Tampilkan postingan dengan label perkembangan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perkembangan anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 November 2017

MEMAHAMI POLA PIKIR ANAK Usia 0-2 Tahun



Memahami teladan pikir anak susah-susah gampang. Beda usia, beda pula cara berpikirnya. Simak penjelasan Roslina Verauli, M. Psi, praktisi Tumbuh Kembang RS Pondok Indah, soal perkembangan cara berpikir anak dan bagaimana cara menghadapi mereka dengan bijak.


Sejak anak lahir dan berkembang, ada proses kognitif yang terjadi pada dirinya. Proses-proses kognitif mencakup acara berpikir, menalar, berguru dan memecahkan masalah. Orangtua yang ingin memahami jalan pikir anak, tentu harus mengetahui perkembangan umum kognitif mereka di setiap tahapan usia.



Di usia 0 – 2 tahun, anak sudah mulai memersepsi dan bertindak. Perkembangan itu dapat dilihat dari perkembangan motorik mereka. Misalnya, di usia 0 – 1 bulan, kemampuan motorik mereka sebatas melatih refleks yang sudah ada.  Contohnya mengisap puting ibu dikala menyusu. Pada usia 1 – 4  bulan, bayi sudah bisa mengulang tindakan menyerupai membuka dan menutup telapak tangan. Usia 4 – 8 bulan, anak mulai merespon untuk menyelesaikan masalah. Misalnya, memindahkan penutup untuk mengambil mainan. Usia 12 – 18 bulan, anak mulai tertarik pada aksara sebuah mainan untuk melihat bagaimana mainan bisa berfungsi. Usia 18 – 24 bulan, anaka mulai mengunakan bahasa dan simbol warna-warna dan bentuk-bentuk  benda atau nama-nama binatang. Ekspresi anak mulai terlihat dengan jelas.


Cara menghadapi:

Orang bau tanah harus merangsang anak lebih kreatif dalam berpikir. Contoh, pada bayi yang menangis ingin menyusui, latih mereka untuk menemukan puting si ibu. Selain itu, orang bau tanah juga harus intens membangun ikatan emosi dengan si anak. Contoh, dikala menyusui, peluklah anak dengan hangat dan menawarkan tepukan lembut serta bernyanyilah dengan gembira. Ketika anak menangis , orang bau tanah harus segera berespon. Dengan begitu anak memiliki rasa percaya dan aman bahwa ketika beliau butuh bantuan. Jadi, semakin intens Anda mengasuhnya langsung, semakin berpengaruh pula ikatan emosional antara Anda dan buah hati.

Pola Pikir Anak Usia 3-5 Tahun

Dr Anak.com

Pola Pikir Anak Usia 3 - 5 Tahun



Usia 3 – 5 tahun

Anak-anak usia 3 – 5 tahun sudah mulai berespon menghadirkan setiap pengalamannya secara mental  dengan mengunakan bahasa. Mereka juga lebih imajinatif  dalam bermain. Mulai suka main guru-guruan, panggung boneka dan mulai suka menonton televisi. Di usia ini, anak harus mampu membedakan orang gila dan orang dekat. Dia harus mengerti bagaimana bersikap kepada orang yang beliau kenal atau orang asing.


 Cara menghadapi :

Penolakan-penolakan yang sudah mulai dilakukan anak kepada ibu yaitu hal wajar. Yang harus dilakukan, ketika anak menolak untuk hal-hal disiplin (makan, mandi dan belajar), kita perlu melaksanakan negosiasi sederhana. Kasih mereka pilihan dan konsekuensi. Contoh, kalau anak menolak makan, negosiasikan padanya kapan beliau akan menunda waktu makan dan berikan pilihan atau konsekuensi kalau beliau tidak menepati janjinya.

Pola Pikir Anak Usia 6 - 12 Tahun

Dr Anak.com

Pola Pikir Anak Usia 6 - 12 Tahun 




Perkembangan kognitif yang menonjol, mereka berpikir lebih kompleks dan mulai memasuki pendidikan formal. Kehidupan sosial anak usia ini lebih mengutamakan pertemanannya. Berteman itu penting untuk membantu mereka bersosialisasi dengan lingkungan. Usia ini anak sudah mulai punya rahasia. 


Cara menghadapi:
Pastikan anak tidak hanya sekedar berguru dibangku sekolah. Bangun konsep impian pada ia biar ia menjalani hidup dengan tujuan. Tetapi ingat, anak bukan perpanjangan tangan profesi kita yang gagal. Berikan pengetahuan yang seluas-luasnya soal pilihan cita-cita. Tak perlu cemburu kalau anak lebih memilih bermain dengan temannya dari pada berkumpul dengan keluarga. Justru, orang tualah yang seharusnya mendorong mereka untuk memiliki sahabat dan bersosialisasi

Melatih Bayi Berjalan


Peran orang bau tanah sangat penting untuk mendidik anak, orang bau tanah harus lebih sering mencar ilmu mengenai bayi dan anak bagai mana porses pertumbuhan dan perkembangan anak, sekarang kita akan membahas mengenai cara melatih bayi berjalan, proses pembelajaran bayi untuk mulai berjalan hal yang penting untuk kita perhatikan, sebagai orang bau tanah harus lah aktif memberi isyarat dan petunjuk yang tepat dan benar.

Melatih Bayi Berjalan

Langkah pertama bayi merupakan momen yang sangat dinantikan oleh para Ayah dan Bunda. Pokoknya, begitu ‘bersejarahnya’ pencapaian ini, sehingga kemampuan berjalan menjadi fase yang sangat dinantikan dari sekian banyak fase perkembangan bayi.
Nah, banyak orang bau tanah yang bersemangat untuk melatih bayinya berjalan, sehingga kali ini kami mengumpulkan beberapa gosip penting seputar permasalahan ini.

Kapan Bayi mencar ilmu berjalan Dimulai?

Sebelum melatih si kecil berjalan, Anda harus terlebih dulu memperhatikan tanda-tanda bahwa beliau telah siap. Diantaranya, beliau sudah bisa mengangkat dirinya dari posisi duduk ke posisi berdiri, dengan berpegangan kepada sesuatu ibarat meja atau kursi.
Ingat, untuk bisa berjalan, buah hati Anda harus melewati fase perkembangan ibarat berguling, duduk dengan tegak, serta merangkak (walaupun sebagian kecil bayi tidak melalui fase merangkak, dan bisa pribadi berjalan dengan berpegangan).
Intinya, jangan memaksa bayi Anda untuk bisa berjalan, kalau memang belum waktunya. Memaksanya berjalan belum pada waktunya akan berbahaya bagi si kecil. Langkah pertama bayi biasanya terjadi saat beliau berusia 9-12 bulan, dan beliau akan mulai berjalan dengan lancar saat berusia 14-15 bulan. Jika bayi Anda agak lambat perkembangannya, Anda tidak perlu buru-buru khawatir dan bersedih, alasannya ialah memang ada sebagian bayi normal dan sehat yang gres bisa berjalan setelah usia 17 bulan.
Berikut tahapan perkembangan fisik bayi Anda sebelum beliau bisa berjalan:
  • Mulai bangun dari posisi duduk, dengan berpegangan ke meja atau dingklik (usia 9 bulanan)
  • Mulai mencar ilmu menekuk lutunya (usia 10 bulanan)
  • Mulai mencar ilmu duduk dari posisi bangun (usia 10 bulanan)
  • Mulai berjalan merayap, dengan berpegangan ke perabotan rumah Anda (usia 11 bulanan)
  • Mulai berjalan dan berpindah dari satu perabotan ke perabotan yang lain sambil terus berpegangan (usia 12 bulanan)
 Peran orang bau tanah sangat penting untuk mendidik anak Melatih Bayi Berjalan baby walker kepadanya, alasannya ialah akan menjadikan pertumbuhan otot paha atas bayi yang kurang sempurna
  • Biasakan bayi Anda untuk berjalan di dalam rumah tanpa menggunakan sepatu
  • Kapan Anda Perlu Khawatir?

    Ingatlah, setiap bayi memiliki perkembangan yang berbeda, jadi tidak perlu khawatir kalau perkembangan bayi Anda untuk berjalan agak lambat dibanding anak yang lain. Kapan Anda perlu merasa khawatir? Jika si kecil sudah berusia 1,5 tahun dan beliau masih belum juga bisa berjalan, Anda bisa konsultasikan dengan dokter.
    smbr:tipsbayi

    Senin, 13 November 2017

    Usia 3 - 5 Tahun pada anak

    dranak.com

    Dokter Anak

    Tak terasa, makin hari Si Kecil makin berkembang. Beranjak ke usia 3 tahun,  permainannya lebih banyak menggunakan imajinasi atau daya khayal. Misalnya, dengan bermain tugas menyerupai aksara favoritnya dalam kehidupan sehari-hari, menyerupai dokter-dokteran.

    Makin bertambahnya usia Si Kecil, ia juga makin senang bergerak dan bereksplorasi dengan lingkungan di luar rumah. Dia pun makin bersahabat dengan teman-teman bermainnya. Mungkin ia tidak akan masuk rumah sebelum merasa lelah bermain sepeda roda tiganya di luar rumah bersama teman-teman sebayanya atau menghabiskan waktu di taman bermain. Namun, keusilannya yang membuat temannya menangis semata-mata merupakan cara untuk merebut perhatian. Selain itu, makin banyak pula emosi yang ia tunjukkan.

    Kemampuannya untuk memakai baju dan celana sendiri juga sudah mulai sempurna. Pakaikan ia popok yang mudah dipasang, menyerupai popok Merries dengan tipe celana (pants) supaya lebih mudah digunakan olehnya. Merries Pants juga memiliki point gather untuk mencegah popok melorot, namun tidak membuat Si Kecil sesak di bab pingganggnya.

    Usia 4 tahun, Si Kecil banyak melaksanakan hal-hal gres baginya. Jiwa seni dan kreativitasnya mungkin juga mulai terlihat, serta bakir berimajinasi. Tak heran, menggambar menjadi hobi gres bagianya. Kemampuannya untuk menceritakan sesuatu, mengenal waktu, menulis, dan berhitung juga mulai berkembang. Ya, anak Anda mulai memasuki usia sekolahnya.

    Sampai karenanya ia berusia 5 tahun, kehidupan pertemanannya akan lebih menyenangkan. Dia akan betah bermain permainan yang melibatkan kerjasama dengan sahabat sebayanya. Saat temannya terjatuh, ia akan memperlihatkan rasa simpatinya. Si Kecil Anda sudah mulai mengerti perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Dia pun semakin mandiri, dari memakai baju, menggunakan garpu dan sendok sendiri dikala makan, sampai ke toilet sendiri. Aktivitas fisiknya pun kian bertambah di ulang tahun ke 5-nya. Baginya, bermain panjat tangga dan ayunan di taman sangat menarik. Pada sebagian besar anak laki-laki juga suka melaksanakan atraksi jungkir balik. Tingkah laku Si Kecil ini tentu sangat memerlukan pengawasan dari Anda. (Aulia/Image:Dok.M&B)
    salam dr anak

    Rabu, 08 November 2017

    Orangtua Waspada, Anak yang Sering Makan Fast Food Ditemukan Kurang Cerdas

    Dokter Anak


    Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Ohio State University (OSU) dan University of Texas, Austin, Amerika Serikat, menemukan bahwa semakin sering seorang anak mengonsumsi makanan cepat saji dikala berusia 11 atau 12 tahun, maka kecerdasannya pun bisa menurun.  Terutama pada mata pelajaran matematika, sains, dan membaca.
    Perbedaan antara nilai ujian anak yang gemar menyantap makanan cepat saji dan yang tidak,  dilaporkan memiliki kontradiksi yang tinggi, belum dewasa yang sering memakan hidangan sehat ditemukan 20 persen lebih arif dan bisa menyelesaikan ujian dengan baik. 

    Kelly Purtell, penulis utama penelitian sekaligus ajudan profesor jurusan human sciences di OSU mengatakan, "Makanan fastfood ternyata memengaruhi kemampuan anak secara edukasi. Kami meneliti beberapa faktor luas yang memungkinkan anak menerima nilai test tersebut,".
    Purtell menyebutkan, faktor-faktor lain menyerupai seberapa sering anak berolahraga, menonton televisi, status sosial ekonomi keluarga, makanan lain yang dikonsumsi, serta karakteristik lingkungan daerah tinggal, dan sekolah tak luput diteliti oleh tim peneliti. Namun demikian, jadinya sama saja. Anak yang sering mengonsumsi makanan cepat saji cenderung memiliki peringkat bawah di kelas. 

    Studi yang dirilis oleh journal Clinical Pediatrics ini, meneliti 11.740 pelajar yang memulai sekolah pada tahun aliran 1998-1999. Pada penelitian tersebut para responden anak wajib melapor mengenai kebiasaan dan jenis makanan yang mereka lahap selama satu minggu. Hal yang mencengangkan pun terjadi, ternyata 10 persen anak mengatakan memakanfastfood setiap hari dan 10 persen lainnya mengatakan enam hari dalam seminggu pasti menyantap fastfood. 

    "Kami tak berkata bahwa orangtua tidak boleh memberi anak mereka makanan cepat saji. tetapi hasil penelitian menyarankan untuk jangan terlalu sering. Pada penelitian yang lainnya, nutrisi dalam makanan cepat saji, memang dapat memengaruhi perkembangan kognitif. Namun, diet ketat dengan menghindari lemak dan gula sama sekali juga tak baik bagi belum dewasa sebab dapat mengurangi proses belajar, dan menurunkan daya ingat anak,” ujar Purtell.
    Lebih lanjut, orangtua disarankan untuk lebih mawas dan perhatian pada makanan anak. Sebab, di fase tumbuh kembang, nutrisi dan gizi memiliki pengaruh tinggi dalam membentuk masa depan mereka. Untuk itu, jangan lalai dalam menyiapkan makanan yang bergizi dan baik dalam pembentukan otak dan tulang sebab bisa menawarkan dampak baik dalam kehidupan anak, baik secara pendidikan maupun lingkungan sosial.
    Selain memerhatikan gizi dan nutrisi, orangtua juga jangan malas menawarkan embel-embel tambahan pada anak. Apabila Anda tengah berhadapan dengan si kecil yang susah makan, cobalah berikan embel-embel pendamping yang berfungsi dalam merangsang nafsu makan. Salah satu embel-embel terbaik yaitu yang mengandung vitamin A, D, dan E.
    Perlu Anda ketahui bahwa ketiga vitamin tersebut dapat diserap dengan tepat oleh tubuh. Kemudian, pastikan juga embel-embel pilihan Anda tidak mengandung bahwa pewarna buatan dan bebas alkohol serta aman untuk dikonsumsi si kecil.


    Sumber :
     & Kompas.com
    Penulis :
    Silvita Agmasari
    Editor :
    Syafrina Syaaf

    dranak.com

    Selasa, 07 November 2017

    Banyak Gerak Bikin Luka Khitan pada Anak Susah Kering? Ah Itu Mitos

    Dokter Anak



    Meghindari biar luka bekas khitan tidak lembab menjadi salah satu upaya biar luka sunat alias khitan anak cepat kering. Meski begitu, kerap kali anak dilarang banyak gerak setelah disunat alasannya khawatir luka khitannya tak kunjung kering.

    Menanggapi hal ini, dr Arry Rodjani SpU menuturkan banyak bergerak dengan lamanya luka sunat yang tidak kering tidak ada hubungannya. Apalagi, selama perawatan luka khitan dilakukan dengan tepat.

    "Yang menjadikan keluhan bekas luka tidak kunjung kering mungkin ada kelainan pada penis atau teknik pengerjaan sunatnya yang tidak tepat," kata dr Arry ketika berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Selasa (24/2/2015).

    Senada dengan dr Arry, DR dr Nur Rasyid SpU(K) mengungkapkan bahwasanya banyak hal yang menjadikan luka sunat tidak kunjung kering. Tiap orang pun memiliki penyebab yang berbeda-beda.



    "Tergantung daya tahan tubuhnya dia. Asalkan tidak ada perdarahan, sepertinya tidak masalah," ujar dr Rasyid yang praktik di RS Cipto Mangunkusumo ini.

    Agar luka khitan cepat kering, perawatan pada penis pun harus dilakukan dengan tepat. Oleh alasannya itu, lanjut dr Rasyid, orang renta patut memperhatian bagaimana cara operasi yang dilakukan dokter.

    Untuk luka yang tidak menggunakan balutan, biasanya akan cepat kering. Prosedur ini pun umum digunakan oleh dokter yang yakin tidak ada persoalan selama operasi menyerupai perdarahan.

    "Sementara, kalau pada luka khitan terdapat balutan, biar luka cepat kering maka sebisa mungkin area yang dibalut tersebut tidak berair dan lembab," ucap dr Rasyid.


    smbr:detik
    dranak.com

    Stimulasi pijat bayi

    Dokter Anak



    Stimulasi pijat bayi dipercaya dapat mencegah bayi menjadi sering sakit. Namun, stimulasi pijat bayi harus dilakukan dengan benar dan sempurna semoga mendapat hasil yang maksimal.
    Dokter seorang andal anak I Gusti Ayu Trisna Windiani mengatakan, stimulasi pijat harus dilakukan ketika bayi dalam keadaan sehat.
    “Bayi harus stabil. Jangan pas kenyang, sedang lapar, mengantuk, dan sakit berat. Kalau sakit harus konsultasi dulu ke dokter,” ujar Trisna di Jakarta beberapa waktu lalu.
    Untuk mendapat hasil yang efektif, stimulasi pijat baik dilakukan setiap hari sebanyak 2-3 kali. Bisa dilakukan sebelum mandi pagi dan sore, juga sebelum bayi mengantuk di malam hari. Stimulasi pijat juga mampu diberikan ketika memandikan bayi.
    Stimulasi pijat ini dilakukan dengan menyentuh bayi mulai dari kepala sampai kaki. Jangan lupa sedikit menggerakkan kaki dan tangannya, serta mengajaknya mengobrol. Makin muda usia bayi, maka makin ringan tekanannya. Stimulasi pijat tidak boleh diberikan berlebihan pada bayi. Sekali pijat memakan waktu sekitar 15 menit.
    “Lakukan stimulasi pijat dengan kualitas, tidak berlebih dan kurang. Stimulasi yang pas akan memperlihatkan efek luar biasa,” imbuhnya.
    Menurut Trisna, stimulasi pijat sebaiknya dilakukan lansung oleh ibu. Untuk itu, para ibu sebaiknya berguru untuk menerima teknik stimulasi pijat yang benar.

    smbr:kompas health

    dranak.com

    Senin, 06 November 2017

    Anak Belajar Memakai Baju dan Sepatu Sendiri

    Dokter Anak


     
    Aimar umur 3 tahun sibuk dengan kancing bajunya, ketika Mom mendatanginya menanyakan “apakah Aimar butuh bantuan?” Aimar malah marah dan mengatakan jikalau beliau bisa melakukannya sendiri. Setelah lama bergumul dengan kancing baju jadinya Aimar berhasil memasang bajunya sendiri.

    Ketika Mom memutuskan untuk membantu anak memakaikan baju dan sepatunya, dengan alasan biar lebih cepat sebab mereka sedang terburu-buru, hal ini akan membuat belum dewasa tidak berguru dengan sendirinya. Padahal dengan membiasakan anak untuk mengenakan baju dan sepatunya sendiri, anak tidak akan terlalu tergantung kepada orang lain. Salah satu triknya, taruh sepatu di daerah yang mudah di jangkau olehnya. Sediakan dingklik kecil di bersahabat pintu masuk, sebagai sarana untuk anak mengenakan sepatunya sendiri. Begitu juga dengan baju. Ajari beliau memakai T-shirt sendiri, sehingga anak tidak keburu stress dengan kancing. Begitu juga dengan celana, pilih model berkaret yang bisa pribadi pake.

    Keterampilan berpakaian dapat memakan waktu beberapa tahun untuk mencapai kesempurnaan, dari sekitar usia 18 bulan sampai 5 tahun. Memakai dan melepas pakaian merupakan episode dari keahlian ini.

    Berikut beberapa tahapan proses keterampilan ini :

    1. Mulai usia 8 bulan, bersama-sama anak sudah mulai menyampaikan keterampilan dasar dimana ia mulai menarik lepas kaus kakinya, bermain dengan tali, kancing, dan perekat velcro yang ada di pakaian.

    2. Pada usia menjelang 1 tahun, anak menyampaikan minat untuk melepaskan topi, hiasan rambut, melepas sepatu dan kaus kaki. Ia juga mulai bekerja sama ketika dibantu menggunakan pakaian atau sepatu ibarat memasukkan lengannya ke lubang lengan, atau bahkan meluruskan kaki ketika dipakaikan celana, mencoba merekatkan sepatu yang menggunakan perekat Velcro.

    3. Mendekati usia 2 tahun, anak sudah bisa membuka sendiri sepatunya, kaus kaki, bahkan mencoba memakai pakaian sendiri (meskipun seringkali belum berhasil), mencoba untuk memasukkan kaki ke dalam satu lubang celana, memakai kaus secara terbalik, terkadang memakai sepatu juga secara terbalik.

    4. Pada usia 2 tahun, anak mulai bisa membuka kancing dan resleting yang berukuran besar. Biasanya ia juga sudah bisa melepas sendiri pakaiannya. Saat ia berguru membuka pakaian, ia juga akan mulai berguru memakai pakaian juga. Namun ia membutuhkan waktu lebih lama sebelum bisa memakai T-shirt sendiri yang membutuhkan keterampilan untuk menarik baju melalui kepalanya.

    5. Pada usia 3 tahun, anak lebih terampil dalam memasang dan melepas kancing, kancing jepret berukuran besar, dan resleting. Kemampuan ini akan terus berlanjut dan disempurnakan sampai usia balita yang tentunya seiring dengan perkembangan motoriknya (motorik berangasan dan motorik halus). Sehingga orangtua tidak harus panik ketika anak belum bisa berpakaian secara tepat pada usia batita, yang penting lebih mengenalkan dan melatih anak dasar-dasar keterampilan berpakaian dan bersepatu.

    6. Pada usia 4 tahun anak mulai tertarik untuk berguru mengikat sendiri tali sepatunya, orangtua bisa memberi sedikit santunan dengan mengajarkan cara termudah mengikat tali sepatu.

    Sebagai orangtua, sebaiknya Mom menahan impian untuk membantu seminim mungkin. Sehingga balita pun akan berguru berdikari secara cepat.

    Meskipun seringkali justru memperlama penyelesaian pekerjaan, namun dengan sedikit kesabaran, acara ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian anak, juga melatih anak untuk melaksanakan kebiasaan baik yang akan bermanfaat untuknya.
     smbr:ibudanaku
    dranak.com

    Apakah Anak Perlu Tidur Siang?

    Dokter Anak



    Kebanyakan dari orang bau tanah pasti akan menjawab: perlu! Namun sebenarnya, selama jumlah tidur anak di malam hari sudah tercukupi dan anak tidak terlihat mengantuk di siang hari mampu saja mereka tidak tidur siang.

    Terkait dengan tidur siang serta pengaruhnya dengan anak, para periset dari Australia  mengulas 26 studi yang telah dipublikasikan perihal seberapa besar tidur siang mensugesti tidur di malam hari, juga berguru dan perilaku sepanjang hari. Para periset menjumpai sedikit janji di balik fakta bahwa setelah usia dua tahun, bawah umur yang tidur siang mampu tidak cukup tidur di malam hari.
    “Namun, studi ini bukan berarti Anda membolehkan anak untuk tidak tidur siang. Karena ada banyak waktu sehari untuk mampu tidur tetapi tidak berarti tidur siang menjadikan tidur yang buruk,” urai Jodi Mindell, associate director di klinik tidur, The Children’s Hospital, Philadelphia. 

    Saat berusia dua tahun, kebanyakan anak sebaiknya tidur di malam hari selama 10-11 jam serta tidur siang selama 1-3 jam. Anak-anak yang tidur siangnya cukup lama dan tidak kesulitan untuk tidur di malam hari serta bangkit sendiri di pagi hari, mampu menyampaikan waktu istirahatnya cukup. 

    Tujuh studi yang diulas peneliti Australia fokus terhadap kekerabatan antara tidur siang dengan tidur malam hari. Analisis menjumpai kekerabatan antara tidur siang serta waktu tidur malam yang lebih telat periode tidur di malam hari lebih pendek dan lebih sering bangkit di malam hari. 
    Satu studi terhadap anak TK yang memiliki pilihan istirahat siang menjumpai bahwa anak tidur terlambat di malam hari setelah tidur siang dibandingkan dengan tanpa tidur siang. 
    Sejumlah studi menyampaikan tidur siang membantu pembelajaran bahasa tetapi lainnya menjumpai hal sebaliknya. Kecemasan dan kekhawatiran lebih sering terlihat pada anak yang tidak tidur siang. Tetapi penelitian lain menyampaikan kekerabatan antara tidur siang yang lebih lama dengan tingkah anak yang memperlihatkan depresi. 
    Terkait dengan tidur siang, orang bau tanah sebaiknya tidak fokus atas jumlahnya. Sebaliknya, lanjut Dr. Judith Owens, administrator di Center for Pediatric Sleep Disorders, Boston Children’s Hospital yang tidak terlibat dalam penelitian, beri perhatian pada tingkah laku anak. 
    Sebagai contoh, bila anak tidur 10 jam setiap hari di hari biasa dan 11 jam di simpulan pekan, kemungkinan mereka kurang cukup tidur. Atau bila anak kerap mengantuk di kendaraan beroda empat atau dikala menonton kartun atau film, menjadi tanda lain jikalau mereka membutuhkan lebih banyak tidur. 
    Anak yang cukup tidur akan bangkit dengan sendirinya tanpa pertolongan alarm. Untuk anak batita atau prasekolah yang tetap membutuhkan tidur siang, waktu istirahatnya jangan terlalu sore guna menghindari waktu tidur yang terlambat di malam hari. Sehingga mereka tetap mendapat cukup waktu tidur dalam periode waktu 24 jam. 

    Sumber : kompas
    www.reuters.com
    Editor :
    Lusia Kus Anna
    dranak.com

    Minggu, 05 November 2017

    Melatih anak kita untuk disiplin

    Dokter Anak




    Melatih anak untuk disiplin bisa dilakukan dengan aneka macam cara, salah satunya ialah dengan membiasakan sarapan pagi. Anak bisa mulai disiplin jikalau dilatih dengan jadwal yang sudah tersusun rapi mulai dari berdiri hingga berangkat sekolah.

    Psikolog keluarga Roslina Verauli, MPsi. Psi, yang dekat disapa Vera mengatakan pada momen sarapan pagi banyak aspek kehidupan mulai dari biologis, stimulasi, dan psikososial yang bisa terpenuhi. Oleh alasannya itu sangat disayangkan jikalau keluarga tak terbiasa melaksanakan sarapan.

    "Ada banyak hal yang bisa ditanamkan ketika sarapan. Disiplin misalnya 'hai udah jam 6 kita harus sudah kumpul di meja ini', itu disiplin. Anak datang sendiri, terus ambil makanan sesuai porsinya tidak kelebihan, terus dihabiskan," kata Vera pada program Bulan Sarapan Sempurna.

    Vera menambahkan dengan menjiplak kebiasaan orang bau tanah ditambah dengan interaksi yang terjadi ketika sarapan maka anak juga akan bisa meningkatkan wawasannya. Sebagai referensi ayah atau ibu bisa saja menjawab atau menunjukan sesuatu dari unek-unek pertanyaan anak sambil menyantap hidangan.

    "Proses edukasi itu terjadi di pagi hari di meja makan. Diskusi hal-hal yang umum sehingga pengetahuan anak bisa bertambah," kata Vera.

    Sarapan sendiri juga memenuhi kebutuhan karbohidrat otak sehingga anak bisa lebih fokus menyerap pelajaran baik di rumah maupun sekolah.

    smbr:detik

    dranak.com
    #dokteranak