Sudah lama sekali blog ini tidak diupdate, tetapi masih saja ada yang datang berkunjung.
Kali ini saya akan share pengalaman saya selama memerah ASI dikala anak kedua. Kondisi saya dikala itu gotong royong agak susah untuk menyimpan ASIP. Mengapa? Di kantor sama sekali tidak ada kulkas, adanya kulkas minuman di koperasi yang setiap dikala dibuka dan ditutup pembeli. Tidak hanya suhu yang kurang terjaga, namun juga kemungkinan terjamah oleh tangan-tangan lain.
Sebelum saya share lebih lanjut, mungkin mommy gres pingin tahu bagaimana seluk beluk ASI perah itu.
Masa Penyimpanan
Seperti yang dilansir oleh IDAI atau Ikatan Dokter Anak Indonesia, ada panduan lama waktu yang harus diikuti dalam menyimpan ASI Perah. Seperti daftar yang saya dapat dari http://idai.or.id, yakni sebagai berikut:
Suhu Ruangan : dengan catatan suhu maksimal 25 derajat celcius, masa penyimpanan maksimal 8 jam. Dengan catatan wadah harus tertutup dan dijaga sedingin mungkin, bila perlu dibalut dengan kain handuk.
Cooler bag tertutup : dengan suhu -15 s.d -4 derajat celcius, maksimal 24 jam dengan keterangan pastikan es watu menyentuh wadah ASI sepanjang waktu dan cooler bag tidak sering-sering dibuka.
Lemari Es : Dengan suhu 4 derajat celcius, maksimal 5 hari, dengan catatan tidak simpan di pintu namun di episode terdalam.
Freezer kulkas 1 pintu : dengan suhu -15 derajat celcius maksimal 2 minggu, dengan catatan disimpan di episode terdalam freezer.
Freezer kulkas 2 pintu : dengan suhu -18 derajat celcius 3-6 bulan, mampu disimpan melebihi waktu tersebut hanya saja kualitasnya sudah menurun.
Tempat Penyimpanan ASI Perah
Ada beberapa alternatif penyimpanan, dengan banyak sekali kualitas dan juga merk. Beberapa yang saya tahu adalah:
1. Botol susu bayi biasa namun BPA free. Tentunya yang ini lebih mahal
2. Plastik ASIP khusus
3. Botol berbahan kaca. Banyak yang menggunakan botol bekas minuman UC 1000 dengan tutup diganti dengan tutup dari minuman teh (saya lupa, entah merk apa, ada kok yang cocok.
Botol materi beling ini aman kok, asalkan sudah dicuci bersih dan disterilkan sebelum digunakan. Kalau saya biasanya dengan merebusnya. Di beberapa tempat terutama yang menggunakan sumur bor, air nya kadang berkapur, jadi kalau digunakan untuk merebus botol, akan meninggalkan lapisan putih tipis di botol. Tipsnya yakni rebuslah dengan air matang. Atau kalau perlu dengan air galon.
Adakalanya setelah merebus, mommy kesulitan mengeringkannya. Tips dari saya, setelah direbus, posisikan botol dengan episode ekspresi di atas atau jangan dibalik. Kaca yang panas akan membuat sisa-sisa air di dalam botol menguap, sehingga keluar dengan sendirinya. Jika botol dibalik, maka pengeluaran air akan berlangsung lebih lama. Hanya saja, jangan membiarkan botol dalam posisi ekspresi di atas terlalu lama sebab rentan dengan debu dari udara luar.
Perlatan untuk Memerah ASIP
Peralatan pertama yang diharapkan tentunya yakni media penyimpanan. Seperti yang sudah saya uraikan di atas, ada botol khusus, plastik atau botol kaca. Pastikan media penyimpanan bersih, khusus yang berkali-kali pakai ibarat botol, pastikan permukaan dalam dan tutupnya kering.
Kedua yakni alat memerah. Bisa dengan tangan, namun saya lebih suka dengan alat. Pompa ASI yang saya gunakan merk Pigeon manual, lebih nyaman dan terjangkau. Pastikan sudah dicuci bersih. Rangkaiannya dilepas sebelum dicuci, kemudian sterilkan. Bisa direbus, mampu dengan mesin khusus. Kalau dengan direbus, dipastikan pompa akan menguning dengan cepat (hehehehe)
Ketiga yakni media penyimpanan. Nah, saya yakin yang ini yakni yang tersulit. Seperti kondisi yang saya uraikan di awal, saya tidak punya kulkas di kantor. Makara terpaksa saya menggunakan cooler bag dengan isian blue ice. Namun blue ice juga tidak mampu bertahan lama, apalagi seharian.
Tetapi apakah mommy tahu, pada suhu ruangan, ASI mampu bertahan selama delapan jam. Artinya, kalau mau pribadi dikonsumsi pada hari yang bersamaan, ASI itu juga tidak perlu dimasukan ke kulkas lagi. Catatan, kalau mommy memompa jam sembilan pagi, ASI itu masih bagus hingga jam lima sore.
Nah, kalau kondisi ibarat saya, hanya mampu mengandalkan blue ice yang bertahan selama beberapa jam saja, maka semoga mampu menyimpan stok ASIP, maka mommy mampu perah melewati jam sembilan. Mommy mampu ukur-ukur waktu, sekiranya pulang jam lima, jam berapa mampu memerah semoga ASI tidak melewati jangka delapan jam itu.
Teman saya bahkan pernah tidak memasukan ASIP nya ke cooler bag, hanya disimpan di suhu ruangan hingga pulang, dengan catatan ASI pribadi masuk kulkas dan diberikan pribadi keesokan harinya. Tidak disimpan dalam jangka waktu lama.
Bagi beberapa bayi, mungkin tidak toleran dengan ASIP yang model begini ya, dan sekali lagi saya hanya memberi alternatif dibanding ASInya diperah dan dibuang. Sayang sekali bukan?!
Jika memungkin untuk menerima kulkas, maka akan lebih baik lagi.
Membekukan ASIP
Oke, mungkin episode ini hanya berlaku untuk ASIP yang tidak pernah disimpan dalam suhu ruangan untuk jangka waktu lama. Artinya, mommy dalam kondisi di erat kulkas, jadi mampu pribadi membekukan begitu tamat memeras.
Ada beberapa tips yang perlu diperhatikan:
1. Tutup botol atau media penyimpanan dengan kencang.
2. Sisakan ruang sekitar 2.5 cm dari tutup media. Pernah saya baca, mommy yang mengisi botol penuh hingga ke ekspresi botol, ASIPnya pecah. Jika menggunakan botol ASIP dari materi botol UC, isi cukup hingga leher botol
3. Simpan per porsi, sesuaikan dengan kebutuhan minum si kecil.
4. Letakan ASIP di episode terdalam freezer, berikan label tanggal dan jam ASI diperas.
Menghangatkan ASIP Beku
Nah, ketika mommy mau memperlihatkan ASIP pada si kecil, maka sebisa mungkin ikuti prosedur di bawah ini.
1. Semalam sebelumnya, turunkan ASIP beku ke chiller (kulkas bawah) untuk mencairkannya.
2. Ketika akan dihangatkan, maka keluarkan ASIP dan letakan di suhu ruangan selama beberapa saat, setidaknya hingga botol berkeringat. Jangan melewati setengah jam di suhu ruangan ya.
3. Siapkan mangkok berisi air hangat, kemudian letakan botol ASIP di sana.
4. Cek suhu sebelum diberikan ke bayi ya
Nah, adakalahnya ada beberapa mommy yang pribadi menghangatkan ASIP beku, terutama dikala terburu-buru. Cara ini tidak mampu dibilang salah, namun tidak juga dianjurkan. Sekali lagi dilema waktu ya mom.
Beberapa info-info penting seputar ASIP ini, yang saya kumpulkan dari banyak sekali website:
1. Nah, ASIP beku yang sudah ditaruh di chiller dan mencair, jangan pernah dipindahkan ke freezer lagi ya. membekukan berulang-ulang mampu mengurangi kualitas ASIP.
2. Jangan pernah mengocok ASIP cair sebab mampu merusak kandungannya. Jangan pula memanaskan ASIP dalam microwafe, apalagi menjerangnya dengan api di atas kompor.
3. Gunakan ASI yang disimpan paling duluan untuk menghindari kadaluarsa
4. Tips lain untuk menghangatkan ASIP adalah: pindahkan wadah ke lemari es selama 1 malam atau ke dalam kolam berisi air dingin. Naikkan suhu air perlahan-lahan hingga mencapai suhu derma ASI
5. ASI yang telah dihangatkan kadang terasa ibarat sabun sebab hancurnya komponen lemak. ASI dalam kondisi ini masih aman untuk dikonsumsi. Apabila ASI berbau bacin sebab kandungan lipase (enzim pemecah lemak) tinggi, setelah diperah, hangatkan ASI hingga muncul gelembung pada episode tepi (jangan mendidih) lalu segera didinginkan dan dibekukan. Hal ini dapat menghentikan acara lipase pada ASI. Dalam kondisi inipun kualitas ASI masih lebih baik dibandingkan dengan susu formula.
6. ASI yang sudah diperah hanya mampu digabung kalau waktu perahnya dalam kurun waktu 24 jam. Artinya, kalau mommy memerah jam 8, ASIP itu mampu digabung dengan ASIP jam 12. Asalkan suhunya sama, jadi letakan dulu di dalam lemari es selama setidaknya satu jam hingga suhu sama, gres kemudian digabung.
7. Memilih blue ice, pilih yang ukuran besar. jangan pilih yang ukuran kecil sebab akan mencair lebih cepat (sekalipun banyak).
8. ASIP yang sudah dihangatkan tidak boleh disimpan lagi ya.
9. ASIP yang sudah dicairkan, tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam biarpun dalam
Sekali lagi, ini hanya sharing dan ngumpulin gosip dari beberapa website ya mom, bukan petunjuk medis. Jadi, kalau ada hal-hal yang sekiranya tidak cocok, mampu kok ditanyakan ke ahlinya.
Tampilkan postingan dengan label Seputar ASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar ASI. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 Desember 2017
Sabtu, 09 Desember 2017
Menyusui dikala Hamil, Bolehkah?
Salah satu resiko dari jarak usia anak yang rapat yaitu si kakak bawah umur untuk disapih, sementara si adik sudah nunggu giliran untuk brojol. Apakah mommy mengalaminya?
Tenang, mommy tidak sendirian, ada saya (dulu sih) dan jutaan ibu-ibu di dunia mengalami ini (tanda bahwa kegiatan pemerintah yang menyatakan si kakak gres boleh punya adik setelah umur lima tahun itu GATOT, hee).
Jika mommy sudah sempat searching, pasti akan menemukan ribuan artikel yang memperbolehkan menyusui dikala hamil dan bahkan tandem nursing (menyusui si kakak dan si adik secara bersamaan). Berbagai keuntungan dan kekurangan, sudah pasti Mommy temukan terlebih dahulu di sana sebelum baca postingan saya yang tidak bergizi ini.
Saya sendiri sudah hamil ketika si Cuta umur sembilan lebih. Karena sudah sangat-sangat tahu manfaat ASI, saya berusaha untuk terus menyusui walaupun dilarang oleh mertua dan juga dokter. Alasannya, menganggu kandungan. Pada awalnya saya ngotot, apalagi banyak saya temukan curhat-curhat mommy di milis yang berhasil melewati masa ini sampai jadinya mampu tandem nursing.
Saya pun mencoba mencari pembenaran kembali atas niat saya, bahwa kehamilan yang pertama tidak bermasalah, tidak ada riwayat keguguran atau pun lahir prematur. Istilahnya, saya menganggap kondisi saya cukup berpengaruh untuk menyusui selama hamil.
Niat itu pun berlangsung selama dua bulanan, sampai si Cuta berumur setahun. Dan nyatanya, saya menyerah. Haaa... padahal awal-awal heboh sama suami mau tandem nursing, namun gres dua bulan sudah keok.
Ternyata menjadi pejuang ASI tidak segampang itu. Ada puluhan malam yang harus dihabiskan dengan sakit pinggang, tubuh lemas tidak bertenaga dan kurang enak badan. Namun bukan itu yang membuat saya menyerah, melainkan kontraksi dini yang membuat niat saya keder. Iyap, salah satu alasan saya mengalah menyusui selama hamil yaitu resiko keguguran akhir kontraksi. Dokter bilang kandungan saya lemah alasannya yaitu sudah mengalami kontraksi di awal-awal kehamilan, sehingga dengan menyusui mampu menambah resiko keguguran.
Akhirnya, ya sudah. Selesailah si Cuta menyusui. Waktu itu jujur, merasa berdosa sekali alasannya yaitu tidak berhasil menamatkan ia ASI selama dua tahun. Namun ternyata, harapan berhenti itu juga bukan dari saya saja, tapi si Cuta juga mulai tidak puas dengan jumlah ASI sehingga lebih memilih susu botol (padahal di sebelas umur pertamanya ia anti susu botol). Kaprikornus proses menyapihnya gampang banget.
Menyusui selama hamil tidaklah gampang, butuh perlindungan suami dan juga kemauan sang ibu. Hanya saja, beberapa ibu tidak dilimpahi oleh persediaan ASI yang cukup. Walaupun secara teori, supply ASI berdasarkan kebutuhan, namun adakalanya seorang ibu harus berusaha lebih banyak untuk menyiapkan persediaan lebih untuk bayinya, terlebih dikala hamil.
Asupan makanan dan cairan, kondisi psikis, tekanan lingkungan atau pekerjaan, kondisi kesehatan. Semua faktor itu turut andil, tidak semata alasannya yaitu bayi minta terus keluarannya banyak. Bagaimana pun, pabrik akan beroperasi jikalau mesinnya dalam kualitas prima dan materi bakunya cukup. Jadi, saya tidak akan sok menceramahi seorang ibu yang mengeluh ASI nya kurang dengan teori supply and demand (didemo ibu-ibu pro ASI sedunia).
Pada dasarnya,ASI memang penting, tapi dalam kasus menyerupai ini, bagi saya si calon adik tetaplah ada prioritas. Bagaimana kita menjaga anak pertama dikala hamil, begitu pula harusnya kita merawat si anak kedua. Jadi, sekalipun dengan itu si kakak harus berhenti ASI.
Kalau mommy konsultasi ke dokter, hahhaa.... mungkin kebanyakan dokter akan menyarankan untuk stop menyerupai dokter kandungan saya. Wajar, mereka kan dokter kandungan, bukan dokter anak, apalagi jago laktasi. Tapi tetap saja sih, selain Allah dan Mommy, mereka yang paling tahu kondisi kandungan kita.
Kaprikornus apakah menyusui selama hamil itu boleh? Dengan banyaknya isu di sekitar, kita tetap kembali ke diri sendiri. Apakah kondisi tubuh mommy siap dengan hal itu?
Tenang, mommy tidak sendirian, ada saya (dulu sih) dan jutaan ibu-ibu di dunia mengalami ini (tanda bahwa kegiatan pemerintah yang menyatakan si kakak gres boleh punya adik setelah umur lima tahun itu GATOT, hee).
Jika mommy sudah sempat searching, pasti akan menemukan ribuan artikel yang memperbolehkan menyusui dikala hamil dan bahkan tandem nursing (menyusui si kakak dan si adik secara bersamaan). Berbagai keuntungan dan kekurangan, sudah pasti Mommy temukan terlebih dahulu di sana sebelum baca postingan saya yang tidak bergizi ini.
Saya sendiri sudah hamil ketika si Cuta umur sembilan lebih. Karena sudah sangat-sangat tahu manfaat ASI, saya berusaha untuk terus menyusui walaupun dilarang oleh mertua dan juga dokter. Alasannya, menganggu kandungan. Pada awalnya saya ngotot, apalagi banyak saya temukan curhat-curhat mommy di milis yang berhasil melewati masa ini sampai jadinya mampu tandem nursing.
Saya pun mencoba mencari pembenaran kembali atas niat saya, bahwa kehamilan yang pertama tidak bermasalah, tidak ada riwayat keguguran atau pun lahir prematur. Istilahnya, saya menganggap kondisi saya cukup berpengaruh untuk menyusui selama hamil.
Niat itu pun berlangsung selama dua bulanan, sampai si Cuta berumur setahun. Dan nyatanya, saya menyerah. Haaa... padahal awal-awal heboh sama suami mau tandem nursing, namun gres dua bulan sudah keok.
Ternyata menjadi pejuang ASI tidak segampang itu. Ada puluhan malam yang harus dihabiskan dengan sakit pinggang, tubuh lemas tidak bertenaga dan kurang enak badan. Namun bukan itu yang membuat saya menyerah, melainkan kontraksi dini yang membuat niat saya keder. Iyap, salah satu alasan saya mengalah menyusui selama hamil yaitu resiko keguguran akhir kontraksi. Dokter bilang kandungan saya lemah alasannya yaitu sudah mengalami kontraksi di awal-awal kehamilan, sehingga dengan menyusui mampu menambah resiko keguguran.
Akhirnya, ya sudah. Selesailah si Cuta menyusui. Waktu itu jujur, merasa berdosa sekali alasannya yaitu tidak berhasil menamatkan ia ASI selama dua tahun. Namun ternyata, harapan berhenti itu juga bukan dari saya saja, tapi si Cuta juga mulai tidak puas dengan jumlah ASI sehingga lebih memilih susu botol (padahal di sebelas umur pertamanya ia anti susu botol). Kaprikornus proses menyapihnya gampang banget.
Menyusui selama hamil tidaklah gampang, butuh perlindungan suami dan juga kemauan sang ibu. Hanya saja, beberapa ibu tidak dilimpahi oleh persediaan ASI yang cukup. Walaupun secara teori, supply ASI berdasarkan kebutuhan, namun adakalanya seorang ibu harus berusaha lebih banyak untuk menyiapkan persediaan lebih untuk bayinya, terlebih dikala hamil.
Asupan makanan dan cairan, kondisi psikis, tekanan lingkungan atau pekerjaan, kondisi kesehatan. Semua faktor itu turut andil, tidak semata alasannya yaitu bayi minta terus keluarannya banyak. Bagaimana pun, pabrik akan beroperasi jikalau mesinnya dalam kualitas prima dan materi bakunya cukup. Jadi, saya tidak akan sok menceramahi seorang ibu yang mengeluh ASI nya kurang dengan teori supply and demand (didemo ibu-ibu pro ASI sedunia).
Pada dasarnya,ASI memang penting, tapi dalam kasus menyerupai ini, bagi saya si calon adik tetaplah ada prioritas. Bagaimana kita menjaga anak pertama dikala hamil, begitu pula harusnya kita merawat si anak kedua. Jadi, sekalipun dengan itu si kakak harus berhenti ASI.
Kalau mommy konsultasi ke dokter, hahhaa.... mungkin kebanyakan dokter akan menyarankan untuk stop menyerupai dokter kandungan saya. Wajar, mereka kan dokter kandungan, bukan dokter anak, apalagi jago laktasi. Tapi tetap saja sih, selain Allah dan Mommy, mereka yang paling tahu kondisi kandungan kita.
Kaprikornus apakah menyusui selama hamil itu boleh? Dengan banyaknya isu di sekitar, kita tetap kembali ke diri sendiri. Apakah kondisi tubuh mommy siap dengan hal itu?
Jumat, 08 Desember 2017
Tips Merebus Botol Kaca ASIP
Apakah Ibu menggunakan botol beling untuk menampung ASI perah? Nah, sehabis pakai, botol beling tersebut harus dicuci dan disterilkan. Cara sterilisasi biasanya dilakukan dengan cara merebusnya dalam air mendidih.
Nah, berdasarkan pengalaman pribadi, ada beberapa cara yang mampu digunakan dalam merebus botol beling wadah ASIP. Apa saja?
Air
Jika Ibu menggunakan air sumur atau air tanah, maka biasanya akan meninggalkan lapisan putih pada bab dalam atau pun luar botol. Nah, cara mensiasatinya adalah, gunakan air matang. Air yang sudah direbus terlebih dahulu, dan kemudian didinginkan, maka kandungan kapurnya akan mengendap. Makara dikala digunakan kembali untuk merebus botol, kandungan kapur yang mengakibatkan lapisan putih sudah berkurang.
Posisi meletakkan botol
Setelah merebus, biasanya botol dalam kondisi panas. Jangan letakan botol dalam posisi terbalik, alasannya yaitu uap panas yang terbentuk akan terkumpul di dasar botol (yang berada di posisi atas). Saat suhu botol mendingin, uap itu akan terkondensasi dan meninggalkan tetes tetes air sehingga bab dalam botol masih tetap basah.
Letakan botol dalam posisi tengadah (bagian lisan di atas) sehingga uap air mampu keluar dengan bebas. Air di bab dalam botol juga akan menguap jawaban dari suhu botol yang tinggi. Untuk menghalangi masuknya bubuk ke bab dalam botol, maka tutup botol-botol yang masih panas itu dengan kain bersih, atau penutup yang berpori. Jangan gunakan tutup panci atau plastik alasannya yaitu uap akan tertahan sehingga membentuk tetesan air yang mampu kembali jatuh ke dalam botol.
Setelah bab dalam botol kering dan suhunya dingin, maka cepat-cepat tutup botol dengan penutupnya untuk menghindari masuknya kotoran atau debu.
Untuk panduan, ASI perah secara lengkap, silahkan mampir ke artikel Manajemen ASI Perah untuk Ibu Bekerja
Nah, berdasarkan pengalaman pribadi, ada beberapa cara yang mampu digunakan dalam merebus botol beling wadah ASIP. Apa saja?
Air
Jika Ibu menggunakan air sumur atau air tanah, maka biasanya akan meninggalkan lapisan putih pada bab dalam atau pun luar botol. Nah, cara mensiasatinya adalah, gunakan air matang. Air yang sudah direbus terlebih dahulu, dan kemudian didinginkan, maka kandungan kapurnya akan mengendap. Makara dikala digunakan kembali untuk merebus botol, kandungan kapur yang mengakibatkan lapisan putih sudah berkurang.
Posisi meletakkan botol
Setelah merebus, biasanya botol dalam kondisi panas. Jangan letakan botol dalam posisi terbalik, alasannya yaitu uap panas yang terbentuk akan terkumpul di dasar botol (yang berada di posisi atas). Saat suhu botol mendingin, uap itu akan terkondensasi dan meninggalkan tetes tetes air sehingga bab dalam botol masih tetap basah.
Letakan botol dalam posisi tengadah (bagian lisan di atas) sehingga uap air mampu keluar dengan bebas. Air di bab dalam botol juga akan menguap jawaban dari suhu botol yang tinggi. Untuk menghalangi masuknya bubuk ke bab dalam botol, maka tutup botol-botol yang masih panas itu dengan kain bersih, atau penutup yang berpori. Jangan gunakan tutup panci atau plastik alasannya yaitu uap akan tertahan sehingga membentuk tetesan air yang mampu kembali jatuh ke dalam botol.
Setelah bab dalam botol kering dan suhunya dingin, maka cepat-cepat tutup botol dengan penutupnya untuk menghindari masuknya kotoran atau debu.
Untuk panduan, ASI perah secara lengkap, silahkan mampir ke artikel Manajemen ASI Perah untuk Ibu Bekerja
Rabu, 06 Desember 2017
Menyusui: Apakah Bayi Saya Mendapat cukup ASI?
Tanda bayi kenyang minum ASI
Ketika Ibu pertama kali mulai menyusui, Ibu mungkin khawatir bayi tidak menerima cukup ASI. Ibu juga tidak mampu menyebutkan secara jelas, seberapa banyak si bayi sudah minum ASI.
Membingungkan bukan? Ketika jumlah minum seharian mereka hanya diketahui oleh sang bayi dan sang bayi sendiri belum mampu mengatakannya secara langsung. Padahal, bayi memberitahu Ibu loh, hanya saja lewat hal popok yang basah, lewat kotoran / feses/ pup di popok dan juga lewat bunyi mereka dikala menelan ASI.
Namun kadang Ibu gres kurang percaya diri dan membutuhkan kepastikan bahwa si bayi menerima cukup susu. Apalagi jikalau si bayi selalu meminta dan meminta, maka Ibu mampu jadi berpikir bahwa produksi ASI tidak cukup.
Nah, untuk tahu apakah bayi Ibu sudah mendapat cukup ASI atau tidak, mari kita mulai bahasan ini dengan posisi menyusui dan pelekatan.
Apa itu pelekatan?
Pelekatan itu yaitu letak ekspresi bayi pada payudara ibu ketika sedang menyusu. Ini penting sekali, alasannya pelekatan yang baik akan memudahkan bayi menyusu. Bagi Ibu, pelekatan yang baik juga mengurangi resiko puting lecet selama menyusui.
Diambil dari kemangmedicalcare.com, berikut posisi menyusui yang baik untuk Ibu.
1. Carilah posisi ternyaman.
2. Kemudian dekap/gendong bayi sehingga wajah bayi menghadap ke payudara ibu, hidung bayi sejajar dengan puting ibu;
3. Tubuh bayi juga menghadap ke tubuh ibu (perut bayi menempel ke perut Ibu), sehingga kepala dan tubuh bayi berada dalam 1 garis lurus (kepala bayi tidak menengok ke kiri atau ke kanan);
4. kepala bayi lebih rendah daripada payudara ibu, sehingga kepala bayi mendongak keatas dan tidak menunduk kebawah, dalam posisi menyerupai ini, dagu bayi dan hidungnya yang akan menempel ke payudara ibu;
5. leher dan pundak bayi ditopang serta tubuh didekap dekat ke tubuh ibu.
Pelekatan:
1. Usahakan biar bayi memasukkan payudara ibu ke dalam mulutnya dari arah bawah, sehingga ketika sedang menyusu lebih banyak terlihat areola ibu pada adegan atas bibir atas dibandingkan dengan areola pada adegan bawah bibir bawah bayi;
2. Mulut bayi terbuka lebar seperti sedang menguap atau menangis, sehingga tidak saja puting ibu yang masuk ke dalam ekspresi bayi tetapi juga sebagian besar areola, alasannya pabrik-pabrik ASI banyak yang terletak dibawah areola;
3. Bibir bayi, baik yang atas maupun yang bawah, terlipat keluar (dower) dan tidak terlipat kedalam ketika sedang menyusu;
4. Dagu bayi menempel pada payudara ibu, dan terlihat juga lipatan pada adegan dagu yang mengambarkan bahwa bayi sedang membuka ekspresi dengan lebar.
Lalu, bagaimana tanda-tanda bahwa bayi melekat dengan baik?
• Mulut bayi terbuka lebar dan penuh dengan payudara Ibu. kadang puting bahkan tidak terlihat.
• Dagu bayi menyentuh payudara Ibu, bibir bawah mereka bergulung (Ibu tidak selalu mampu melihat ini) dan hidung bayi tidak tergencet payudara.
• Payudara/puting Ibu tidak merasa sakit dikala bayi menyusu, meskipun awal-awalnya sedikit terasa perih. Tapi kelamaan, rasa sakit itu berkurang.
• Area gelap sekitar puting (areola) sempurna berada di atas bibir atas bayi, dan juga di bawah bibir bawah bayi.
Tanda-tanda bayi menerima cukup ASI/Susu
• bayi mulai minum dengan tegukan cepat yang diikuti tegukan lama, lalu tegukan berirama dengan sesekali jeda untuk menelan.
• Ibu dapat mendengar dan melihat bayi menelan.
• Selama menghisap, pipi bayi tetap bulat.
• Bayi tampak damai dan kalem selama menyusui.
• Bayi mengakhiri sesi minum dan melepas payudara dengan sendirinya.
• Mulut mereka tampak lembab setelah menyusu. Kadang sisa-sisa susu tampak di sudut bibir.
• Bayi tampak puas setelah menyusu.
• Payudara terasa lebih lembut setelah menyusu.
• Ibu mungkin merasa mengantuk dan kalem setelah menyusui.
Tanda-tanda lain bahwa bayi menyusu dengan baik
• Peningkatan berat tubuh bayi terjadi secara berangsur-angsur setelah ahad pertama. Kehilangan berat tubuh lahir untuk bayi dalam dua ahad pertama setelah kelahiran juga normal. Sebagai fatwa kasar: Bayi harus menerima sekitar 6 hingga 8 ons per seminggu selama empat bulan pertama, kemudian sekitar 4 hingga 6 ons per ahad pada umur 4 hingga 7 bulan.
• Dari hari kelima dan seterusnya, popok seharusnya lebih sering basah, setidaknya dalam 24 jam, ada 6 hingga 8 popok kain yang berair keras. Jika menggunakan popok sekali pakai, setidaknya harus ada 5 popok berair dalam waktu 24 jam. Dalam 48 jam pertama, ketika bayi hanya mengonsumsi kolostrum, bayi mungkin gres memiliki dua atau tiga popok berair per hari. Urin harus tidak berbau dan terperinci / sangat pucat. Urin yang gelap dan pekat menawarkan bahwa bayi membutuhkan lebih banyak ASI.
• Pada bulan pertama, bayi setidaknya akan pup 3 kali sehari dengan tekstur sewarna mustard kekuningan, dimulai dalam waktu lima hingga tujuh hari setelah lahir. dikala berusia sebulan, bayi juga mungkin akan pup lebih jarang atau tidak pup selama beberapa hari. Setelah bayi mendapat makanan pendamping ASI, bayi biasanya akan BAB setidaknya 1 kali sehari.
Baca juga : Mengenali Jenis Kotoran / Pup/ Feses pada Bayi
Apa tanda-tanda bahwa bayi aku tidak menerima cukup ASI?
Perhatikan tanda-tanda ini jikalau Ibu khawatir wacana asupan susu bayi Ibu:
• Berat tubuh bayi terus turun. Jika beratnya tidak meningkat setelah lima hari, atau jikalau ia mulai kehilangan berat tubuh lagi setiap waktu setelah itu, konsultasikanlah ke dokter.
• Bayi membasahi kurang dari enam popok dalam waktu 24 jam setelah lima hari setelah kelahirannya.
• Pup bayi kecil dan gelap setelah lima hari kelahirannya.
• Urin bayi sangat gelap, menyerupai warna jus apel. (Jika urin pucat atau jelas, beliau menerima cukup cairan. Jika lebih terkonsentrasi, mungkin menjadi tanda bahwa asupan cairannya rendaha)
• Bayi sering rewel atau lesu. Dia mampu tertidur segera setelah diminta menyusu tapi kemudian rewel ketika Ibu lepaskan dari payudara.
• Mulut dan mata bayi tampak kering.
• Bayi tampak tidak puas, bahkan jikalau menyusui secara konsisten dalam waktu lebih dari satu jam.
• Payudara Ibu tidak merasa lebih lembut setelah menyusui.
• Ibu jarang mendengar bayi menelan dikala menyusu. (beberapa bayi memang penyusu dengan sangat pelan. Makara jikalau tanda-tanda lainnya positif, adegan ini mampu diabaikan.)
Apa yang terjadi jikalau bayi tidak menerima cukup ASI?
Meskipun sebagian besar ibu mampu memenuhi kebutuhan bayi dengan ASI mereka, kadang kala ada juga bayi yang tidak menerima cukup ASI. Lalu, ketika duduk perkara itu tidak ditangani, bayi mampu menderita dehidrasi dan gagal tumbuh.
Jika Ibu khawatir bahwa bayi tidak menerima cukup susu, hubungi dokter anak atau konsultasi dengan konsultan laktasi.
Beberapa Ibu juga mengatasinya dengan dukungan susu formula. Hal ini tentu tergantung dengan kondisi, alasannya dukungan formula lewat botol malah mampu semakin mengurangi impian bayi untuk menyusu langsung. Namun untuk kasus-kasus serius, biasanya dukungan susu formula ini sangat dianjurkan.
Seberapa sering bayi akan menyusu?
Ada rentang yang sangat luas dari apa yang dianggap normal. Beberapa bayi suka menyusui sepanjang waktu - bukan hanya untuk makanan, tetapi juga untuk kesenangan – sementara bayi yang lain menyusu hanya ketika mereka lapar. Bayi mungkin terlalu mengantuk untuk menyusu dalam 24 jam pertama mereka. Tapi setelah itu, inilah yang khas:
Baca juga : Pentingnya interval waktu 2 Jam dukungan ASI bagi NB
1-7 minggu
Setiap 2 hingga 3 jam
8 hingga 12 kali sehari
Jumlah ini tampak banyak dan membuat Ibu bertanya-tanya apakah bayi menerima cukup susu setiap menyusu. Namun Ibu perlu ingat bahwa perut bayi masih kecil, sehingga mereka hanya minum secukupnya dan dalam waktu sering.
2 hingga 5 bulan
Setiap 2, 5 hingga 3,5 jam
7-9 kali sehari
Saat ini bayi sudah tumbuh lebih besar dan menjadi lebih efisien dalam menyusui.
6 bulan dan seterusnya
Setiap 5 hingga 6 jam
4 hingga 5 kali sehari
Penyebab Bayi Muntah setelah Menyusu
Muntah sangat umum terjadi pada bayi dan biasanya (tetapi tidak selalu) normal. Kebanyakan bayi berusia muda mengalami muntah karena sistem pencernaan mereka belum matang, sehingga memudahkan isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan. Kadang mereka juga muntah lewat hidung.
Sebelumnya, penting bagi ibu untuk mampu membedakan gumoh dan muntah. Tidak menyerupai halnya gumoh dimana bayi sendiri terlihat tidak menyadari, muntah menawarkan suatu dorongan terhadap bayi dan biasanya menimbulkan bayi menjadi stress dan gelisah. Muntah biasanya terjadi setelah sesi menyusui dan yang dikeluarkan lebih banyak dari gumoh. Jika bayi biasa muntah (sekali atau lebih setiap hari), atau kalau ibu menemukan adanya darah atau warna hijau terperinci pada muntah bayi, segera hubungi dokter anak
.
Bayi sering muntah ketika mereka meminum terlalu banyak susu dalam waktu cepat. Terutama kalau bayi menyusu dengan sangat cepat dan agresif, atau ketika payudara Ibu sedang penuh. Jika bayi mudah terganggu dikala menyusu (dia melepas payudara Ibu untuk melihat-lihat) atau rewel pada payudara, si bayi kemungkinan menelan udara dan mengalami muntah dengan frekuensi lebih sering.
Penyebab yang paling umum ialah karena ASI atau susu yang ditelan bayi, kembali ke kerongkongan atau yang disebut sebagai refluks, karena gangguan otot antara esofagus dan lambung bayi. Bayi kemungkinan mengalami refluks karena ukuran perutnya sangat kecil sehingga mudah penuh. Refluks juga terjadi karena katup pada esofagus belum matang untuk bekerja optimal.
Beberapa bayi juga mengalami muntah ketika mereka tumbuh gigi, mulai merangkak atau mulai MPASI.
Kebanyakan bayi yang sehat akan mengalami tahap ini di umur 4-6 bulan. Namun kalau bayi Ibu mengalami peningkatkan berat tubuh yang baik dan frekuensi kencingnya cukup (6-8 kali berganti popok kain atau 5-6 popok sekali pakai) dan buang air minimal 3 kali dalam waktu 24 jam (biasanya untuk bayi berusia lebih dari 6 ahad akan semakin jarang BAB), maka urusan muntah ini bukan problem yang serius.
Selain itu, menurut situs Mayo Clinic, muntah pada bayi ini tidak perlu dicemaskan kecuali kalau bayi tidak mendapat kenaikan berat padan atau merasa tidak nyaman.
Beberapa penyebab bayi muntah secara berlebihan:
• Kelebihan pasokan ASI atau let-down reflex-nya berpengaruh sehingga mampu menimbulkan gejala refluks dan biasanya dapat diatasi dengan langkah-langkah sederhana.
• Sensitif terhadap makanan juga mampu menimbulkan muntah secara berlebihan. Yang paling sering ialah produk susu sapi (pada makanan Ibu atau bayi).
• Bayi dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) biasanya muntah banyak. GERD terjadi ketika isi lambung kembali ke kerongkongan dan keluar lewat lisan menjadi gumoh atau muntah. Kandungan lambung tersebut dapat berupa air liur, minuman atau makanan yang tertelan, sekresi (pengeluaran) pankreas dan cairan empedu.
• Posisi menyusui. Kebiasaan ibu menyusui pada posisi miring akan membuat bayi muntah. Ini di karenakan posisi bayi terlentang sehingga cairan masuk ke terusan pencernaan melainkan ke terusan napas. Sebaiknya posisi bayi dalam keadaan miring, kepala lebih tinggi dari kaki dan membentuk 45 derajat. Cairan yang masuk eksklusif turun kebawah.
• Meskipun jarang terlihat pada bayi ASI, muntah berlebihan pada bayi gres lahir dapat menjadi tanda stenosis pilorus, sebuah problem perut yang membutuhkan pembedahan. Hal ini terjadi 4 kali lebih sering pada anak laki-laki dari pada anak perempuan, dan gejala biasanya muncul antara usia 3 dan 5 minggu.
Bagaimana caranya mengurangi frekuensi muntah pada bayi?
• Bantu bayi semoga bersendawa, baik itu bayi yang menyusu pada payudara ataupun botol. Khusus untuk bayi yang disusui dengan botol minimal, usahakan bayi bersendawa setiap 3 hingga 5 menit selama menyusu.
• Hindari menyusu ketika bayi berada dalam posisi tiduran
• Tahan bayi dalam posisi tegak selama 20 hingga 30 menit setiap setelah sesi menyusui
• Jika bayi menyusu dari botol, pastikan lubang pada dot tidak terlalu besar (yang membuat susu mengalir terlalu cepat) atau terlalu kecil (yang mampu membuat bayi frustasi sehingga dapat menelan lebih banyak udara). Dot dengan ukuran yang pas yaitu kalau botol dibalikkan akan keluar beberapa tetes susu kemudian berhenti
• Ciptakan suasana tenang, hening dan menyenangkan dalam setiap sesi menyusui bayi.
• Hindari interupsi, bunyi ribut tiba-tiba, cahaya terang, dan gangguan lainnya selama menyusui bayi
• Jangan eksklusif bermain yang membuat bayi terlalu bersemangat segera setelah menyusui
• Usahakan untuk menyusui bayi sebelum ia memberi tanda terlalu lapar
• Naikkan adegan kepala crib dengan blok (jangan gunakan bantal) dan tidurkan bayi dengan terlentang. Hal ini akan membantu kepala bayi berada dalam posisi lebih tinggi dari perutnya dan menghindari bayi dari tersedak apabila ia muntah ketika tidur.
• Jauhkan bayi dari paparan asap tembakau, lingkungan dengan asap rokok merupakan faktor yang signifikan untuk refluks.
• Mengurangi atau menghilangkan kafein. kafein yang berlebihan dalam makanan ibu juga akan berkontribusi untuk refluks.
Cara Menyendawakan bayi
1. Gendong bayi dalam posisi tegak menghadap tubuh ibu. posisikan semoga kepalanya sempurna di pundak Ibu, sangga punggung dan kepala bayi dengan baik. Kemudian tepuk-tepuk punggungnya secara perlahan.
2. Dudukkan bayi diatas pangkuan ibu, sangga dada dan kepala bayi dengan tangan ibu sementara tangan ibu yang lain menepuk-nepuk lembut punggung bayi. Bisa juga dengan memutar-mutar tangan ibu di punggungnya.
3. Telungkupkan bayi pada pangkuan ibu, sangga kepalanya sehingga berada dalam posisi lebih tinggi dari dadanya, lalu tepuk lembut atau putar-putar tangan ibu di punggungnya.
Kapan Ibu harus Khawatir dengan bayi muntah?
Di bulan-bulan pertama bayi, muntah lebih sering disebabkan oleh problem ringan menyerupai perut bayi yang terlalu penuh. Namun penyebabnya mampu jadi lebih serius kalau muntah itu disertai oleh gejala lain. ibu harus menghubungi dokter kalau bayi mengalami muntah dan juga gejala berikut:
• Tanda-tanda dehidrasi, termasuk lisan kering, kurangnya air mata, dan kuantitas popok berair lebih sedikit dari biasanya (kurang dari enam popok sehari).
• Demam.
• Menolak menyusu atau minum susu formula.
• Muntah selama lebih dari 12 jam, atau muntah dengan kekuatan besar.
• Mengantuk atau mudah marah.
• Sesak napas.
• Perut bengkak.
• Terdapat darah atau empedu (zat hijau) di muntahannya.
• Muntah yang andal persisten pada bayi gres lahir dalam setengah jam setelah makan
Bayi Muntah lewat Hidung
Seperti yang disampaikan oleh dr. Muzal Kadim, SpA (dilansir dari yahbunda.co. id) muntah yang disebabkan oleh GERD kadang keluar lewat hidung. Kondisi ini seringnya tidak membahayakan karena antara lisan dan hidung (juga telinga) memiliki satu saluran. Tekanan muntah yang berpengaruh akan membuat muntahan melewati jalur menuju lisan dan kemudian berlanjut hingga ke hidung (terutama pada makanan cair menyerupai susu).
Berbahayakah? Tidak, yang penting dikala terjadi muntah atau gumoh yang banyak, letakkan bayi dalam posisi tidur miring atau posisi duduk semoga beliau tidak tersedak sehingga muntahan masuk ke dalam terusan napas.
GERD juga merupakan hal yang normal, asalkan bayi tidak menolak makan atau minum dan berat badannya tetap naik. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi muntahnya antara lain dengan posisi bayi dikala menyusu. Sebaiknya bayi menyusu pada posisi setengah duduk (jangan sambil tiduran) dan disendawakan sesudahnya.
Sebelumnya, penting bagi ibu untuk mampu membedakan gumoh dan muntah. Tidak menyerupai halnya gumoh dimana bayi sendiri terlihat tidak menyadari, muntah menawarkan suatu dorongan terhadap bayi dan biasanya menimbulkan bayi menjadi stress dan gelisah. Muntah biasanya terjadi setelah sesi menyusui dan yang dikeluarkan lebih banyak dari gumoh. Jika bayi biasa muntah (sekali atau lebih setiap hari), atau kalau ibu menemukan adanya darah atau warna hijau terperinci pada muntah bayi, segera hubungi dokter anak
.
Bayi sering muntah ketika mereka meminum terlalu banyak susu dalam waktu cepat. Terutama kalau bayi menyusu dengan sangat cepat dan agresif, atau ketika payudara Ibu sedang penuh. Jika bayi mudah terganggu dikala menyusu (dia melepas payudara Ibu untuk melihat-lihat) atau rewel pada payudara, si bayi kemungkinan menelan udara dan mengalami muntah dengan frekuensi lebih sering.
Penyebab yang paling umum ialah karena ASI atau susu yang ditelan bayi, kembali ke kerongkongan atau yang disebut sebagai refluks, karena gangguan otot antara esofagus dan lambung bayi. Bayi kemungkinan mengalami refluks karena ukuran perutnya sangat kecil sehingga mudah penuh. Refluks juga terjadi karena katup pada esofagus belum matang untuk bekerja optimal.
Beberapa bayi juga mengalami muntah ketika mereka tumbuh gigi, mulai merangkak atau mulai MPASI.
Kebanyakan bayi yang sehat akan mengalami tahap ini di umur 4-6 bulan. Namun kalau bayi Ibu mengalami peningkatkan berat tubuh yang baik dan frekuensi kencingnya cukup (6-8 kali berganti popok kain atau 5-6 popok sekali pakai) dan buang air minimal 3 kali dalam waktu 24 jam (biasanya untuk bayi berusia lebih dari 6 ahad akan semakin jarang BAB), maka urusan muntah ini bukan problem yang serius.
Selain itu, menurut situs Mayo Clinic, muntah pada bayi ini tidak perlu dicemaskan kecuali kalau bayi tidak mendapat kenaikan berat padan atau merasa tidak nyaman.
Beberapa penyebab bayi muntah secara berlebihan:
• Kelebihan pasokan ASI atau let-down reflex-nya berpengaruh sehingga mampu menimbulkan gejala refluks dan biasanya dapat diatasi dengan langkah-langkah sederhana.
• Sensitif terhadap makanan juga mampu menimbulkan muntah secara berlebihan. Yang paling sering ialah produk susu sapi (pada makanan Ibu atau bayi).
• Bayi dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) biasanya muntah banyak. GERD terjadi ketika isi lambung kembali ke kerongkongan dan keluar lewat lisan menjadi gumoh atau muntah. Kandungan lambung tersebut dapat berupa air liur, minuman atau makanan yang tertelan, sekresi (pengeluaran) pankreas dan cairan empedu.
• Posisi menyusui. Kebiasaan ibu menyusui pada posisi miring akan membuat bayi muntah. Ini di karenakan posisi bayi terlentang sehingga cairan masuk ke terusan pencernaan melainkan ke terusan napas. Sebaiknya posisi bayi dalam keadaan miring, kepala lebih tinggi dari kaki dan membentuk 45 derajat. Cairan yang masuk eksklusif turun kebawah.
• Meskipun jarang terlihat pada bayi ASI, muntah berlebihan pada bayi gres lahir dapat menjadi tanda stenosis pilorus, sebuah problem perut yang membutuhkan pembedahan. Hal ini terjadi 4 kali lebih sering pada anak laki-laki dari pada anak perempuan, dan gejala biasanya muncul antara usia 3 dan 5 minggu.
Bagaimana caranya mengurangi frekuensi muntah pada bayi?
• Bantu bayi semoga bersendawa, baik itu bayi yang menyusu pada payudara ataupun botol. Khusus untuk bayi yang disusui dengan botol minimal, usahakan bayi bersendawa setiap 3 hingga 5 menit selama menyusu.
• Hindari menyusu ketika bayi berada dalam posisi tiduran
• Tahan bayi dalam posisi tegak selama 20 hingga 30 menit setiap setelah sesi menyusui
• Jika bayi menyusu dari botol, pastikan lubang pada dot tidak terlalu besar (yang membuat susu mengalir terlalu cepat) atau terlalu kecil (yang mampu membuat bayi frustasi sehingga dapat menelan lebih banyak udara). Dot dengan ukuran yang pas yaitu kalau botol dibalikkan akan keluar beberapa tetes susu kemudian berhenti
• Ciptakan suasana tenang, hening dan menyenangkan dalam setiap sesi menyusui bayi.
• Hindari interupsi, bunyi ribut tiba-tiba, cahaya terang, dan gangguan lainnya selama menyusui bayi
• Jangan eksklusif bermain yang membuat bayi terlalu bersemangat segera setelah menyusui
• Usahakan untuk menyusui bayi sebelum ia memberi tanda terlalu lapar
• Naikkan adegan kepala crib dengan blok (jangan gunakan bantal) dan tidurkan bayi dengan terlentang. Hal ini akan membantu kepala bayi berada dalam posisi lebih tinggi dari perutnya dan menghindari bayi dari tersedak apabila ia muntah ketika tidur.
• Jauhkan bayi dari paparan asap tembakau, lingkungan dengan asap rokok merupakan faktor yang signifikan untuk refluks.
• Mengurangi atau menghilangkan kafein. kafein yang berlebihan dalam makanan ibu juga akan berkontribusi untuk refluks.
Cara Menyendawakan bayi
1. Gendong bayi dalam posisi tegak menghadap tubuh ibu. posisikan semoga kepalanya sempurna di pundak Ibu, sangga punggung dan kepala bayi dengan baik. Kemudian tepuk-tepuk punggungnya secara perlahan.
2. Dudukkan bayi diatas pangkuan ibu, sangga dada dan kepala bayi dengan tangan ibu sementara tangan ibu yang lain menepuk-nepuk lembut punggung bayi. Bisa juga dengan memutar-mutar tangan ibu di punggungnya.
3. Telungkupkan bayi pada pangkuan ibu, sangga kepalanya sehingga berada dalam posisi lebih tinggi dari dadanya, lalu tepuk lembut atau putar-putar tangan ibu di punggungnya.
Kapan Ibu harus Khawatir dengan bayi muntah?
Di bulan-bulan pertama bayi, muntah lebih sering disebabkan oleh problem ringan menyerupai perut bayi yang terlalu penuh. Namun penyebabnya mampu jadi lebih serius kalau muntah itu disertai oleh gejala lain. ibu harus menghubungi dokter kalau bayi mengalami muntah dan juga gejala berikut:
• Tanda-tanda dehidrasi, termasuk lisan kering, kurangnya air mata, dan kuantitas popok berair lebih sedikit dari biasanya (kurang dari enam popok sehari).
• Demam.
• Menolak menyusu atau minum susu formula.
• Muntah selama lebih dari 12 jam, atau muntah dengan kekuatan besar.
• Mengantuk atau mudah marah.
• Sesak napas.
• Perut bengkak.
• Terdapat darah atau empedu (zat hijau) di muntahannya.
• Muntah yang andal persisten pada bayi gres lahir dalam setengah jam setelah makan
Bayi Muntah lewat Hidung
Seperti yang disampaikan oleh dr. Muzal Kadim, SpA (dilansir dari yahbunda.co. id) muntah yang disebabkan oleh GERD kadang keluar lewat hidung. Kondisi ini seringnya tidak membahayakan karena antara lisan dan hidung (juga telinga) memiliki satu saluran. Tekanan muntah yang berpengaruh akan membuat muntahan melewati jalur menuju lisan dan kemudian berlanjut hingga ke hidung (terutama pada makanan cair menyerupai susu).
Berbahayakah? Tidak, yang penting dikala terjadi muntah atau gumoh yang banyak, letakkan bayi dalam posisi tidur miring atau posisi duduk semoga beliau tidak tersedak sehingga muntahan masuk ke dalam terusan napas.
GERD juga merupakan hal yang normal, asalkan bayi tidak menolak makan atau minum dan berat badannya tetap naik. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi muntahnya antara lain dengan posisi bayi dikala menyusu. Sebaiknya bayi menyusu pada posisi setengah duduk (jangan sambil tiduran) dan disendawakan sesudahnya.
Selasa, 05 Desember 2017
5 Tahap Proses Produksi ASI
Bagi calon Ibu, tentu salah satu hal yang membuat gundah sebelum kelahiran itu ialah produksi ASI. Apakah ASI akan keluar? Apakah produksi ASI terhambat? Bagaimana caranya meningkatkan produksi ASI?
Berbagai macam pertanyaan, yang pada alhasil malah membuat Ibu tertekan sendiri.
Nah, sebelum membahas perihal cara meningkatkan produksi ASI ataupun makanan yang mampu memperbanyak ASI, sebelumnya mari kita lihat bagaimana sih proses produksi ASI di payudara Ibu itu.
Menyusui ialah suatu proses yang benar-benar alami dan telah menjadi salah satu metode paling alami untuk memberi makan bayi. Susu diproduksi oleh kelenjar, yang hanya akan diaktifkan ketika Ibu hamil. Menyusui biasanya akan memperlihatkan Ibu sekaligus sang bayi kepuasan, selain juga menciptakan bonding atau ikatan yang indah.
Nah mommies, apakah Ibu ingin tahu bagaimana susu diproduksi di payudara?
Bagaimana ASI Diproduksi di Tubuh?
Saat hamil, badan mulai memproses ASI. Hormon mulai memainkan fungsinya dalam memproduksi ASI. Walaupun produksi susu dikendalikan oleh hormon, tapi bayilah yang menentukan berapa banyak dan seberapa sering ia harus meminta ASI.
Payudara yang penuh menerangkan produksi susu yang lamban. Proses produksi susu lebih cepat kalau payudaranya kosong, selain juga kandungan lemak yang cenderung tetap tinggi dalam kasus ini. Tubuh Ibu akan memproduksi susu ketika bayi mengosongkan semua isinya.
Dua hormon utama yang bertanggung jawab untuk produksi ASI adalah:
1. Prolaktin membantu dalam produksi ASI.
2. Oksitosin membantu pergerakan susu dan menghasilkan efek ‘let down reflex’. Ibu mungkin merasa sedikit tersinggung atau kesemutan di payudara ketika proses ini.
Tahapan Berapa Banyak ASI yang Diproduksi dalam Sehari:
Ibu gres cenderung memiliki terlalu banyak pertanyaan perihal ASI. Beberapa Ibu malah menduga ASI akan eksklusif keluar deras sempurna di hari melahirkan.
Tenang, semua ada prosesnya kok. Di sini kita akan melihat bagaimana dan kapan payudara Ibu akan produksi ASI. Payudara Ibu melalui beberapa beberapa proses berbeda ketika memproduksi susu.
1. Tahap Pertama:
Ini dimulai pada trimester kedua kehamilan. Tahap ini dikenal sebagai lactogenesis I.
• Hormon dilepaskan di kelenjar susu untuk mulai memproduksi susu.
• Setelah sekitar 1 atau 2 hari melahirkan, payudara hanya menghasilkan sedikit kolostrum.
• Zat berwarna pekat ini merupakan makanan pertama untuk bayi.
2. Tahap Kedua:
Tahap ini dimulai setelah sekitar 4 hari setelah Ibu melahirkan.
• Susu matang keluar pada tahap ini. Lactogenesis II ialah tahap ketika susu keluar dalam volume besar.
• Ibu mungkin mencicipi kepenuhan di payudara bersamaan dengan peningkatan produksi susu.
• Tahap ini mampu juga gres terjadi setelah 10 hari.
• Produksi susu mungkin tertunda alasannya ialah dilema ibarat obesitas atau diabetes.
• Puting datar atau operasi caesar juga mampu menimbulkan keterlambatan.
3. Tahap Ketiga:
Tahap ini dimulai ketika bayi berusia sekitar 9 hari.
• Tahap ketiga berlanjut hingga Ibu berhenti menyusui.
• Ibu harus mengeluarkan susu secara teratur dari payudara untuk memastikan payudara terus menghasilkan susu.
• Ibu mampu menggunakan pompa payudara untuk keperluan ini.
4. Tahap Keempat:
Ini berlangsung selama sekitar 40 hari setelah sesi terakhir Ibu menyusui. Pada tahap ini produksi susu Ibu akan berkurang secara bertahap hingga berhenti sepenuhnya.
5. Susu Let-Down: (ASI menetes dengan sendirinya)
Ini mengacu pada proses susu yang mengalir keluar payudara.
• Ibu mungkin mengalami perasaan kesemutan dalam proses ini.
• Let-down mampu terjadi ketika bayi mulai untuk menyusu.
• Selain itu juga mampu terjadi ketika Ibu mendengar, melihat atau memikirkan bayi.
Bagaimana ASI Diproduksi?
Kelenjar dalam payudara (mammary glands) Ibu menghasilkan ASI. Setiap episode dari kelenjar ini memainkan tugas berbeda dalam memproduksi ASI. Di sini kita akan melihat lebih akrab bagaimana susu diproduksi di payudara:
• Alveoli ialah tempat dimana ASI diproduksi. Anggur ibarat kantung yang dikelilingi oleh otot-otot kecil yang meremas untuk menghasilkan susu di duktus.
• Duktus ialah jalan masuk kecil yang mengangkut susu dari alveoli ke saluran susu yang sebenarnya.
• Saluran susu ialah jaringan jalan masuk kompleks yang membawa susu dari alveoli dan duktules ke bayi yang gres lahir. Saluran ini mengalami pembesaran seiring dengan usia kehamilan.
Saat bayi mulai menyusu, isapannya akan merangsang otak Ibu untuk melepaskan hormon prolaktin. Setelah bayi selesai menyusu, dalam hitungan jam maka tingkat prolaktin mulai turun lagi. hormon ini akan meningkat ketika bayi menyusu lagi.
Semakin banyak Ibu memberi makan si bayi, semakin banyak dorongan tingkat prolaktin dalam fatwa darah untuk menghasilkan lebih banyak susu. Prolaktin menimbulkan menstruasi Ibu berhenti dan menekan ovulasi.
Penundaan Produksi Susu:
Dalam beberapa kasus dibutuhkan sekitar tiga hingga empat hari biar ASI keluar. Tetapi mampu jadi juga mampu ada beberapa penyebab lain. di antaranya:
• Ini terjadi kalau Ibu telah mengalami masa kerja yang penuh tekanan alasannya ialah adanya operasi caesar yang mendadak.
• Jika Ibu menderita diabetes dan sedang diobati dengan insulin. Tubuh akan mendapat sinyal yang bertentangan dalam kasus ini. Payudara akan membutuhkan insulin untuk memulai produksi susu bersama dengan tubuh. Hal terbaik yang dapat Ibu lakukan untuk merangsang produksi susu ialah dengan cara sering-sering makan.
• Masih ada beberapa fragmen plasenta, bahkan setelah kelahiran bayi sehingga mungkin mengganggu prolaktin. Dalam kasus tersebut, dokter akan mendiagnosa dan melaksanakan USG kalau diperlukan.
Baca juga : Manajemen ASI Perah untuk Ibu Bekerja
Apa Yang Bisa Ibu Lakukan Jika ASI tidak kunjung keluar setelah melahirkan?
Lakukan perawat payudara selama 2 hingga 3 jam, hal ini dapat membantu merangsang produksi susu. Berikut ialah beberapa saran bermanfaat yang dapat Ibu coba:
• Minum banyak cairan.
• Ibu perlu tidur nyenyak.
• Gunakan pompa ASI untuk merangsang produksi susu.
• Ibu mungkin perlu pelengkap untuk meningkatkan produksi susu
Ketika melahirkan anak pertama, ASI saya juga tidak eksklusif keluar. Saat itu, saya menggunakan pelengkap untuk membantu, kalau tidak salah merknya ialah Herbalacta.
Selain itu masih banyak juga suplemen-suplemen untuk melancarkan ASI yang tersedia di pasar.
Sabtu, 02 Desember 2017
Cara untuk Berhenti Menyusui / Menyapih ASI
Artikel ini meliputi:
Kapan waktu terbaik untuk menyapih bayi
Cara menyapih anak dengan cepat dan bertahap
Tips mengatasi payudara nanah dan sakit ketika menyapih
Menyusui bayi kadang memang memberi rasa sakit, sama halnya dengan berhenti menyusui atau menyapih ASI. Banyak Ibu mencari cara berhenti menyusui anak tanpa rasa sakit, alasannya kondisi ASI yang masih produktif harus segera dikeluarkan.
Nah, menyusui memang sangat bermanfaat bagi Ibu dan Bayi. Namun, seberapa besar pun manfaatnya, tetap ada waktu untuk Ibu berhenti menyusui. Berikut yakni artikel yang bisa memberi Ibu gambaran wacana menyapih anak dengan cinta.
Kapan Waktu Terbaik Untuk Berhenti Menyusui?
Ada banyak alasan mengapa Ibu memutuskan untuk berhenti menyusui. Selain ASI yang tidak keluar, umur bayi, ada pula alasannya kesibukan. Apa pun alasan itu, hanya Ibu yang paling paham.
Lalu, kapan waktu terbaik untuk berhenti menyusui?
Menurut American Academy of Pediatrics, menyusui bayi selama enam bulan pertama hidupnya yakni pemberian terbaik yang bisa Ibu berikan si bayi. Setelah enam bulan, menyusui harus dibarengi dengan makanan padat.
Tapi itu tidak berarti bahwa ulang tahun pertama bayi yakni batas simpulan untuk menyusui. Seperti yang banyak disarankan, sebaiknya berhenti menyusui di umur bayi yang sudah dua tahun. Namun jikalau kondisi tidak memungkinkan, Ibu juga bisa menyapih bayi kapan pun, asalkan dengan pertimbangan yang cermat.
Alasan Berhenti Menyusui:
Cara termudah untuk berhenti menyusui bayi yakni dengan menunggu hingga beliau siap. Tapi kemungkinan itu tidak selalu datang. Terkadang, Ibu perlu berhenti menyusui sebelum bayi siap.
Ada banyak alasan untuk menyapih lebih awal. Beberapa dari mereka adalah:
1. Kembali Bekerja:
Banyak wanita perlu kembali bekerja setelah bayi mereka lahir. Ibu mungkin kembali beberapa ahad setelah melahirkan atau setahun kemudian dan banyak di antara mereka yang terpaksa berhenti menyusui.
2. Kesulitan Memompa:
Ya, seseorang bisa kembali bekerja dan masih memompa ASI untuk sang bayi. Tapi itu tidak semudah yang dipikirkan alasannya memompa ASI itu kadang sulit. Ibu harus mengatur agenda kerja, mencari daerah terbaik dan juga disiplin pada diri sendiri. Karena itu, banyak Ibu yang kesannya menyerah.
3. Stres:
Beberapa wanita sangat tertekan ketika menyusui. Selain itu, menyusui juga bisa menjadi proses yang menyakitkan sehingga beberapa Ibu memutuskan berhenti menyusui.
4. Kehamilan:
Seperti yang seringkali terjadi, seorang ibu seringkali memilih untuk berhenti menyusui alasannya beliau hamil lagi!
5. Alasan Medis:
Sayangnya, beberapa wanita memiliki persoalan kesehatan yang memerlukan intervensi medis. Terkadang, intervensi ini mungkin menjadi alasan penyapihan dini.
6. Kebebasan Pribadi:
Seorang wanita lebih dari sekedar ibu. Tapi ketika Ibu sedang menyusui, Ibu harus melepaskan banyak hal yang mungkin Ibu nikmati, menyerupai merokok dan minum alkohol. Jadi, beberapa wanita berhenti menyusui alasannya mereka ingin kebebasan mereka kembali.
Baca juga : Menyusui ketika Hamil, Bolehkah?
Cara Berhenti Menyusui?
Jadi, sekarang Ibu tahu kapan dan mengapa wanita berhenti menyusui. Pertanyaan selanjutnya yakni bagaimana caranya!
Jika Ibu perlu berhenti menyusui, untuk alasan apa pun, berikut yakni beberapa cara mudah untuk menghentikan menyusui.
Menyapih dengan Cepat dan Mengatasi Nyeri pada Payudara Setelah menyapih
Jika Ibu mau seketika menghentikan pemberian ASI, maka lakukan hal-hal berikut: Jangan merangsang produksi susu.
2. Berhenti Menyusui secara bertahap:
Jika Ibu ingin berhenti menyusui tapi tidak terburu-buru, Ibu bisa mengikuti tip berikut untuk berhenti menyusui:
Beberapa Poin Penting untuk Diingat ketika Menyapih
Berikut yakni beberapa hal penting yang perlu diingat ketika Ibu memutuskan untuk berhenti menyusui:
1. Jangan Menolak untuk Menyusui:
Bila ingin menyapih, Ibu mungkin terpengaruhi untuk menolak menyusui ketika bayi meminta. Usahakan jangan menolak. Penolakan Ibu hanya akan membuat bayi lebih bersikeras. Jika bayi Ibu ingin menyusui, teruskan dan berikan ASI padanya. Tapi teruslah berusaha mengalihkan perhatiannya dengan permainan, makanan, dan banyak memanjakan.
2. Memastikan Nutrisi yang Tepat:
Salah satu kekhawatiran utama dengan penyapihan dini yakni nutrisi. Dengan air susu ibu, Ibu yakin bahwa bayi mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkannya. Tapi ketika Ibu berhenti menyusui, Ibu harus bekerja dua kali lebih keras untuk memastikan bahwa si kecil makan dengan sehat. Jika bayi Ibu belum lahir dan Ibu berencana untuk menyapihnya dari ASI, berikan beberapa formula yang diperkuat zat besi. Jangan berikan susu sapi kepada anak Ibu sebelum ulang tahunnya yang pertama.
3. Botol atau Cangkir?
Saat Ibu mulai menyapih bayi Ibu, Ibu harus mengganti susu formula dengan susu formula atau sapi. Nah, apakah Ibu memulai dengan botol atau eksklusif ke cangkir yakni pilihan Ibu. Jika bayi Ibu sudah terbiasa dengan botol, pilihannya akan mudah. Tapi ingat bahwa cepat atau lambat Ibu harus beralih ke cangkir, jadi jikalau bisa, maka lakukanlah itu semenjak awal.
4. Kesabaran:
Kesabaran yakni kunci ketika menyapih. Bahkan jikalau Ibu ingin berhenti menyusui dengan cepat, dibutuhkan beberapa hari untuk benar-benar bisa menyapih. Tapi jangan terburu-buru. Itu hanya akan memperburuk keadaan dan kesannya membuat Ibu dan si kecil kesal. Jika bayi Ibu menolak berhenti menyusui, Ibu bisa:
5. Siap:
Sebelum berhenti menyusui, bersiaplah dengan semua persediaan yang Ibu butuhkan, termasuk susu formula, botol, perlengkapan pembersih, dll.
6. Berbicara dengan dokter:
Bicarakan dengan dokter bayi sebelum Ibu berhenti menyusui. Meskipun menyapih yakni pilihan pribadi, sebaiknya berkonsultasi dengan andal untuk memastikan bayi Ibu tidak menderita.
7. Hindari Gesekan:
Hal terakhir yang Ibu butuhkan ketika Ibu mencoba berhenti menyusui yakni kelebihan pasokan ASI! Jadi, usahakan dan hindari gerakan dan tabrakan terhadap puting susu untuk mencegah rangsangan, kekecewaan susu, dan produksi susu.
8. Berhenti Co-sleeping:
Jika bayi menyebarkan daerah tidur keluarga, sekaranglah waktu yang sempurna untuk mentransisikan dirinya ke kamarnya sendiri. Jika Ibu berpikir itu terlalu ekstrim, maka pindahkan bayi Ibu ke daerah tidurnya sendiri tetapi tetap di kamar yang sama.
9. Luangkan Waktu Kerja:
Jika Ibu berencana untuk berhenti menyusui dengan cepat, luangkan beberapa hari untuk mengambil libur. Penyapihan bisa menyebabkan pembengkakan parah, membuat payudara Ibu keras menyerupai watu dan terasa sakit. Ibu harus beristirahat ketika melewati periode yang sulit ini.
10. Perhatikan Kesehatan Emosional Ibu:
Saat Ibu berhenti menyusui, hormon di badan Ibu mengalami pergolakan, membuat Ibu terpukul secara emosional. Jadi, jaga kesehatan emosional Ibu.
11. Meminta Bantuan Suami
Minta derma pasangan ketika proses penyapihan. Ibu bisa mempertimbangkan untuk meninggalkan bayi bersama sang ayah. Selain untuk membantu mengalihkan perhatian dan membuat transisi jadi lebih mudah, aktivitas ini juga akan meningkatkan ikatan ayah dan anak. Ibu juga bisa meminta pasangan (atau pengasuh) untuk memberi makan si kecil sehingga si kecil tidak melulu meminta makan dengan Ibu.
12. Bersiaplah untuk menghadapi Tantrum:
Keinginan yang tidak dipenuhi bisa membuat bayi tantrum. Makara bersiaplah!
Baca juga : Manajemen ASI perah untuk Ibu Bekerja
Hal-Hal Yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Ibu Berhenti Menyusui:
Sekarang Ibu tahu bagaimana cara menghentikan menyusui. Tapi tunggu! Sebelum Ibu memulai proses penyapihan, pertimbangkan hal-hal berikut untuk lebih mengerti jikalau sekarang yakni ketika yang tepat.
1. Alergi:
Jika Ibu atau pasangan Ibu memiliki beberapa alergi, kemungkinan tinggi bayi Ibu juga mungkin akan mengembangkannya.Ini yakni fakta bahwa menyusui mengurangi kemungkinan berkembangnya eksim, alergi susu sapi, dan mengi. Jadi, pertimbangkan alergi sebelum memulai proses penyapihan.
2. Masalah Kesehatan:
Jika anak Ibu mengalami persoalan yang buruk, mungkin sebaiknya Ibu menunda proses penyapihan. Bahkan jikalau beliau hanya tumbuh gigi, Ibu harus mempertimbangkan kembali keputusan Ibu dan menunggu hingga bayi Ibu merasa lebih baik.
3. Perubahan:
Bayi dan balita belum siap dengan perubahan dan tidak bisa menanganinya dengan baik. Makara jikalau keluarga Ibu mengalami beberapa perubahan besar, maka tundalah penyapihannya.
Menyusui yakni pengalaman yang mengagumkan dan emosional bagi kebanyakan wanita. Dan bila sudah waktunya berhenti, Ibu bisa saja merasa rendah dan merindukan masa-masa menyusui.
Emosi lain yang mungkin menelan Ibu yakni rasa bersalah! 'Apakah saya berhenti terlalu dini?' "Apakah ini membahayakan bayi saya?" 'Apakah saya ibu yang buruk?' 'Apakah saya kehilangan ikatan khusus saya dengan bayi saya?' Pertanyaan menyerupai ini mungkin membuat Ibu terjaga di malam hari.
Tapi tanggapan untuk semua pertanyaan di atas yakni tidak. Sebagai seorang ibu, Ibu memiliki hak prerogatif untuk mengembalikan badan Ibu. bonding Ibu dan anak tidak hanya ditingkatkan dengan menyusui, ada banyak hal lain yang bisa mendekatkan Ibu dan si kecil.
Bagaimana kondisi ASI yang tidak dikeluarkan dari Payudara?
Saat menyapih, maka otomatis payudara Ibu akan penuh oleh ASI. Ada kalanya payudara akan mengeras, bahkan sakit. Ibu bisa mengeluarkannya kalau sakitnya sudah tidak tertahan, sehingga penghentian anutan ASI dilakukan secara bertahap dan pada akhirnya, ASI akan berhenti keluar.
Lalu jikalau Ibu bisa menahan, ke mana larinya ASI yang ada di payudara? Nah, ASI tersebut akan kembali terserap oleh jaringan di dalam payudara, sehingga kelamaan akan berkurang.
Kapan waktu terbaik untuk menyapih bayi
Cara menyapih anak dengan cepat dan bertahap
Tips mengatasi payudara nanah dan sakit ketika menyapih
Menyusui bayi kadang memang memberi rasa sakit, sama halnya dengan berhenti menyusui atau menyapih ASI. Banyak Ibu mencari cara berhenti menyusui anak tanpa rasa sakit, alasannya kondisi ASI yang masih produktif harus segera dikeluarkan.
Nah, menyusui memang sangat bermanfaat bagi Ibu dan Bayi. Namun, seberapa besar pun manfaatnya, tetap ada waktu untuk Ibu berhenti menyusui. Berikut yakni artikel yang bisa memberi Ibu gambaran wacana menyapih anak dengan cinta.
Kapan Waktu Terbaik Untuk Berhenti Menyusui?
Ada banyak alasan mengapa Ibu memutuskan untuk berhenti menyusui. Selain ASI yang tidak keluar, umur bayi, ada pula alasannya kesibukan. Apa pun alasan itu, hanya Ibu yang paling paham.
Lalu, kapan waktu terbaik untuk berhenti menyusui?
Menurut American Academy of Pediatrics, menyusui bayi selama enam bulan pertama hidupnya yakni pemberian terbaik yang bisa Ibu berikan si bayi. Setelah enam bulan, menyusui harus dibarengi dengan makanan padat.
Tapi itu tidak berarti bahwa ulang tahun pertama bayi yakni batas simpulan untuk menyusui. Seperti yang banyak disarankan, sebaiknya berhenti menyusui di umur bayi yang sudah dua tahun. Namun jikalau kondisi tidak memungkinkan, Ibu juga bisa menyapih bayi kapan pun, asalkan dengan pertimbangan yang cermat.
Alasan Berhenti Menyusui:
Cara termudah untuk berhenti menyusui bayi yakni dengan menunggu hingga beliau siap. Tapi kemungkinan itu tidak selalu datang. Terkadang, Ibu perlu berhenti menyusui sebelum bayi siap.
Ada banyak alasan untuk menyapih lebih awal. Beberapa dari mereka adalah:
1. Kembali Bekerja:
Banyak wanita perlu kembali bekerja setelah bayi mereka lahir. Ibu mungkin kembali beberapa ahad setelah melahirkan atau setahun kemudian dan banyak di antara mereka yang terpaksa berhenti menyusui.
2. Kesulitan Memompa:
Ya, seseorang bisa kembali bekerja dan masih memompa ASI untuk sang bayi. Tapi itu tidak semudah yang dipikirkan alasannya memompa ASI itu kadang sulit. Ibu harus mengatur agenda kerja, mencari daerah terbaik dan juga disiplin pada diri sendiri. Karena itu, banyak Ibu yang kesannya menyerah.
3. Stres:
Beberapa wanita sangat tertekan ketika menyusui. Selain itu, menyusui juga bisa menjadi proses yang menyakitkan sehingga beberapa Ibu memutuskan berhenti menyusui.
4. Kehamilan:
Seperti yang seringkali terjadi, seorang ibu seringkali memilih untuk berhenti menyusui alasannya beliau hamil lagi!
5. Alasan Medis:
Sayangnya, beberapa wanita memiliki persoalan kesehatan yang memerlukan intervensi medis. Terkadang, intervensi ini mungkin menjadi alasan penyapihan dini.
6. Kebebasan Pribadi:
Seorang wanita lebih dari sekedar ibu. Tapi ketika Ibu sedang menyusui, Ibu harus melepaskan banyak hal yang mungkin Ibu nikmati, menyerupai merokok dan minum alkohol. Jadi, beberapa wanita berhenti menyusui alasannya mereka ingin kebebasan mereka kembali.
Baca juga : Menyusui ketika Hamil, Bolehkah?
Cara Berhenti Menyusui?
Jadi, sekarang Ibu tahu kapan dan mengapa wanita berhenti menyusui. Pertanyaan selanjutnya yakni bagaimana caranya!
Jika Ibu perlu berhenti menyusui, untuk alasan apa pun, berikut yakni beberapa cara mudah untuk menghentikan menyusui.
Menyapih dengan Cepat dan Mengatasi Nyeri pada Payudara Setelah menyapih
Jika Ibu mau seketika menghentikan pemberian ASI, maka lakukan hal-hal berikut: Jangan merangsang produksi susu.
- Jangan memompa.
- Gunakan kompres cuek untuk mengurangi suplai darah ke payudara dan meredakan ketidaknyamanan.
- Hindari kompres hangat alasannya bisa merangsang produksi susu.
- Ibu bisa menggunakan daun kol hijau untuk mengurangi suplai susu Ibu. Yang perlu Ibu lakukan hanyalah mengatupkan bra Ibu dengan beberapa daun kubis dingin. Tapi ingatlah untuk mengantinya begitu kubis menjadi hangat atau setiap 2 jam.
- Menyapih bisa menyakitkan, jadi persiapkan diri dengan beberapa obat penghilang rasa sakit.
- Belilah bra yang bagus dan halus untuk memberi payudara sedikit kelegaan.
- Ingat, mengikat payudara dengan kencang TIDAK akan mengurangi produksi susu tapi hanya akan menyebabkan rasa sakit yang lebih banyak.
- Jauhkan bayi dari payudara ketika memberi bayi susu formula.
- Jaga kontak mata dengan bayi setiap memberinya makan.
- Jangan mengurangi asupan cairan Ibu. Mengurangi jumlah air yang Ibu minum tidak akan mensugesti atau mengurangi suplai susu Ibu namun bisa menyebabkan dehidrasi.
- Hindari garam atau menguranginya untuk mengurangi produksi susu. Ini yakni cara terbaik untuk berhenti menyusui.
- Pembengkakan payudara yakni persoalan besar ketika Ibu mencoba menghentikan menyusui dengan cepat. Ibu bisa mengonsumsi 200 mg vitamin B6 untuk mendapatkan pertolongan dari kondisi yang menyakitkan ini.
- Cara terbaik lainnya untuk berhenti menyusui dengan cepat yakni minum alkohol. Minumlah sekitar 3-4 ml setiap enam jam.
- Jika Ibu belum minum pil, sekarang akan menjadi ketika yang sempurna untuk memulai! Tanyakan kepada dokter apakah tidak apa-apa bagi Ibu untuk mulai menggunakan pil kontrasepsi kombinasi, yang mengandung estrogen.
- Ibu juga bisa mencoba Pseudoephedrine, obat dekongestan yang ditemukan di Sudafed, yang dapat membantu mengurangi suplai susu. Tapi pastikan untuk berbicara dengan dokter Ibu sebelum Ibu menggunakan obat ini untuk berhenti menyusui.
2. Berhenti Menyusui secara bertahap:
Jika Ibu ingin berhenti menyusui tapi tidak terburu-buru, Ibu bisa mengikuti tip berikut untuk berhenti menyusui:
- Jika Ibu ingin berhenti menyusui sebelum bayi Ibu berumur satu tahun, berilah beliau formula yang sesuai untuknya. Cobalah sedikit untuk melihat apakah bayi bisa mendapatkan susu gres tersebut atau tidak.
- Mulailah dengan menggabungkan ASI dan susu formula semoga sistem pencernaan bayi Ibu bisa terbiasa dengan perubahan ini.
- Saat Ibu memulai proses penyapihan, biarkan bayi minum ASI sebelum Ibu memberinya sebagian kecil makanan padat (atau formula)
- Begitu bayi Ibu siap untuk tahap berikutnya, aktifkan hal-hal di sekitar. Sekarang tawarkan susu formula atau makanan padat sebelum Ibu memperlihatkan ASI.
- Begitu ketergantungan si kecil terhadap ASI hilang, tawarkan air dengan cangkir sippy daripada air susu ibu.
- Jika Ibu selalu memompa ASI, maka kurangi frekuensi sesi pemompaan. Secara bertahap, berhenti memompa sama sekali dalam waktu berbulan-bulan.
Beberapa Poin Penting untuk Diingat ketika Menyapih
Berikut yakni beberapa hal penting yang perlu diingat ketika Ibu memutuskan untuk berhenti menyusui:
1. Jangan Menolak untuk Menyusui:
Bila ingin menyapih, Ibu mungkin terpengaruhi untuk menolak menyusui ketika bayi meminta. Usahakan jangan menolak. Penolakan Ibu hanya akan membuat bayi lebih bersikeras. Jika bayi Ibu ingin menyusui, teruskan dan berikan ASI padanya. Tapi teruslah berusaha mengalihkan perhatiannya dengan permainan, makanan, dan banyak memanjakan.
2. Memastikan Nutrisi yang Tepat:
Salah satu kekhawatiran utama dengan penyapihan dini yakni nutrisi. Dengan air susu ibu, Ibu yakin bahwa bayi mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkannya. Tapi ketika Ibu berhenti menyusui, Ibu harus bekerja dua kali lebih keras untuk memastikan bahwa si kecil makan dengan sehat. Jika bayi Ibu belum lahir dan Ibu berencana untuk menyapihnya dari ASI, berikan beberapa formula yang diperkuat zat besi. Jangan berikan susu sapi kepada anak Ibu sebelum ulang tahunnya yang pertama.
3. Botol atau Cangkir?
Saat Ibu mulai menyapih bayi Ibu, Ibu harus mengganti susu formula dengan susu formula atau sapi. Nah, apakah Ibu memulai dengan botol atau eksklusif ke cangkir yakni pilihan Ibu. Jika bayi Ibu sudah terbiasa dengan botol, pilihannya akan mudah. Tapi ingat bahwa cepat atau lambat Ibu harus beralih ke cangkir, jadi jikalau bisa, maka lakukanlah itu semenjak awal.
4. Kesabaran:
Kesabaran yakni kunci ketika menyapih. Bahkan jikalau Ibu ingin berhenti menyusui dengan cepat, dibutuhkan beberapa hari untuk benar-benar bisa menyapih. Tapi jangan terburu-buru. Itu hanya akan memperburuk keadaan dan kesannya membuat Ibu dan si kecil kesal. Jika bayi Ibu menolak berhenti menyusui, Ibu bisa:
- Cobalah menghiburnya dengan cara yang berbeda sehingga beliau berguru mempercayai hal-hal lain selain menyusui. Bagi banyak bayi, menyusui lebih banyak wacana kenyamanan dan bukan alasannya lapar. Jadi, cobalah lagu pengantar tidur yang menenangkan, buku bagus, atau mainan lembut untuk menghiburnya.
- Jika Ibu menyapih balita, Ibu dapat menunda umpannya semoga bisa terbiasa dengan prosesnya. Ibu juga bisa mencoba berbicara dan memberinya alasan.
5. Siap:
Sebelum berhenti menyusui, bersiaplah dengan semua persediaan yang Ibu butuhkan, termasuk susu formula, botol, perlengkapan pembersih, dll.
6. Berbicara dengan dokter:
Bicarakan dengan dokter bayi sebelum Ibu berhenti menyusui. Meskipun menyapih yakni pilihan pribadi, sebaiknya berkonsultasi dengan andal untuk memastikan bayi Ibu tidak menderita.
7. Hindari Gesekan:
Hal terakhir yang Ibu butuhkan ketika Ibu mencoba berhenti menyusui yakni kelebihan pasokan ASI! Jadi, usahakan dan hindari gerakan dan tabrakan terhadap puting susu untuk mencegah rangsangan, kekecewaan susu, dan produksi susu.
8. Berhenti Co-sleeping:
Jika bayi menyebarkan daerah tidur keluarga, sekaranglah waktu yang sempurna untuk mentransisikan dirinya ke kamarnya sendiri. Jika Ibu berpikir itu terlalu ekstrim, maka pindahkan bayi Ibu ke daerah tidurnya sendiri tetapi tetap di kamar yang sama.
9. Luangkan Waktu Kerja:
Jika Ibu berencana untuk berhenti menyusui dengan cepat, luangkan beberapa hari untuk mengambil libur. Penyapihan bisa menyebabkan pembengkakan parah, membuat payudara Ibu keras menyerupai watu dan terasa sakit. Ibu harus beristirahat ketika melewati periode yang sulit ini.
10. Perhatikan Kesehatan Emosional Ibu:
Saat Ibu berhenti menyusui, hormon di badan Ibu mengalami pergolakan, membuat Ibu terpukul secara emosional. Jadi, jaga kesehatan emosional Ibu.
11. Meminta Bantuan Suami
Minta derma pasangan ketika proses penyapihan. Ibu bisa mempertimbangkan untuk meninggalkan bayi bersama sang ayah. Selain untuk membantu mengalihkan perhatian dan membuat transisi jadi lebih mudah, aktivitas ini juga akan meningkatkan ikatan ayah dan anak. Ibu juga bisa meminta pasangan (atau pengasuh) untuk memberi makan si kecil sehingga si kecil tidak melulu meminta makan dengan Ibu.
12. Bersiaplah untuk menghadapi Tantrum:
Keinginan yang tidak dipenuhi bisa membuat bayi tantrum. Makara bersiaplah!
Baca juga : Manajemen ASI perah untuk Ibu Bekerja
Hal-Hal Yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Ibu Berhenti Menyusui:
Sekarang Ibu tahu bagaimana cara menghentikan menyusui. Tapi tunggu! Sebelum Ibu memulai proses penyapihan, pertimbangkan hal-hal berikut untuk lebih mengerti jikalau sekarang yakni ketika yang tepat.
1. Alergi:
Jika Ibu atau pasangan Ibu memiliki beberapa alergi, kemungkinan tinggi bayi Ibu juga mungkin akan mengembangkannya.Ini yakni fakta bahwa menyusui mengurangi kemungkinan berkembangnya eksim, alergi susu sapi, dan mengi. Jadi, pertimbangkan alergi sebelum memulai proses penyapihan.
2. Masalah Kesehatan:
Jika anak Ibu mengalami persoalan yang buruk, mungkin sebaiknya Ibu menunda proses penyapihan. Bahkan jikalau beliau hanya tumbuh gigi, Ibu harus mempertimbangkan kembali keputusan Ibu dan menunggu hingga bayi Ibu merasa lebih baik.
3. Perubahan:
Bayi dan balita belum siap dengan perubahan dan tidak bisa menanganinya dengan baik. Makara jikalau keluarga Ibu mengalami beberapa perubahan besar, maka tundalah penyapihannya.
Menyusui yakni pengalaman yang mengagumkan dan emosional bagi kebanyakan wanita. Dan bila sudah waktunya berhenti, Ibu bisa saja merasa rendah dan merindukan masa-masa menyusui.
Emosi lain yang mungkin menelan Ibu yakni rasa bersalah! 'Apakah saya berhenti terlalu dini?' "Apakah ini membahayakan bayi saya?" 'Apakah saya ibu yang buruk?' 'Apakah saya kehilangan ikatan khusus saya dengan bayi saya?' Pertanyaan menyerupai ini mungkin membuat Ibu terjaga di malam hari.
Tapi tanggapan untuk semua pertanyaan di atas yakni tidak. Sebagai seorang ibu, Ibu memiliki hak prerogatif untuk mengembalikan badan Ibu. bonding Ibu dan anak tidak hanya ditingkatkan dengan menyusui, ada banyak hal lain yang bisa mendekatkan Ibu dan si kecil.
Bagaimana kondisi ASI yang tidak dikeluarkan dari Payudara?
Saat menyapih, maka otomatis payudara Ibu akan penuh oleh ASI. Ada kalanya payudara akan mengeras, bahkan sakit. Ibu bisa mengeluarkannya kalau sakitnya sudah tidak tertahan, sehingga penghentian anutan ASI dilakukan secara bertahap dan pada akhirnya, ASI akan berhenti keluar.
Lalu jikalau Ibu bisa menahan, ke mana larinya ASI yang ada di payudara? Nah, ASI tersebut akan kembali terserap oleh jaringan di dalam payudara, sehingga kelamaan akan berkurang.
Langganan:
Postingan (Atom)











