kerja Hb yang mirip Bulog yang mengantar beras. “Kalau truk-nya sedikit, ya kiriman berasnya akan telat. Begitu pun pada orang yang anemia. Suplai oksigen dan nutrient ke otak sedikit, ke ginjal sedikit.”
Padahal, seorang anak yang sedang tumbuh membutuhkan banyak nutrient. “Nutrisi itu dibagi dua, yaitu makro nutrient (karbohidrat, lemak, protein, air) dan mikro nutrient (vitamin dan mineral). Nah, ini yang dibajak. Jadi, yang gemuk cacingnya, bukan anaknya,” tandas Adi. “Di dalam tubuh, cacing-cacing ini akan beranak lagi, lagi, dan lagi. Kadang-kadang, bila menggumpal, bentuknya mirip bola. Bisa juga terjadi “erratic”, cacing keluar keluar lewat hidung atau mulut.”
Anemia membuat anak gampang sakit alasannya yakni tidak punya daya tahan. “Gimana mau sehat bila zat-zat untuk membuat daya tahan, terutama protein, sudah dibajak di usus oleh cacing,” lanjutnya. Anak juga akan kehilangan berat badan, dan prestasi berguru turun.
Gejala cacingan biasanya ditandai dengan sakit perut, diare berulang, dan kembung. “Seringkali juga ada kolik yang tidak terang dan berulang,” terang Adi. Kalau sudah parah, “Muka anak akan tampak pucat dan tubuh kurus. Ini berarti sudah terjadi pemiskinan secara fisik,” lanjut dokter seorang andal anak yang juga pemegang diploma kesehatan publik dari Singapura ini.
Kapan orangtua membawa anak ke dokter?
Di tempat tropis dan sub-tropis, apalagi di tempat yang sanitasinya buruk, hampir semua anak pasti cacingan. Di tempat miskin, angka cacingan pada anak bahkan dipastikan mampu 100 persen.
“Jadi, nggak perlu diperiksa, pasti cacingan. Oleh alasannya yakni itu, setiap enam bulan sekali pada masa usia tumbuh, yaitu usia 0 hingga sekitar usia 15 tahun, anak diberi obat cacing.” Jangka waktu enam bulan ini untuk memotong siklus kehidupan cacing.
Yang harus dicermati adalah, kira-kira 60-80 persen penyakit yang terjadi pada usia sampaumur dimulai di usia pertumbuhan. Misalnya, anemia kronis akhir cacingan. Ini akan membuat jumlah sel otak berkurang alasannya yakni kekurangan nutrisi selama masa tumbuh kembang.
Akibatnya, ketika dewasa, kualitas fisik dan IQ orang tersebut tentu akan berkurang juga. Contoh lain, ketika kecil terkena penyakit jerawat yang tidak ketahuan. “Setelah sampaumur sakit ginjal, dan sebagainya.”
Semoga bermanfaat, wassalam.
sumber : doktersehat.com
Siapa mengira, 90 persen anak Indonesia mengidap cacingan? Rendahnya mutu sanitasi menjadi penyebabnya. Pemiskinan fisik hingga IQ loss yakni beberapa akibatnya.
Meski sering dianggap angin lalu, penyakit akhir diserapnya makanan oleh cacing di dalam tubuh sebaiknya tidak diremehkan. Dampaknya bagi si penderita ternyata tak kalah berbahaya ketimbang penyakit lain. Apalagi, yang jadi korban kebanyakan yakni anak-anak.
“Khususnya anak usia dua tahun ke atas yang mulai bermain di lantai/ tanah. Nah, tanahnya itu sudah tercemar (soiled), terutama oleh kotoran manusia,” kata dr Adi Tagor SpA DPH dari RS Pondok Indah Jakarta.
Cacingan merupakan penyakit khas tempat tropis dan sub-tropis, dan biasanya meningkat ketika ekspresi dominan hujan. Pada ketika tersebut, sungai dan kakus meluap, dan larva cacing menyebar ke banyak sekali sudut yang sangat mungkin bersentuhan dan masuk ke dalam tubuh manusia. Larva cacing yang masuk ke dalam tubuh perlu waktu 1-3 ahad untuk berkembang. Cacing yang biasa “menyerbu” tubuh insan yakni cacing tambang, cacing gelang, dan cacing kremi.
“Di tempat dimana sanitasi lingkungan masih buruk, mirip Indonesia, hampir 90 persen anak-anaknya pasti terkena cacingan,” lanjut Adi.
Di Indonesia seharusnya tidak lagi menggunakan septictank untuk keperluan buang air besar. “Khususnya di Jakarta, alasannya yakni daerahnya sangat padat, seharusnya tinja pribadi dibuang ke tempat penampungan, mirip di Singapura.”
Ketika seorang anak yang cacingan buang air besar di lantai, maka telur atau sporanya mampu tahan berhari-hari, meskipun sudah dipel. “Sebelum dapat rumah, larva tidak akan keluar (menetas). Begitu masuk ke usus, gres ia akan keluar.”
Selain melalui makanan yang tercemar oleh larva cacing, cacing juga masuk ke tubuh insan melalui kulit (pori-pori). Dari tanah, misalnya lewat kaki anak telanjang yang menginjak larva atau telur. Bisa juga larva cacing masuk melalui pori-pori, yang biasanya ditandai dengan munculnya rasa gatal.
“Setelah menembus kulit, ia masuk ke pembuluh darah vena (balik), lalu menuju paru-paru. Nah, di paru-paru inilah muncul Sindroma Loffler. Anak jadi batuk mirip TBC, berdahak mirip asma. Ini termasuk ke dalam siklus perjalanan cacing.”
Setelah itu, cacing menggigit dinding usus bertelur dengan cepat di usus. “Di usus inilah makanan dipecah menjadi nutrient (zat gizi elementer yang sudah mampu diserap oleh usus). Ini yang “dibajak” oleh cacing. Jadi, cacing itu memang berdomisili di usus, alasannya yakni ia tidak mampu mencernakan sendiri makanan. Ia harus makan yang sudah setengah cerna.”
Selain siklus normal, cacing juga mampu menyebar ke tempat-tempat lain, mirip hati atau episode tubuh lain.
Nutrisi Dibajak
Dampak cacingan ternyata tidak sepele. Dari pertumbuhan fisik yang terhambat, hingga IQ loss. Dampak yang paling banyak yakni anemia atau kadar haemoglobin (Hb) rendah. Adi melanjutkan, Hb sangat vital bagi manusia.“Fungsinya mirip alat angkut, mirip truk, yang membawa oksigen dan makanan dari usus ke seluruh organ tubuh,” terang Adi yang mengibaratkan fungsi kerja Hb yang mirip Bulog yang mengantar beras. “Kalau truk-nya sedikit, ya kiriman berasnya akan telat. Begitu pun pada orang yang anemia. Suplai oksigen dan nutrient ke otak sedikit, ke ginjal sedikit.”
Padahal, seorang anak yang sedang tumbuh membutuhkan banyak nutrient. “Nutrisi itu dibagi dua, yaitu makro nutrient (karbohidrat, lemak, protein, air) dan mikro nutrient (vitamin dan mineral). Nah, ini yang dibajak. Jadi, yang gemuk cacingnya, bukan anaknya,” tandas Adi. “Di dalam tubuh, cacing-cacing ini akan beranak lagi, lagi, dan lagi. Kadang-kadang, bila menggumpal, bentuknya mirip bola. Bisa juga terjadi “erratic”, cacing keluar keluar lewat hidung atau mulut.”
Anemia membuat anak gampang sakit alasannya yakni tidak punya daya tahan. “Gimana mau sehat bila zat-zat untuk membuat daya tahan, terutama protein, sudah dibajak di usus oleh cacing,” lanjutnya. Anak juga akan kehilangan berat badan, dan prestasi berguru turun.
Berakibat fatal
Cacingan juga mampu berakibat fatal. “Bisa ke empedu, meski jarang, atau bikin usus bolong. Fatalnya memang tidak secara langsung, tapi alasannya yakni fisiknya lemah, daya tahan turun, maka penyakit lain pun masuk. Nah, penyakit lain inilah yang bikin fatal.”Gejala cacingan biasanya ditandai dengan sakit perut, diare berulang, dan kembung. “Seringkali juga ada kolik yang tidak terang dan berulang,” terang Adi. Kalau sudah parah, “Muka anak akan tampak pucat dan tubuh kurus. Ini berarti sudah terjadi pemiskinan secara fisik,” lanjut dokter seorang andal anak yang juga pemegang diploma kesehatan publik dari Singapura ini.
Di tempat tropis dan sub-tropis, apalagi di tempat yang sanitasinya buruk, hampir semua anak pasti cacingan. Di tempat miskin, angka cacingan pada anak bahkan dipastikan mampu 100 persen.
“Jadi, nggak perlu diperiksa, pasti cacingan. Oleh alasannya yakni itu, setiap enam bulan sekali pada masa usia tumbuh, yaitu usia 0 hingga sekitar usia 15 tahun, anak diberi obat cacing.” Jangka waktu enam bulan ini untuk memotong siklus kehidupan cacing.
Dewasa Juga Cacingan
Menurut Adi Tagor, orang sampaumur pun mampu cacingan. “Obat cacingnya untuk orang sampaumur juga ada, tapi diberikan setahun sekali.” Yang membedakan cacingan pada anak dan pada sampaumur adalah, belum dewasa masih tumbuh dan berkembang, sementara orang sampaumur sudah tidak lagi tumbuh dan berkembang. “Orang sampaumur juga masih mampu survive, mampu melawan sendiri cacing yang ada.”Yang harus dicermati adalah, kira-kira 60-80 persen penyakit yang terjadi pada usia sampaumur dimulai di usia pertumbuhan. Misalnya, anemia kronis akhir cacingan. Ini akan membuat jumlah sel otak berkurang alasannya yakni kekurangan nutrisi selama masa tumbuh kembang.
Akibatnya, ketika dewasa, kualitas fisik dan IQ orang tersebut tentu akan berkurang juga. Contoh lain, ketika kecil terkena penyakit jerawat yang tidak ketahuan. “Setelah sampaumur sakit ginjal, dan sebagainya.”
Semoga bermanfaat, wassalam.
sumber : doktersehat.com
Kamis, 14 Desember 2017
Tips Mengajarkan Minum Obat Kapsul Pada Anak
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Saat masih kanak-kanak obat yang diberikan umumnya berbentuk cair atau sirup. Tapi pada usia tertentu anak harus mampu minum obat berbentuk kapsul atau tablet. Bagaimana cara mengajarkan anak minum obat?
Jika anak masih berusia di bawah 10 tahun, umumnya belum memiliki kesiapan untuk berguru menelan kapsul atau tablet. Karenanya orangtua harus melihat terlebih dahulu apakah anak sudah siap atau belum.
Obat berbentuk cair atau sirup biasanya hanya sebatas obat untuk pilek, batuk atau penurun panas. Tapi kalau sakitnya cukup serius, sebagian besar obat akan berbentuk kapsul atau tablet. Jika anak belum mampu mengonsumsinya, maka obat ini akan digerus sampai berbentuk puyer tapi akan menjadikan rasa pahit sehingga sulit meminta anak untuk meminumnya.
Seperti dikutip dari Babycenter dan eHow, Selasa (28/12/2010) ada beberapa langkah atau cara yang mampu dilakukan orangtua dalam mengajarkan anak minum kapsul atau tablet, yaitu:
1. Berlatih dengan menggunakan permen kecil
Untuk awalnya, gunakanlah perlindungan permen bundar kecil yang diperumpamakan sebagai obat. Mintalah si kecil meletakkan permen tersebut di ujung tenggorokan lalu menelannya dengan perlindungan air. Jika anak berhasil melakukannnya minimal dua kali, maka ia mampu mengonsumsi obat kapsul atau tablet.2. Berikanlah teladan cara minum obat di depan anak
Jika anak belum paham berikanlah teladan cara minum obat yakni dengan meletakkan obat di ujung, mengambil seteguk air, lalu memiringkan atau mendongakkan kepala dengan sedikit hentakan kecil kemudian menelan.3. Memberikan air terlebih dahulu
Teknik ini dengan cara meminta anak mengambil seteguk air dan menahannya di dalam mulut, kemudian mintalah ia menatap ke atas lalu ibu memasukkan obat ke sudut mulutnya. Setelah itu mintalah anak menelannya dengan posisi masih menatap ke atas atau langit-langit.4. Mengulanginya sampai 3 kali
Jika ketika pertama anak gagal menelan pil tersbeut, cobalah untuk mengulanginya sampai dua kali. Jika masih gagal juga beri istirahat sejenak sekitar 3-5 menit dan mampu juga sambil mengunyah sesuatu, lalu mintalah anak untuk mengulanginya lagi.5. Gunakan ukuran permen yang lebih besar
Jika anak sudah berhasil menelan permen dengan menggunakan perlindungan air saja, maka tingkatkan ukuran permen menjadi sedikit lebih besar. Orangtua sebaiknya tidak menggunakan obat langsung, tapi gunakanlah permen dalam setiap percobaan sampai anak benar-benar berhasil.6. Gunakan perlindungan kue, jeli atau pisang
Jika anak tidak juga mampu menelan permen atau obat tersebut dengan perlindungan air saja, maka cobalah membungkus obat dengan kue, makanan jelly atau pisang lalu meletakkannya di lisan dan menelannya dengan perlindungan air.Semoga bermanfaat, wassalam.
-------------------------------
sumber : www.detikhealth.com
Rabu, 13 Desember 2017
Apa Sih Manfaat Tidur Siang Untuk Anak-Anak?
Assalamualaikum er wb, salam cerdas kreatif.
Setelah pulang sekolah biasanya kita ingin eksklusif bermain. Tetapi ibu atau ayah selalu mengingatkan untuk tidur siang. Lalu,kenapa ya mereka selalu menyuruh kita tidur siang ? Hal itu ternyata supaya tubuh dan otak kita beristirahat setelah mencar ilmu dan bermain di sekolah. Selain itu, tidur siang juga memiliki manfaat yang besar bagi pertumbuhan bawah umur menyerupai kita.
Salah satu manfaat tidur siang ialah meningkatkan ingatan kita atau memori pada otak. Nah, menurut penelitian terbaru bawah umur yang tidur siang secara teratur selama 45 menit memori dan kemampuan belajarnya akan meningkat. Jadi, setelah tidur siang otak akan kembali segar dan bisa membuat kalian lebih cepat mendapatkan pelajaran yang telah diberikan di sekolah.
Selain itu, tidur siang juga membuat anak-anak-anak lebih sehat. Karena, dengan tidur siang kalian cukup beristirahat sehingga tubuh lebih sehat dan tidak mudah terkena penyakit. Jadi, tidur siang tidak hanya memiliki kegunaan supaya tubuh kita lebih sehat tetapi juga untuk perkembangan kemampuan memori otak kita supaya lebih cepat menyerap pelajaran dan tidak mudah lupa.
Dan, ternyata tidur siang itu tidak hanya dianjurkan untuk bawah umur saja tetapi juga orang dewasa. Tidur siang bagi orang cukup umur membuat mereka terhindar dari penyakit serius menyerupai jantung dan diabetes. Wah, aneka macam ya manfaat tidur siang. Untuk itu mulai sekarang jangan lupa tidur siang setelah pulang sekolah ya.
Semoga bermanfaat, wassalam
---------------------------
Sumber : Vivanews.com
Bila Si Kecil Susah Bangun Pagi
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Membangunkan anak di pagi hari mampu jadi problem yang harus Anda hadapi setiap hari. Bagaimana bergotong-royong supaya si kecil tidak susah berdiri pagi?
Menurut pakar pendidikan yang juga dokter anak, Steven Dowshen, menyerupai dilansir KidsHealth, bergotong-royong bukan hanya bawah umur saja yang sulit untuk berdiri pagi. Beberapa orang remaja pun mencicipi hal serupa.
Kunci supaya problem susah berdiri pagi ini tak terulang ialah dengan memastikan anak menerima tidur yang cukup di malam hari. Setidaknya anak perlu tidur sembilan jam setiap malamnya.
Untuk menjaga rutinitas tidurnya, sebagai orangtua, Anda harus melarangnya tidur terlalu lama atau berdiri siang di simpulan pekan. Tidur satu atau dua jam lebih lama ketimbang weekdays boleh saja, namun jangan hingga terlalu lama sebab ini mampu mengacaukan rutinitas yang sebelumnya sudah dibuat.
Sedangkan menurut therapist perilaku anak James Lehman, menyerupai dilansir Self Help, selalu membangunkan anak di pagi hari bergotong-royong justru membuat anak semakin malas bangun. "Jika dipikirkan lagi, anak akan merasa kenapa ia harus berdiri sendiri padahal Anda orangtuanya mau membangunkannya. Anak akan berpikir, mereka tidak harus berdiri hingga ibu mereka memperlihatkan ancaman," tuturnya.
Megan Devine, seorang Parental Support Line Specialist menambahkan, supaya anak tak susah berdiri lagi, cobalah berikan mereka tanggungjawab. Sebelum melaksanakan itu, ajak dulu anak duduk bersama untuk membicarakan tanggungjawabnya tersebut. Biarkan anak mencicipi apa yang akan terjadi jikalau tanggungjawab tersebut diabaikan. Mungkin akan butuh beberapa hari atau ahad hingga anak benar-benar mampu menjalankan tanggungjawabnya itu.
Jika anak masih sulit berdiri pagi, bantu mereka mengatasi hal tersebut dengan membuat rencana. Minta anak membuat daftar apa saja bergotong-royong yang membuat mereka susah membuka mata di pagi hari. Berikan solusi atas masalahnya tersebut menyerupai menaruh alarm tapi jangan di akrab kawasan tidurnya supaya anak jadi mau berdiri dari kasur dan mematikan alarm.
Ajari juga anak untuk menyiapkan perlengkapan sekolahnya sebelum tidur, menyerupai buku pelajaran, tas, seragam hingga sepatu yang akan dipakainya. Dengan cara ini, anak juga tidak akan terlalu terburu-buru di pagi hari.
Wassalam,
---------
sumber: http://us.wolipop.com/read/2011/04/06/100548/1609668/857/ini-caranya-agar-anak-tak-susah-bangun-pagi
Jumat, 08 Desember 2017
Stimulus Untuk 6 Hal Baru Yang Dipahami Batita
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.
Melalui pengamatan, adaptasi dan peniruan, anak memahami satu per satu hal-hal yang bersinggungan dengan kehidupannya.
Perkembangan batita selalu menarik untuk diikuti. Di usia ini selalu saja ada kemampuan gres yang dikuasainya setiap hari. Mungkin juga salah satu di antara 6 hal berikut ini yaitu kemampuan yang gres dikuasai batita Anda. Apa sajakah itu? Ikuti penjelasan yang disampaikan Vera Itabiliana, Psi., dari Yayasan Pembina Pendidikan Adik Irma, Jakarta.
1. MELAMBAIKAN TANGAN SAAT ADA YANG MENGATAKAN, "DAAHH...."
Saat ada orang yang melambaikan tangan sambil mengatakan, "Daahh...", batita sudah bisa membalas melambaikan tangan. Beberapa juga bisa mengatakan, "Daahh...," bahkan ada yang sudah bisa menirukan gerakan kiss bye alias mencium tangannya sebelum dilambaikan. * Bagaimana batita memahami perintah ini?
Dengan melihat pengulangan agresi ini sehari-hari, batita bisa memahami kemudian menirukannya karena cara berguru batita yaitu dengan memalsukan selain bereksplorasi. Ia bisa memalsukan suatu agresi kalau melihatnya berulang kali. Terkadang ada yang sekali melihat, pribadi memalsukan gerakan tangannya saja. Tapi biasanya untuk dikaitkan dengan kata, "Daahh...," perlu pengulangan beberapa kali. Menurut tokoh psikologi perkembangan kognitif, Jean Piaget, semenjak usia 8 bulan ke atas, anak sudah membuatkan perilaku yang memiliki maksud tertentu atau goal directed behavior. Jadi, anak sudah paham bahwa perilaku tertentu akan menimbulkan reaksi tertentu. Contoh, ia tahu kalau ia menunjuk gelas, ibu akan mengambilkan air minum untuknya. Begitu juga dengan melambaikan tangan. Anak sudah paham kalau saatnya berpisah, maka lambaikan tangan.
* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?
Cukup dengan adaptasi saja. Setiap kali akan berpisah, tunjukkan lambaian tangan dan katakan, "Daahh...." Tunjukkan secara terperinci pada anak bagaimana telapak tangan membuka dan lalu ucapkan, "Daahh...," secara perlahan semoga terperinci terdengar oleh anak dan mudah ditirukannya. Anak juga dapat dibantu dengan mengangkatkan tangannya lalu melambaikannya. Tapi jangan dengan paksaan. Karena kalau dipaksa, anak malah menolak dan semakin tidak mau melakukannya.* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?
Anak belum bisa melakukannya karena beberapa sebab, di antaranya: - Merasa dipaksa
Solusi: Jadikan kegiatan ini sebagai suatu hal yang menyenangkan. Kalau anak tidak mau, jangan memaksanya. Cukup lakukan di hadapannya sebagai pola hingga terjadi pembiasaan.
- Malu
Solusi: Lakukan bantu-membantu sehingga anak tidak merasa "aneh sendiri" ketika melakukannya.
- Ada hambatan pada otot tangan.
Solusi: Untuk yang terakhir ini, orangtua dapat membantu anak dengan mengajak melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan motoriknya ibarat mengelap beling sambil bermain, mencuci kendaraan beroda empat sambil bermain, membelai boneka (agar telapak tangannya membuka), dan sebagainya.
Tapi umumnya melambaikan tangan sambil mengatakan, "Daahh..." yaitu kemampuan yang mudah dikuasai semua anak sehingga jarang sekali perlu perlakuan khusus untuk melatihnya.
2. MEMAHAMI PERINTAH SATU LANGKAH
Di usia ini anak sudah bisa memahami perintah satu langkah. Umpama, "Ambil bolanya," "Letakkan piringnya," "Minum susunya," dan perintah satu langkah lainnya.* Bagaimana batita memahami perintah satu langkah ini?
Dengan semakin berkembangnya kemampuan komunikasi khususnya perkembangan bahasa, anak dapat melaksanakan komunikasi dua arah atau interaktif. Dengan demikian ia bisa memahami bahwa ada sesuatu yang harus ia lakukan di balik arahan yang ia dengar. Ketika orangtua mengatakan, "Ambil bolanya," anak akan mengambil bola dan memberikannya kepada orangtua. Anak batita tanpa gangguan indera pendengaran atau gangguan perkembangan lainnya, ibarat ADHD dan autisma selayaknya dapat mengikuti perintah tunggal tanpa kesulitan.* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?
Dengan mengajaknya bermain bersama, ada banyak rangsangan berupa arahan yang dapat diberikan kepada anak. Orangtua juga bisa berganti tugas dengan anak sehingga dapat memperlihatkan pola bagaimana cara melaksanakan instruksi. Mengikutsertakan anak dalam acara "sekolah" atau kelompok bermain juga bermanfaat untuk melatih kemampuan ini.* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?
Karena kemampuan ini terkait dengan kemampuan bahasa, maka orangtua harus terus memperlihatkan stimulasi yang merangsang anak menambah database kosakatanya. Caranya dengan terus mengajaknya ngobrol, membacakan dongeng, mengajaknya bernyanyi, dan sebagainya. Sedangkan belum dewasa yang memiliki gangguan pendengaran, gangguan konsenstrasi, dan autisma harus segera mendapat intervensi berupa penanganan yang komprehensif dari ahlinya.3. PAHAM KEABADIAN OBJEK
Anak batita tahu bahwa kucing yang menghilang di balik pintu bukan benar-benar "lenyap" ditelan bumi, melainkan tetap ada meski tak terlihat lagi olehnya.* Bagaimana batita memahami keabadian objek ini?
Menurut Piaget, di usia 8-12 bulan, anak sudah paham ihwal object permanence, yaitu benda tak akan hilang meskipun hilang dari pandangan mata. Di usia ini anak mulai membuatkan bagan perilakunya yang terjadi melalui pengalaman yang dialaminya sendiri. Dengan mengeksplorasi dan mengamati, ia akan tahu bahwa benda itu masih ada. Tapi kalau benda tersebut dipindahkan dari daerah persembunyiannya ke daerah kedua, anak masih terus akan mencari di daerah pertama. Kemampuan ini terus berkembang hingga anak bisa paham permainan petak umpet di usia selanjutnya.* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?
Melalui permainan cilukba atau menyembunyikan suatu benda dengan saputangan, anak berguru keabadian objek. Tunjukkan pada anak begitu saputangan dibuka, ternyata bendanya masih ada.* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?
Bila tak ada gangguan khusus, pemahaman ini pasti bisa dikuasai anak dengan sendirinya. Jarang sekali perlu perlakuan khusus untuk melatihnya. 4. PAHAM BEBERAPA EKSPRESI EMOSI
Di usia batita, anak paham beberapa mulut emosi sederhana, ibarat marah, sedih, senang, antusias, terkejut.* Bagaimana batita memahami mulut emosi ini?
Pemahaman ini didapat sejalan dengan perkembangan sistem saraf otak, pengalaman emosi dalam kehidupannya, reaksi/respons emosi dari orang-orang terdekatnya.* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?
Tunjukkan mulut emosi yang sempurna untuk setiap kejadian dan sebutkan label emosinya. Misal, "Wow, Mama senang sekali karena kau makan hingga habis!" Katakan ini dengan mulut muka berseri di hadapan anak. Bantu anak memahami perasaannya dengan menyebutkan label emosinya. Contoh, anak menangis karena mainannya rusak, orangtua bisa mengatakan, "Kamu duka ya karena mainanmu rusak...." Orangtua juga bisa menstimulasi kemampuan ini melalui bahasa gambar. Sediakan beberapa gambar yang menunjukkan mulut sedih, senang, marah, antusias, terkejut. Minta anak untuk memilih gambar yang sesuai dengan apa yang dirasakannya ketika itu.
* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?
Orangtua juga harus ekspresif terhadap emosinya sendiri, tapi tentu saja dengan mulut yang sempurna dan tidak berlebihan. Orangtua juga harus jeli menangkap sinyal emosi anak lalu bantu ia memahami emosinya. Dengarkan keluhannya lalu identifikasikan emosi yang sedang ia rasakan dan beri masukan bagaimana reaksi/ekspresi yang sempurna untuk emosi yang sedang ia rasakan.5. MEMAHAMI ADA SESUATU DI DALAM
Anak tahu bahwa dalam lemarinya tersimpan pakaian-pakaiannya, di dalam boks mainan ada mainan-mainannya, di dalam kulkas ada makanan dan sebagainya.* Bagaimana batita bisa memahami ada sesuatu dalam sesuatu?
Melalui pengalaman dan pengamatan sehari-hari, anak paham bahwa di dalam sesuatu mungkin ada sesuatu. Setiap hari ia melihat ibu atau pengasuhnya membuka kulkas lalu mengambil makanan dari dalamnya, atau membuka lemari dan mengambilkan pakaian untuknya. Itu semua membuatnya mengerti bahwa di dalam wadah tertutup ada ruang untuk menyimpan sesuatu.* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?
Sambil membuka kulkas, orangtua bisa mengatakan, "Mama mau mengambil keju dari dalam kulkas, Adek mau?" Jelaskan dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak apa yang tengah dilakukan supaya ia lebih mudah mengerti. Bisa juga melalui latihan, umpamanya, "Ayo, Adek buka lemarinya, biar Mama ambilkan bajunya." Atau, "Yuk, kita masukkan mainan yang sudah selesai digunakan ini ke dalam boksnya."* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?
Ulang-ulang terus stimulasi di atas setiap ada kesempatan. Bisa juga ketika membacakan dongeng, orangtua menjelaskan bahwa dalam sesuatu yang tertutup bisa jadi ada sesuatu yang tersimpan di dalamnya.
6. PAHAM FUNGSI SUATU BENDA
Batita paham beberapa fungsi benda, semisal sepatu untuk ganjal kaki, bantal untuk tidur, piring untuk makan dan sebagainya.* Bagaimana batita bisa memahami fungsi suatu benda?
Semua benda yang bersinggungan atau digunakan dalam acara sehari-harinya, ibarat ketika makan, mandi, tidur, bermain, satu per satu akan dipahami fungsinya. Hal ini terjadi melalui pengamatan, adaptasi dan peniruan. Ia melihat sebelum pergi orangtuanya selalu mengenakan sepatu, ia jadi paham bahwa sepatu yaitu ganjal kaki yang harus digunakannya untuk bepergian, begitu juga dengan benda-benda lainnya.* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?
Sambil mengenalkan benda yang digunakan sehari-hari, sebutkan fungsinya dan peragakan cara menggunakannya. Lakukan ini ketika anak mulai berguru bicara, sekaligus untuk menambah kosakatanya. Umpamanya waktu mandi, "Mana sabun mandinya? Oh, ini ya? Yuk, Mama sabuni dulu supaya tubuh Adek jadi bersih dan wangi."* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?
Secara umum anak pasti akan memahami benda-benda yang digunakannya dalam keseharian. Lakukan terus stimulasi di atas bila anak belum juga paham.Wassalam,
-----------
Marfuah Panji Astuti.
sumber: tabloid nakita
Rabu, 06 Desember 2017
Kiat Melatih Anak Menjadi Pemimpin
Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.Anak Anda punya bakat jadi pemimpin? Perhatikan, apakah dia selalu "mengatur" teman-temannya mengenai permainan apa yang akan dilakukan? Apakah teman-temannya dengan sukarela mengikuti kemauannya? Apakah dia selalu berani mengungkapkan pendapatnya, dan meminta untuk diberi kesempatan menyanyi atau berdoa di depan kelas?
Mungkin, belum semua anak menyampaikan perilaku yang menyampaikan abjad seorang pemimpin. Lalu, bagaimana cara mendorong mereka untuk mengembangkan perilaku kepemimpinan?
1. Tanyai Pendapat Mereka
Saat sedang tolong-menolong di rumah, tanyakan pada mereka hal-hal seperti, "Kamu mau pakai kaus yang merah atau yang biru?" Atau, "Kamu mau susu cokelat atau vanila?" Dengan menjawab pertanyaan menyerupai ini, mereka melatih kemampuan berbicara asertif, dan bagaimana membuat keputusan yang baik.
2. Kenalkan Mereka Pada Pemimpin
Ceritakan pada mereka mengenai sejumlah tokoh pemimpin, entah dari buku cerita, program di TV, atau orang-orang yang ada di lingkungan Anda. Saat mereka melihat bagaimana pemimpin beraksi, mereka akan tahu bagaimana perilaku seorang pemimpin. Kelak, dia pun akan memalsukan tingkah laku tersebut.
3. Puji Perilaku Kepemimpinan Mereka
Jika mereka tidak tahu apa yang Anda inginkan, mereka tak akan pernah melakukannya. Karena itu, ketika Anda tahu mereka melaksanakan suatu tindakan memimpin atau membuat keputusan yang baik, sampaikan pada mereka. Katakan, "Nah, gitu dong! Ibu senang jikalau kau mau berbagi!"
4. Lakukan Kegiatan Yang Membantu Mereka Menunjukkan Kemampuan Memimpin
Kenalkan mereka pada kegiatan-kegiatan yang membantu mereka melaksanakan kemampuan memimpin. Misalnya, membantu mengatur barisan teman-temannya ketika program outing dari sekolah. Ketika mereka dibiasakan untuk melaksanakan hal-hal menyerupai ini, mereka juga akan bisa mempraktekkannya di rumah maupun di kawasan lain.
5. Bantu Mereka Menentukan Tujuan Pribadi
Ketika mereka menentukan tujuan untuk diri mereka sendiri, yang tak ada hubungannya dengan kepentingan orang lain, otomatis mereka akan mendemonstrasikan kemampuan leadership. Sebab, mereka akan memimpin diri mereka sendiri.
Semoga bermanfaat, wassalam.
Sumber: http://female.kompas.com/read/2011/03/22/1229159/5.Cara.Melatih.Anak.Jadi.Pemimpin
Langganan:
Postingan (Atom)

























