Seminggu 3 hari lagi Cuta mau setahun. Yah, tidak terasa sebenarnya, namun perkembangan-perkembangannya yang lumayan pesat membuat saya menyadari bahwa ia memang sudah besar. Menjelang usianya yang setahun ini, saya dikejutkan dengan beberapa hal, yang tentunya membuat kami sekeluarga senang.
Pertama: Nafsu makannya heboh sekali. Mungkin sebagai ganti GTM berkepanjangan hampir 3 bulan kemarin ya, sekarang ia makannya paling sedikit 3 kali sehari dengan porsi yang membuat saya ngeri. Iya, pengasuhnya sih senang-senang aja ngasih ia makan mengingat setiap disuapin ia selalu mangap. Perutnya semakin buncit, pipinya tembam dan tumpukan lemak sudah mengisi lengan dan pahanya. Asyiknya lagi, apapun yang saya masak untuk dia, dihabiskan dan ia menyukainya. namun tetap, favoritnya ialah oatmeal, entah dicampur apel, labu siam, wortel atau malah keju aja.
Kedua: Idealnya mommy-mommy mengenalkan toilet training pada bayinya pada umur 2 tahun. Namun Cuta saya sudah mengenal toilet training mulai dari umur 11 bulan. Awalnya saya tidak percaya ketika pengasuhnya mengatakan hal ini, alasannya ialah Cuta termasuk anak yang aktif dan penasaran, suka memasuki setiap kamar yang pintunya terbuka dan melongok ke dalam. Kamar mandi kami selalu terbuka kalau tidak ada orang yang menggunakannya sehingga ia leluasa mampu keluar masuk ketika dituntun.
Namun ternyata saya salah. Beberapa kali waktu saya tuntun, Cuta masuk kamar mandi. Iseng ia saya 'tatuh". apa ya namanya kalau di-Indonesiakan. Istilahnya, celananya dibuka, lalu badannya saya angkat ke atas kloset dengan posisi pantat dibawah, tubuh dan kakinya agak diatas sehingga membentuk segitiga. Tidak lama, currr.... ia beneran pipis. Pipisnya masuk kloset. Ketika selesai, ia mengoceh yang selalu saya dengan ibarat Auukk Aukk entah apa. Tidak hanya itu, tadi pagi gres berdiri ia minta turun dari kasur dan dituntun. Dia menuju kamar mandi. Setelah saya buka popoknya, kembali ia saya "tatuh" di atas kloset. Dan ternyata, ia pup.
Bangga rasanya, Cuta sudah mulai mampu mencicipi impian untuk buang air dan tahu dimana daerah yang benar untuk itu. Walau ia tidak selalu ke kamar mandi, alasannya ialah keterbatasannya yang memang belum mampu jalan, namun ia sudah mampu memberikan keinginannya itu. Hanya saja kami belum mampu mengerti bahasanya dia.
Awal mulanya, mungkin alasannya ialah sering menyertakannya ke kamar mandi. Ketika sedang berdua dan saya ingin ke kamar mandi untuk pipis, tidak mungkin saya meninggalkannya di luar. Saya ajak ia masuk kamar mandi lalu saya pangku. Saya duduk di kloset lalu saya kasih tahu Cuta ihwal apa yang saya lakukan. Mungkin secara tidak sengaja, saya sudah membiasakannya dengan kamar mandi, sehingga inilah yang membuat ia tidak merasa takut ke kamar mandi.
Ketiga: Mungkin ini tida patut ditiru namun saya damai kalau Cuta mampu minum dari botol dot. Kenapa? alasannya ialah selama ini ia minum dari gelas berceret sehingga konsumsi susunya terbatas. Ia merasa kurang nyaman, alasannya ialah belum mampu menggunakannya dengan baik dan sering tumpah. Suatu hari coba-coba saya menggunakan dot, ia mau sampai keterusan sampai sekarang. Hal ini memudahkan saya menyapihnya alasannya ialah suatu hal, selain juga produksi ASI yang memang sudah seret jadi kasihan ia kurang minum kalau tidak ditambahkan sufor.
Keempat: Dia sudah mulai mengambarkan keinginannya, dan sayangnya, seringan dengan cara menangis atau bersuara keras. Cuta seorang anak yang berkeinginan keras, dan kalau tidak dituruti maka mampu melawan. Bagian ini jujur membuat saya cemas, emosinya meledak-ledak ibarat saya dan kurang sabar.
Perkembangannya memang membanggakan, namun ibarat halnya bawah umur lain, Cuta juga mengalami sedikit keterlambatan dalam hal tumbuh gigi. Menjelang setahun, giginya gres tumbuh setengah dan itupun ternyata miring. Dia juga belum mampu jalan, belum seimbang dan bahkan belum mampu berdiri. Dalam hal komunikasi, ia gres mampu berkata 'ibu', sesekali 'maem' walau itu tidak selalu berarti ia ingin makan. Jika diajari, ia pasti hanya bengong, lalu melengos cuek.
Namun terlepas dari cepat lambatnya, saya besar hati alasannya ialah Cuta tumbuh jadi anak yang punya rasa ingin tahu tinggi. Pernah waktu saya ajak pulang kampung, ketika kakak-kakaknya sedang seru membuat lubang, Cuta menghampiri mereka untuk melihat apa yang kakaknya lakukan, sementara sahabat seumurannya sama sekali cuek.
Love Cuta!
Tampilkan postingan dengan label Tumbuh Kembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tumbuh Kembang. Tampilkan semua postingan
Minggu, 24 Desember 2017
Senin, 18 Desember 2017
Pentingnya Interval Waktu 2 jam dalam Pemberian ASI bagi NB
Melenceng sedikit nih dari topik Mpasi, kali ini saya mau sharing persoalan pinjaman ASI bagi bayi gres lahir. Aha, ceritanya ini pengalaman pribadi yang saya alami ketika menangani newborn baby. Seperti kita tahu, bayi gres lahir rentan dengan yang namanya warna kuning, terutama di bagian-bagian tubuh sekitar mulut, mata, hidung dan juga tubuh lainnya. Salah satu cara untuk mencegah warna kuning yang berbahaya, istilahnya meningkatnya kadar bilirubin pada tubuh bayi yaitu dengan memperlihatkan ASI sebanyak mungkin pada bayi. Nah, dengan pengetahuan inilah, risikonya saya memperlihatkan ASI pada adiknya Acyuta sebanyak yang ia mau.
Terkadang ia minum setiap satu jam. Ngeek nangis dikit, eksklusif minum. Tidurnya gelisah, eksklusif kasi ASI. Begitulah kira-kira sekitar satu mingguan lebih. Hingga saya mempunyai pendapat bahwa bayi yang satu ini minumnya super sekali, lebih besar lengan berkuasa minum dibanding kakaknya.
Akhirnya sekitar ahad kedua, terjadilah sesuatu itu. Tidurnya tidak nyenyak dikala malam. Seringkali terbangun, rewel sedikit, mengangkat kaki seolah mau ngeden, badannya menggeliat dan suara-suara sumbang keluar dari mulutnya.
Awalnya saya kira ia kurang nyaman alasannya menggunakan popok sekali pakai. Popoknya saya lepas, namun ia masih saja gelisah. Esok malamnya terulang lagi, padahal popok sekali pakainya sudah saya ganti pakai clodi, namun ia masih saja ‘terasa’ kurang nyaman alias suka ngangkat kaki dan ngeden.
Kondisinya semakin tambah parah di minggu-minggu seterusnya. Jika di ahad kedua, ia masih mampu tidur, ahad selanjutnya ia semakin susah tidur. Jika sebelumnya hanya gelisah, kemudian menjadi rewel, menangis sampai wajahnya memerah. Saya tentu saja bingung, ini bayi kenapa, sakit perutkah? Apakah alasannya beberapa hari belakangan saya makan makanan bersantan?
Beberapa ahad menyerupai itu, risikonya saya khawatir. Setiap malam, tepatnya mulai jam 2 sampai pagi, ia selalu terbangun, gelisah, rewel, menangis sambil ngeden-ngeden sampai perutnya kencang dan wajahnya merah. Selain itu, ia mengeluarkan gas terus. Namun sekalipun gas sudah keluar, kondisinya tidak membaik.
Akhirnya, si adik ‘menabung’ ke dokter seorang jago anak. Singkat cerita, keluarlah diagnosis dokternya. Ternyata, semua ini terjadi alasannya si adik kebanyakan minum. lambungnya belum kosong dikala menyusui, sehingga susu dengan volume berlebih tersebut ‘terpaksa’ mengalir ke usus halus. Usus halus bayi yang belum tepat belum memadai untuk mengolah makanan sebanyak itu. Salah satu jenis enzim yang memiliki kegunaan untuk mencerna susu (kalau tidak salah laktosa apa itu yang dibilang dokternya) belum mencukupi sehingga susu tidak tercerna secara sempurna.
Kemudian susu-susu itu mengalir ke usus besar. Di usus besar akan difermentasi oleh basil yang ada disana dan kemudian lahirlah akar masalahnya, gas yang sangat banyak, yang membuat perut si adik kembung kayak balon.
Biarpun gas sudah keluar lewat kentut, namun volume yang banyak tersebut membuat perut bayi tidak nyaman. Karena itulah, makanya si adik rewel terus.
Kenapa diagnosis ini saya anggap tepat?
Pertama alasannya dokter langganan Cuta itu yaitu konsultas gastrohepatologi atau apalah itu istilahnya, pokoknya jago persoalan per-perut-an. Kedua, si adik kentut-kentut terus. Selain itu, si adik sering muntah atau gumoh, bukan hanya gumoh biasa namun benar-benar muntah sampai keluar lewat hidung. Bahkan belum selesai menyusu, ia sudah muntah. Itu artinya, lambungnya masih penuh. Belum ada daerah kosong untuk menyimpan susu yang ia minum.
Dan juga, yang membuat saya nyengir adalah, beratnya si adik naik dengan drastic. Belum sebulan, jikalau tidak salah waktu itu 20 hari, beratnya sudah naik ke angka 5,2 kilo (lahir 3,5). Terbuktilah jikalau semua persoalan ini alasannya si adik, eh emaknya rakus ngasih ASI.
Nah, saran dokter untuk persoalan ini yaitu mulai memperlihatkan ASI secara teratur. Bayi menangis belum tentu alasannya lapar. Lambung bayi biasanya kosong dalam waktu 1,5 sampai 2 jam. Makara mulai dikala itu, si adik di-diet-in. hanya boleh minum paling cepat 1,5 jam.
Selain itu, dokter juga memperlihatkan resep berupa serbuk yang probiotik untuk meningkatkan fungsi jalan masuk cernanya.
Lalu apakah persoalan berhenti begitu saja?
Tidak! Padahal dokter memprediksi, dalam 5 hari kondisinya sudah kembali normal. Ternyata tidak, persoalan menyerupai ini masih berlanjut, namun dengan kondisi yang membaik sedikit demi sedikit secara berangsur-angsur. Kondisinya mulai normal sekitar umur 1,5 bulan, ketika si adik sudah teratur pup sekali sehari dan bahkan dua kali sehari. Hal ini membuktikan kondisi pencernaannya sudah semakin sempurna.
Yah, well… begitulah Mom. Mungkin beberapa orang akan mengatakan ini kolik, saya tidak tahu juga. Inilah sedikit sharing ihwal pentingnya interval 2 jam dalam pinjaman ASI. Semoga memiliki kegunaan ya. jikalau tidak sekarang, buat newborn baby selanjutnya.
Terkadang ia minum setiap satu jam. Ngeek nangis dikit, eksklusif minum. Tidurnya gelisah, eksklusif kasi ASI. Begitulah kira-kira sekitar satu mingguan lebih. Hingga saya mempunyai pendapat bahwa bayi yang satu ini minumnya super sekali, lebih besar lengan berkuasa minum dibanding kakaknya.
Akhirnya sekitar ahad kedua, terjadilah sesuatu itu. Tidurnya tidak nyenyak dikala malam. Seringkali terbangun, rewel sedikit, mengangkat kaki seolah mau ngeden, badannya menggeliat dan suara-suara sumbang keluar dari mulutnya.
Awalnya saya kira ia kurang nyaman alasannya menggunakan popok sekali pakai. Popoknya saya lepas, namun ia masih saja gelisah. Esok malamnya terulang lagi, padahal popok sekali pakainya sudah saya ganti pakai clodi, namun ia masih saja ‘terasa’ kurang nyaman alias suka ngangkat kaki dan ngeden.
Kondisinya semakin tambah parah di minggu-minggu seterusnya. Jika di ahad kedua, ia masih mampu tidur, ahad selanjutnya ia semakin susah tidur. Jika sebelumnya hanya gelisah, kemudian menjadi rewel, menangis sampai wajahnya memerah. Saya tentu saja bingung, ini bayi kenapa, sakit perutkah? Apakah alasannya beberapa hari belakangan saya makan makanan bersantan?
Beberapa ahad menyerupai itu, risikonya saya khawatir. Setiap malam, tepatnya mulai jam 2 sampai pagi, ia selalu terbangun, gelisah, rewel, menangis sambil ngeden-ngeden sampai perutnya kencang dan wajahnya merah. Selain itu, ia mengeluarkan gas terus. Namun sekalipun gas sudah keluar, kondisinya tidak membaik.
Akhirnya, si adik ‘menabung’ ke dokter seorang jago anak. Singkat cerita, keluarlah diagnosis dokternya. Ternyata, semua ini terjadi alasannya si adik kebanyakan minum. lambungnya belum kosong dikala menyusui, sehingga susu dengan volume berlebih tersebut ‘terpaksa’ mengalir ke usus halus. Usus halus bayi yang belum tepat belum memadai untuk mengolah makanan sebanyak itu. Salah satu jenis enzim yang memiliki kegunaan untuk mencerna susu (kalau tidak salah laktosa apa itu yang dibilang dokternya) belum mencukupi sehingga susu tidak tercerna secara sempurna.
Kemudian susu-susu itu mengalir ke usus besar. Di usus besar akan difermentasi oleh basil yang ada disana dan kemudian lahirlah akar masalahnya, gas yang sangat banyak, yang membuat perut si adik kembung kayak balon.
Biarpun gas sudah keluar lewat kentut, namun volume yang banyak tersebut membuat perut bayi tidak nyaman. Karena itulah, makanya si adik rewel terus.
Kenapa diagnosis ini saya anggap tepat?
Pertama alasannya dokter langganan Cuta itu yaitu konsultas gastrohepatologi atau apalah itu istilahnya, pokoknya jago persoalan per-perut-an. Kedua, si adik kentut-kentut terus. Selain itu, si adik sering muntah atau gumoh, bukan hanya gumoh biasa namun benar-benar muntah sampai keluar lewat hidung. Bahkan belum selesai menyusu, ia sudah muntah. Itu artinya, lambungnya masih penuh. Belum ada daerah kosong untuk menyimpan susu yang ia minum.
Dan juga, yang membuat saya nyengir adalah, beratnya si adik naik dengan drastic. Belum sebulan, jikalau tidak salah waktu itu 20 hari, beratnya sudah naik ke angka 5,2 kilo (lahir 3,5). Terbuktilah jikalau semua persoalan ini alasannya si adik, eh emaknya rakus ngasih ASI.
Nah, saran dokter untuk persoalan ini yaitu mulai memperlihatkan ASI secara teratur. Bayi menangis belum tentu alasannya lapar. Lambung bayi biasanya kosong dalam waktu 1,5 sampai 2 jam. Makara mulai dikala itu, si adik di-diet-in. hanya boleh minum paling cepat 1,5 jam.
Selain itu, dokter juga memperlihatkan resep berupa serbuk yang probiotik untuk meningkatkan fungsi jalan masuk cernanya.
Lalu apakah persoalan berhenti begitu saja?
Tidak! Padahal dokter memprediksi, dalam 5 hari kondisinya sudah kembali normal. Ternyata tidak, persoalan menyerupai ini masih berlanjut, namun dengan kondisi yang membaik sedikit demi sedikit secara berangsur-angsur. Kondisinya mulai normal sekitar umur 1,5 bulan, ketika si adik sudah teratur pup sekali sehari dan bahkan dua kali sehari. Hal ini membuktikan kondisi pencernaannya sudah semakin sempurna.
Yah, well… begitulah Mom. Mungkin beberapa orang akan mengatakan ini kolik, saya tidak tahu juga. Inilah sedikit sharing ihwal pentingnya interval 2 jam dalam pinjaman ASI. Semoga memiliki kegunaan ya. jikalau tidak sekarang, buat newborn baby selanjutnya.
Rabu, 06 Desember 2017
Menyusui: Apakah Bayi Saya Mendapat cukup ASI?
Tanda bayi kenyang minum ASI
Ketika Ibu pertama kali mulai menyusui, Ibu mungkin khawatir bayi tidak menerima cukup ASI. Ibu juga tidak mampu menyebutkan secara jelas, seberapa banyak si bayi sudah minum ASI.
Membingungkan bukan? Ketika jumlah minum seharian mereka hanya diketahui oleh sang bayi dan sang bayi sendiri belum mampu mengatakannya secara langsung. Padahal, bayi memberitahu Ibu loh, hanya saja lewat hal popok yang basah, lewat kotoran / feses/ pup di popok dan juga lewat bunyi mereka dikala menelan ASI.
Namun kadang Ibu gres kurang percaya diri dan membutuhkan kepastikan bahwa si bayi menerima cukup susu. Apalagi jikalau si bayi selalu meminta dan meminta, maka Ibu mampu jadi berpikir bahwa produksi ASI tidak cukup.
Nah, untuk tahu apakah bayi Ibu sudah mendapat cukup ASI atau tidak, mari kita mulai bahasan ini dengan posisi menyusui dan pelekatan.
Apa itu pelekatan?
Pelekatan itu yaitu letak ekspresi bayi pada payudara ibu ketika sedang menyusu. Ini penting sekali, alasannya pelekatan yang baik akan memudahkan bayi menyusu. Bagi Ibu, pelekatan yang baik juga mengurangi resiko puting lecet selama menyusui.
Diambil dari kemangmedicalcare.com, berikut posisi menyusui yang baik untuk Ibu.
1. Carilah posisi ternyaman.
2. Kemudian dekap/gendong bayi sehingga wajah bayi menghadap ke payudara ibu, hidung bayi sejajar dengan puting ibu;
3. Tubuh bayi juga menghadap ke tubuh ibu (perut bayi menempel ke perut Ibu), sehingga kepala dan tubuh bayi berada dalam 1 garis lurus (kepala bayi tidak menengok ke kiri atau ke kanan);
4. kepala bayi lebih rendah daripada payudara ibu, sehingga kepala bayi mendongak keatas dan tidak menunduk kebawah, dalam posisi menyerupai ini, dagu bayi dan hidungnya yang akan menempel ke payudara ibu;
5. leher dan pundak bayi ditopang serta tubuh didekap dekat ke tubuh ibu.
Pelekatan:
1. Usahakan biar bayi memasukkan payudara ibu ke dalam mulutnya dari arah bawah, sehingga ketika sedang menyusu lebih banyak terlihat areola ibu pada adegan atas bibir atas dibandingkan dengan areola pada adegan bawah bibir bawah bayi;
2. Mulut bayi terbuka lebar seperti sedang menguap atau menangis, sehingga tidak saja puting ibu yang masuk ke dalam ekspresi bayi tetapi juga sebagian besar areola, alasannya pabrik-pabrik ASI banyak yang terletak dibawah areola;
3. Bibir bayi, baik yang atas maupun yang bawah, terlipat keluar (dower) dan tidak terlipat kedalam ketika sedang menyusu;
4. Dagu bayi menempel pada payudara ibu, dan terlihat juga lipatan pada adegan dagu yang mengambarkan bahwa bayi sedang membuka ekspresi dengan lebar.
Lalu, bagaimana tanda-tanda bahwa bayi melekat dengan baik?
• Mulut bayi terbuka lebar dan penuh dengan payudara Ibu. kadang puting bahkan tidak terlihat.
• Dagu bayi menyentuh payudara Ibu, bibir bawah mereka bergulung (Ibu tidak selalu mampu melihat ini) dan hidung bayi tidak tergencet payudara.
• Payudara/puting Ibu tidak merasa sakit dikala bayi menyusu, meskipun awal-awalnya sedikit terasa perih. Tapi kelamaan, rasa sakit itu berkurang.
• Area gelap sekitar puting (areola) sempurna berada di atas bibir atas bayi, dan juga di bawah bibir bawah bayi.
Tanda-tanda bayi menerima cukup ASI/Susu
• bayi mulai minum dengan tegukan cepat yang diikuti tegukan lama, lalu tegukan berirama dengan sesekali jeda untuk menelan.
• Ibu dapat mendengar dan melihat bayi menelan.
• Selama menghisap, pipi bayi tetap bulat.
• Bayi tampak damai dan kalem selama menyusui.
• Bayi mengakhiri sesi minum dan melepas payudara dengan sendirinya.
• Mulut mereka tampak lembab setelah menyusu. Kadang sisa-sisa susu tampak di sudut bibir.
• Bayi tampak puas setelah menyusu.
• Payudara terasa lebih lembut setelah menyusu.
• Ibu mungkin merasa mengantuk dan kalem setelah menyusui.
Tanda-tanda lain bahwa bayi menyusu dengan baik
• Peningkatan berat tubuh bayi terjadi secara berangsur-angsur setelah ahad pertama. Kehilangan berat tubuh lahir untuk bayi dalam dua ahad pertama setelah kelahiran juga normal. Sebagai fatwa kasar: Bayi harus menerima sekitar 6 hingga 8 ons per seminggu selama empat bulan pertama, kemudian sekitar 4 hingga 6 ons per ahad pada umur 4 hingga 7 bulan.
• Dari hari kelima dan seterusnya, popok seharusnya lebih sering basah, setidaknya dalam 24 jam, ada 6 hingga 8 popok kain yang berair keras. Jika menggunakan popok sekali pakai, setidaknya harus ada 5 popok berair dalam waktu 24 jam. Dalam 48 jam pertama, ketika bayi hanya mengonsumsi kolostrum, bayi mungkin gres memiliki dua atau tiga popok berair per hari. Urin harus tidak berbau dan terperinci / sangat pucat. Urin yang gelap dan pekat menawarkan bahwa bayi membutuhkan lebih banyak ASI.
• Pada bulan pertama, bayi setidaknya akan pup 3 kali sehari dengan tekstur sewarna mustard kekuningan, dimulai dalam waktu lima hingga tujuh hari setelah lahir. dikala berusia sebulan, bayi juga mungkin akan pup lebih jarang atau tidak pup selama beberapa hari. Setelah bayi mendapat makanan pendamping ASI, bayi biasanya akan BAB setidaknya 1 kali sehari.
Baca juga : Mengenali Jenis Kotoran / Pup/ Feses pada Bayi
Apa tanda-tanda bahwa bayi aku tidak menerima cukup ASI?
Perhatikan tanda-tanda ini jikalau Ibu khawatir wacana asupan susu bayi Ibu:
• Berat tubuh bayi terus turun. Jika beratnya tidak meningkat setelah lima hari, atau jikalau ia mulai kehilangan berat tubuh lagi setiap waktu setelah itu, konsultasikanlah ke dokter.
• Bayi membasahi kurang dari enam popok dalam waktu 24 jam setelah lima hari setelah kelahirannya.
• Pup bayi kecil dan gelap setelah lima hari kelahirannya.
• Urin bayi sangat gelap, menyerupai warna jus apel. (Jika urin pucat atau jelas, beliau menerima cukup cairan. Jika lebih terkonsentrasi, mungkin menjadi tanda bahwa asupan cairannya rendaha)
• Bayi sering rewel atau lesu. Dia mampu tertidur segera setelah diminta menyusu tapi kemudian rewel ketika Ibu lepaskan dari payudara.
• Mulut dan mata bayi tampak kering.
• Bayi tampak tidak puas, bahkan jikalau menyusui secara konsisten dalam waktu lebih dari satu jam.
• Payudara Ibu tidak merasa lebih lembut setelah menyusui.
• Ibu jarang mendengar bayi menelan dikala menyusu. (beberapa bayi memang penyusu dengan sangat pelan. Makara jikalau tanda-tanda lainnya positif, adegan ini mampu diabaikan.)
Apa yang terjadi jikalau bayi tidak menerima cukup ASI?
Meskipun sebagian besar ibu mampu memenuhi kebutuhan bayi dengan ASI mereka, kadang kala ada juga bayi yang tidak menerima cukup ASI. Lalu, ketika duduk perkara itu tidak ditangani, bayi mampu menderita dehidrasi dan gagal tumbuh.
Jika Ibu khawatir bahwa bayi tidak menerima cukup susu, hubungi dokter anak atau konsultasi dengan konsultan laktasi.
Beberapa Ibu juga mengatasinya dengan dukungan susu formula. Hal ini tentu tergantung dengan kondisi, alasannya dukungan formula lewat botol malah mampu semakin mengurangi impian bayi untuk menyusu langsung. Namun untuk kasus-kasus serius, biasanya dukungan susu formula ini sangat dianjurkan.
Seberapa sering bayi akan menyusu?
Ada rentang yang sangat luas dari apa yang dianggap normal. Beberapa bayi suka menyusui sepanjang waktu - bukan hanya untuk makanan, tetapi juga untuk kesenangan – sementara bayi yang lain menyusu hanya ketika mereka lapar. Bayi mungkin terlalu mengantuk untuk menyusu dalam 24 jam pertama mereka. Tapi setelah itu, inilah yang khas:
Baca juga : Pentingnya interval waktu 2 Jam dukungan ASI bagi NB
1-7 minggu
Setiap 2 hingga 3 jam
8 hingga 12 kali sehari
Jumlah ini tampak banyak dan membuat Ibu bertanya-tanya apakah bayi menerima cukup susu setiap menyusu. Namun Ibu perlu ingat bahwa perut bayi masih kecil, sehingga mereka hanya minum secukupnya dan dalam waktu sering.
2 hingga 5 bulan
Setiap 2, 5 hingga 3,5 jam
7-9 kali sehari
Saat ini bayi sudah tumbuh lebih besar dan menjadi lebih efisien dalam menyusui.
6 bulan dan seterusnya
Setiap 5 hingga 6 jam
4 hingga 5 kali sehari
Langganan:
Postingan (Atom)





