Tampilkan postingan dengan label Alergi Makanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alergi Makanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Desember 2017

Alergi Makanan pada Bayi dan Balita

Alergi Makanan pada Bayi - Jika berbicara Mpasi, maka tidak lengkap rasanya bila tidak menyinggung soal alergi makanan pada bayi dan anak. Memang, alergi makanan merupakan salah satu problem yang mampu dihadapi oleh anak dan bayi. Sekitar 20% anak usia 1 tahun pertama pernah mengalami reaksi terhadap makanan yang diberikan (adverse reactions), termasuk yang disebabkan oleh reaksi alergi. Sebetulnya semua makanan dapat menimbulkan reaksi alergi, akan tetapi antara satu makanan dengan makanan lain, mempunyai derajat alergenitas yang berbeda. Di Amerika, 1 dari 12 batita mengidap alergi makanan, serta sekitar 150 batita meninggal dunia setiap tahun karenanya. Di seluruh dunia, kasus alergi makanan pada anak meningkat hingga 2 kali lipat selama 10 tahun.

Untuk itulah maka baik bila mengenali alergi makanan tersebut terlebih dahulu, mengingat ancaman sekali bila sembarangan menunjukkan makanan pada anak, terutama makanan yang merupakan allergen tinggi.
Alergi makanan merupakan suatu reaksi klinis yang tidak diinginkan terhadap makanan secara imunologis. Berbagai jenis manifestasi klinik reaksi hipersensitivitas tipe I menurut Gell dan Coomb diantaranya yaitu disebabkan reaksi alergi terhadap makanan.

Tubuh bayi maupun cukup umur memiliki antibodi yang disebut IgE, yang merupakan protein pendeteksi zat makanan yang masuk ke dalam tubuh. Ketika zat makanan tertentu yang menyebabkan alergi masuk, antibodi ini akan melepaskan zat-zat ibarat histamin.  Nah, inilah yang menyebabkan reaksi alergi, baik ringan maupun berat.

Ada banyak jenis reaksi yang ditimbulkan oleh makanan, dan kebanyakan masayarakat menyimpulkannya sebagai alergi makanan. Padahal tidak. Menurut The American Academy of Allergy and Immunology dan The National Institute of Allergy and Infections Disease, ada tiga jenis reaksi terhadap makanan, yaitu:

1. Adverse food reactions
Suatu istilah umum untuk suatu reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang ditelan. Reaksi ini dapat merupakan reaksi sekunder terhadap food allergy (hipersensitivitas) atau food intolerance (Intoleransi makanan).

2. Food Allergy
Istilah untuk suatu hasil reaksi imunologik yang menyimpang. Sebagian besar reaksi ini melalui reaksi hipersensitifitas tipe I (Gell & Coombs) yang diperani oleh IgE.

3. Food intolerance
Istilah umum untuk semua respons fisiologis yang abnormal terhadap makanan/aditif makanan yang ditelan. Reaksi ini merupakan reaksi non imunologik dan merupakan sebagian besar penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan. Reaksi ini mungkin disebabkan oleh zat yang terkandung dalam makanan ibarat kontaminasi toksik (misalnya, histamin pada keracunan ikan, toksin yang disekresi oleh salmonella, shigela, dan campylobacter), zat farmakologik yang terkandung dalam makanan (misalnya, kafein pada kopi, tiramin pada keju) atau karena kelainan pada pejamu sendiri, ibarat gangguan metabolisme (misalnya, defisiensi laktase) maupun suatu respons idiosinkrasi pada pejamu.

Jenis Makanan Pemicu Alergi
Ada 8 jenis makanan yang seringkali penyebab alergi makanan baik pada bayi atau orang dewasa.



•  Telur (ayam, bebek, telur puyuh)
Bagian telur, terutama putih telur, mampu menyebabkan reaksi alergi. Akibat yang ditimbulkan alergi telur biasanya berupa rasa gatal di sekujur tubuh. Kulit tampak kemerahan ataupun bengkak-bengkak.

•  Susu (sapi dan kambing)
Reaksi alergi yang ditimbulkan oleh susu sapi atau kambing mampu berupa diare atau muntah. Bila bayi alergi terhadap susu sapi atau turunannya, maka beberapa penangangan yang dilakukan oleh dokter anak umumnya akan menyarankan makanan yang terbuat dari protein susu sapi yang telah terhidrolisa sehingga tidak menimbulkan alergi pada bayi, atau menyarankan makanan dengan protein dari kedelai.

•  Kacang tanah
Protein nabati yang terdapat dalam kacang tanah termasuk tinggi. Beberapa makanan pendamping ASI yang mengandung kacang tanah dapat menyebabkan rasa gatal pada badan bayi, juga munculnya bisul-bisul dengan warna kemerahan pada area tangan dan wajah bayi.

•  Gandum
Alergi karena jenis makanan yang mengandung gandum ibarat roti atau sereal, dapat menjadikan banyak sekali gejala alergi ibarat gatal-gatal, sesak napas dan mual, termasuk reaksi alergi fatal yang disebut anafilaksis. Bagi bayi dengan alergi gandum, sebaiknya menghindari makanan yang mengandung gluten dan semolina. Sebagai alternatif, Ibu mampu menggunakan beras atau jagung.

•  Kacang kedelai
Alergi kedelai biasanya ditemukan pada bayi yang diberikan susu yang mengandung kedelai. Makanan lain yang mengandung protein kedelai dan dapat menimbulkan gejala alergi pada bawah umur yaitu miso soup, saus kedelai, dan makanan yang mengandung minyak kedelai.

•  Kacang
Kacang yang tumbuh di pohon ibarat kenari, kacang mede, dan pistasio. Reaksi alergi yang ditimbulkan serupa dengan reaksi alergi pada bayi yang mengonsumsi kacang tanah.

•  Ikan (tuna, salmon, cod)
Ikan dapat menyebabkan reaksi alergi pada sebagian bayi.  Oleh karena itu, Ibu sebaiknya jangan dulu memberi ikan pada bayi sebelum usianya mencapai 6 bulan karena masih dalam masa pemberian ASI eksklusif. Setelah usia bayi Ibu mencapai 8 atau 12 bulan, ikan mampu menjadi episode dari menu yang seimbang.

•  Kerang-kerangan (termasuk lobster, udang, dan kepiting)
Gejala yang ditimbulkannya berupa urtikaria (gatal di kulit), angioedema (bengkak-bengkak), asma atau kombinasi dari beberapa kelainan tersebut. Alergi makanan karena ikan laut paling mudah terdeteksi karena gejala yang ditimbulkan relatif cepat. Biasanya kurang dari 8 jam keluhan alergi sudah mampu dikenali.

Gejala Alergi Makanan pada Anak
Tanda-tanda awal bila bayi atau anak memiliki alergi terhadap makanan tertentu, ibarat berikut:

•    Perut bayi membesar (kembung), pupnya lebih cair atau mencret, dan buang air lebih sering dari biasanya, tetapi tidak disertai lendir atau darah.
•    Bayi lebih rewel karena rasa tidak nyaman pada organ pencernaannya.
•    Gatal, biduran, atau eksim pada kulit.
•    Batuk.
•    Muntah.
•    Nafas tersengal-sengal.
•    Bibir dan tenggorokan bengkak.
•    Mata bayi tampak merah dan berair.

Gejala-gejala awal ibarat gatal-gatal, bengkak, atau kesulitan bernafas pada bayi biasanya muncul hingga dua jam setelah zat penyebab alergi dari makanan tertentu masuk ke dalam tubuh.  Perhatikan bayi Ibu ketika tanda-tanda awal ini terlihat, karena pada beberapa kasus alergi makanan pada bayi, hal ini dapat berlanjut menjadi sangat parah bila tidak segera ditangani.

Dalam beberapa kasus juga ditemukan gejala alergi pada pencernaan ibarat muntah atau diare yang kronis dan diderita cukup lama oleh bayi hingga menimbulkan eksim pada kulit. Eksim yaitu area kering pada kulit yang tampak ibarat bercak kemerahan dan bersisik, yang muncul pada wajah, lengan, hingga area kaki bayi, namun tidak pada area popok.

Ada juga kasus dimana reaksi alergi karena makanan muncul pada bayi, walaupun makanan tersebut pernah diberikan kepada bayi sebelumnya dan tidak ada problem alergi apapun. Jadi, bayi yang memiliki ataupun memiliki potensi alergi terhadap telur, misalnya, mungkin tidak akan menunjukkan reaksi alergi tertentu dikala pertama kali mengonsumsi telur, namun setelah beberapa kali mengonsumsi, gres tampak gejala reaksinya.

Pengobatan dan pencegahan alergi makanan
Pengobatan yang paling penting pada alergi makanan ialah eliminasi terhadap makanan yang bersifat alergen. Terapi eliminasi ini ibarat umumnya pengobatan lain mempunyai efek samping. Eliminasi yang ketat pada sejumlah besar jenis makanan, dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan malnutrisi atau kesulitan makan pada anak.

Umumnya alergi makanan akan menghilang dalam jangka waktu tertentu kecuali alergi terhadap kacang tanah dan sejenisnya serta hidangan laut. Dilaporkan bahwa anak yang menderita alergi makanan akan mengalami perbaikan dengan kehilangan reaktivitas terhadap makanan sekitar 25%, sedangkan pada usia cukup umur akan mengalami perbaikan dengan kehilangan reaktivitas terhadap makanan selamanya. Dengan terapi diet yang ketat terhadap makanan alergen dalam beberapa tahun, alergi makanan dapat saja menghilang, akan tetapi bukan tidak mungkin akan timbul problem malnutrisi atau gangguan makan yang lain. Oleh karena itu di upayakan untuk memberi makanan pengganti yang tepat.

Beberapa terhadap makanan ibarat antihistamin, H1 dan H2, ketotifen, kortikosteroid serta inhibitor sistetase prostaglandin. Secara keseluruhan, pemberian obat obat ini dapat mengendalikan gejala, akan tetapi umumnya mempunyai efisiensi yang rendah. Penggunaan natrium kromoglikat peroral banyak diteliti, tetapi karenanya masih bertentangan. Pemberian imunoterapi pada alergi makanan belum terang hasilnya. Sampai sekarang belum ada studi yang memadai untuk menandakan hasil imunoterapi pada alergi makanan.
Secara umum, ada 3 tahap pencegahan terjadinya penyakit alergi yaitu pencegahan primer (sebelum terjadi sensitisasi), pencegahan sekunder (sudah terjadi sensitisasi tetapi belum terjadi penyakit alergi) serta pencegahan tersier (sudah terjadi penyakit alergi misalnya dermatitis, tetapi belum terjadi penyakit alergi lain misalnya asma). Pencegahan primer dilakukan dengan diet penghindaran makanan hiperalergenik semenjak trimester kehamilan. Sayangnya pada pencegahan primer ini belum ada cara yang sempurna untuk menilai keberhasilannya. Pencegahan sekunder dilakukan dengan penentuan dan penghindaran jenis makanan yang menyebabkan penyakit alergi. Pencegahan tersier biasanya ditambah dengan penggunaan obat ibarat misalnya pemberian setirizin pada dermatitis atopik untuk mencegah terjadinya asma di kemudian hari.

Pemberian ASI ekslusif dilaporkan, dapat mencegah penyakit atopik serta alergi makanan. Akan tetapi para jago alergi masih memperdebatkan efektifitasnya. Walaupun demikian sebagian besar peneliti berpendapat bahwa dengan melaksanakan penghindaran makanan alergen pada ibu hamil dan menyusui serta pada bayi usia dini dengan resiko tinggi terjadinya penyakit atopik, ternyata dapat bermanfaat mencegah terjadinya alergi makanan/penyakit atopik dikemudian hari. Pendekatan moderen secara nutrisi misalnya dengan pemberian fraksi peptida dari protein spesifik yang ditoleransi usus misalnya pemberian formula susu hipoalergenik atau penggunaan komponen spesifik makanan sehari-hari ibarat asam lemak dan antioksidan untuk mencegah terjadinya sensitisasi pada anak yang mempunyai risiko alergi. Pemberian probiotik dapat diberikan sebagai imunomodulator untuk merangsang sel limfosit Th1 pada anak yang mempunyai bakat alergi.

Pencegahan yang paling penting yaitu dengan menelusuri  ada atau tidaknya riwayat alergi dalam keluarga. Semakin banyak anggota keluarga yang mengidap alergi, semakin besar pula risiko anak Anda menderita hal serupa.Selain itu, untuk memantau adanya reaksi alergi, Mommy mampu menerapkan aturan 4 Day wait Rule atau 4DR kepada bayi.

Ada 3 penyebab dari alergi makanan, yakni riwayat genetik, adanya ketidakmatangan akses pencernaan, dan paparan makanan yang bersifat alergen terlalu dini. Catatan: Kedua penyebab pertama tersebut akan membaik ketika anak berusia 2-7 tahun.

Strategi lain untuk menghindari alergi yaitu menunda pemberian makanan padat hingga si kecil berusia 6 bulan. Penelitian menemukan, hal ini terbukti mampu mengurangi risiko anak terserang alergi makanan. Bagi ibu menyusui, meski sejumlah penelitian menyatakan tingkat efektivitasnya tidak terlalu besar, mengurangi asupan makanan yang bersifat alergen dari menu sehari-hari mampu membantu menjauhkan anak dari paparan makanan alergen.


sumber: IDAI, parenting.co.id, bebeclub.co.id, wholesomebabyfood.com

Alergi Telur pada Bayi

Alergi Telur ketika pemberian Makanan Pendamping ASI - Telur merupakan salah satu sumber makanan penting dalam penyiapan Mpasi untuk bayi. Kandungan nutrisinya yang lengkap, membuat telur menjadi primadona, selain juga harganya murah dan terjangkau. Namun sayangnya tidak semua bayi mampu memanfaatkan telur, karena makanan ini merupakan salah satu dari 8 jenis makanan penyebab alergi makanan pada bayi dan balita. Makanan ini dianjurkan mulai diberikan pada anak umur 8 bulan keatas, dan hanya berupa kuning telurnya saja. Baca artikel: Mengenalkan Kuning Telur ke Bayi Mpasi.

Gejala alergi telur biasanya terjadi beberapa menit hingga beberapa jam setelah bayi makan telur atau makanan yang mengandung telur. Tanda dan gejala berkisar dari ringan hingga parah dan dapat mencakup ruam kulit, gatal-gatal, peradangan hidung, dan muntah atau persoalan pencernaan lainnya. Alergi telur jarang menyebabkan anafilaksis atau  reaksi yang mengancam jiwa.

Alergi telur dapat terjadi pada bayi. Kebanyakan anak mampu mengatasi alergi telur mereka sebelum masa remaja. Namun dalam beberapa kasus, alergi mampu berlanjut hingga dewasa.

Gejala Alergi Telur
Reaksi alergi telur bervariasi dari orang ke orang dan biasanya terjadi segera setelah terpapar telur. Gejala alergi telur dapat mencakup:
•    Peradangan kulit atau gatal-gatal merupakan gejala yang paling umum dari reaksi alergi telur
•    Peradangan hidung (rhinitis alergi)
•    Gejala pencernaan (gastrointestinal), ibarat kram, mual dan muntah
•    Tanda-tanda asma dan gejala ibarat batuk, sesak dada atau sesak napas]

Anafilaksis
Reaksi alergi yang parah dapat menyebabkan anafilaksis, keadaan darurat yang mengancam jiwa yang memerlukan epinefrin (adrenalin) ditembak eksklusif dan perjalanan ke ruang gawat darurat. Tanda-tanda anafilaksis dan gejala termasuk:
•    Penyempitan saluran udara, termasuk tenggorokan infeksi atau benjolan di tenggorokan yang membuatnya sulit untuk bernapas
•    Nyeri perut dan kram
•    Denyut nadi cepat
•    Shock, dengan penurunan tekanan darah berat sehingga merasa pusing, kepala ringan atau kehilangan kesadaran

Jika Mommy atau anak memiliki reaksi terhadap telur, konsultasikan hal ini dengan dokter tidak peduli seberapa ringan kemungkinannya. Tingkat keparahan reaksi alergi telur dapat bervariasi setiap kali kasus alergi terjadi. Ini berarti bahwa bahkan kalau Mommy atau anak memiliki reaksi yang  ringan di masa lalu, reaksi berikutnya mampu lebih serius.

Jika dokter berpikir Mommy dan anak berada pada risiko reaksi yang parah, dokter mungkin meresepkan epinephrine darurat yang digunakan kalau terjadi anafilaksis. Suntikan ini tersedia dalam sebuah perangkat yang mudah digunakan, disebut autoinjector.

Ketika ke dokter 
Temui dokter kalau Mommy atau anak memiliki tanda-tanda atau gejala dari alergi makanan tak lama setelah makan telur atau produk yang mengandung telur. Jika mungkin, lihat dokter ketika reaksi alergi terjadi. Hal ini dapat membantu dalam membuat diagnosis.

Jika Mommy atau anak memiliki tanda dan gejala anafilaksis, mampu melaksanakan pengobatan darurat dengan menggunakan autoinjector.

Penyebab Alergi Telur

Semua alergi makanan disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan badan yang berlebihan. Sistem kekebalan badan keliru mengidentifikasi protein telur tertentu sebagai materi yang berbahaya. Ketika Mommy atau anak mengkonsumsi makanan yang mengandung protein telur, sel-sel sistem kekebalan badan (antibodi) mengenali mereka dan sinyal sistem kekebalan badan untuk melepaskan histamin dan materi kimia lainnya yang menyebabkan tanda-tanda dan gejala alergi.

Kuning telur dan putih telur mengandung protein yang dapat menyebabkan alergi, namun alergi terhadap putih telur merupakan alergi yang paling umum. Bayi ASI juga memungkinkan terkena alergi terhadap protein telur kalau ibunya mengkonsumsi telur.

Faktor risiko
Faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko yang meningkatkan kemungkinan alergi telur:
•    Atopic dermatitis. Anak-anak dengan jenis reaksi kulit jauh lebih mungkin untuk membuatkan alergi makanan daripada bawah umur yang tidak memiliki persoalan kulit.
•    . Riwayat keluarga anak berada pada peningkatan risiko alergi makanan kalau satu atau kedua orang bau tanah memiliki asma, alergi makanan atau jenis lain dari alergi - ibarat demam, gatal-gatal atau eksim.
•    Alergi telur berdasarkan usia. Paling sering terjadi pada anak-anak. Ketika anak bertambah tua, sistem pencernaan matang dan reaksi alergi makanan cenderung terjadi.

Komplikasi
Komplikasi yang paling signifikan dari alergi telur ialah memiliki reaksi alergi yang parah yang membutuhkan suntikan epinefrin dan perawatan darurat.
Reaksi sistem kekebalan badan yang menyebabkan alergi telur juga mampu menyebabkan kondisi lain. Jika Mommy atau anak memiliki alergi telur, Mommy atau anak mungkin pada peningkatan risiko:
•    Alergi terhadap makanan lain, ibarat susu, kedelai atau kacang
•    Hay demam - reaksi alergi terhadap bulu hewan peliharaan, tungau bubuk atau serbuk sari rumput
•    Reaksi alergi pada kulit ibarat dermatitis atopik
•    Asma, yang pada gilirannya meningkatkan risiko mengalami reaksi alergi yang parah terhadap telur atau makanan lainnya

Perawatan dan obat-obatan
Tidak ada obat atau perawatan lain yang dapat menyembuhkan alergi telur atau mencegah seseorang dengan alergi makanan untuk mengalami reaksi alergi. Satu-satunya cara untuk mencegah gejala alergi telur ialah menghindari telur atau produk telur. Ini memang hal yang sulit, karena telur ialah materi makanan umum.
Antihistamin untuk mengurangi gejala
Meskipun upaya terbaik ialah mengurangi konsumsi telur, namun kontak dengan telur kadang tidak mampu dihindari. Obat-obatan, ibarat antihistamin, dapat mengurangi tanda dan gejala alergi telur ringan. Obat ini dapat digunakan setelah terpapar telur. Tapi, obat ini tidak efektif untuk mencegah reaksi alergi telur atau untuk mengobati reaksi yang parah.

Tembakan epinefrin Darurat
Jika kondisi reaksi alergi sudah pada resiko yang parah, maka mungkin perlu membawa epinephrine injektor darurat (EpiPen, EpiPen Jr, Twinject) setiap saat. Terutama kalau anafilaksis setelah paparan telur, maka diharapkan tembakan ini ketika perjalanan ke rumah sakit. Bahkan kalau gejala anafilaksis membaik, pasien tetap perlu untuk tetap berada di bawah pengawasan medis untuk jangka waktu untuk memastikan gejala yang parah tidak kembali.

Jika memiliki autoinjector, pastikan alat ini tersedia. Pelajari bagaimana menggunakannya dengan benar. Jika anak Anda memiliki satu, membuat pengasuh yakin telah kanal ke sana dan tahu bagaimana menggunakannya. Jika anak Anda sudah cukup besar, pastikan ia juga mengerti bagaimana menggunakannya. Ganti autoinjector sebelum tanggal kedaluwarsa. Jika tidak, mungkin tidak bekerja dengan baik.

Tidak ada obat untuk alergi telur, tapi kebanyakan anak alhasil akan mengatasi hal itu. Bicarakan dengan dokter anak perihal seberapa sering anak harus diuji untuk melihat apakah telur masih mengakibatkan gejala. Hal ini mungkin tahunan, atau pada agenda lain tergantung pada gejala anak dan rekomendasi dokter

 Pencegahan Alergi Telur

Berikut ialah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari reaksi alergi, dan untuk mencegahnya menjadi lebih parah kalau terjadi.

•    Tahu apa yang Mommy atau anak makan dan minum. Baca label makanan dengan hati-hati. Selain hati-hati membaca label, berhati-hati ketika makan di luar dan menggunakan produk telur bebas di rumah dapat membantu untuk menghindari reaksi

•    Hati-hati ketika makan di luar. Perlu diingat, pelayan atau bahkan juru masak mungkin tidak sepenuhnya yakin perihal apakah makanan mengandung protein telur.

•    Biarkan pengasuh anak tahu perihal alergi telur. Bicaralah dengan pengasuh anak, guru, keluarga atau pengasuh lainnya perihal alergi telur anak sehingga mereka tidak sengaja memberi anak produk yang mengandung telur. Pastikan mereka mengerti apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.

•    Jika menyusui, hindari telur. Jika anak memiliki alergi telur, ia mungkin bereaksi terhadap protein susu melewati ASI ibunya.

Gunakan aturan 4 Day Wait Rule ketika menunjukkan telur pertama kali ke bayi, lihat reaksi bayi. Jika bayi baik-baik saja, berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan perihal pemberian telur ini. 

Sumber tersembunyi dari produk telur
Sayangnya, bahkan kalau makanan yang diberi label bebas telur mungkin masih mengandung beberapa protein telur penyebab alergi. Jika ragu, hubungi produsen untuk memastikan produk tidak mengandung telur.
Beberapa istilah menunjukkan bahwa produk telur telah digunakan dalam pembuatan makanan olahan. Ketentuan yang dapat menunjukkan protein telur ini meliputi:
•    Albumin
•    Globulin
•    Lecithin
•    Livetin
•    Lisozim
•    Simplesse
•    Vitellin
•    Kata dimulai dengan "ovum" atau "ovo," ibarat ovalbumin atau ovoglobulin

Orang-orang yang sangat sensitif terhadap protein telur memiliki reaksi ketika mereka menyentuh telur atau produk telur. Produk non-pangan yang terkadang mengandung telur meliputi:
•    Shampo
•    Obat-obatan
•    Kosmetik
•    cat kuku

Vaksinasi dan alergi telur
Beberapa suntikan untuk mencegah penyakit (vaksin) mengandung protein telur. Pada beberapa orang, vaksin ini mengakibatkan risiko memicu reaksi alergi.

•    (MMR) Vaksin Campak-gondok umumnya aman untuk bawah umur dengan alergi telur, meskipun telur yang digunakan untuk menghasilkan vaksin tersebut.

•    (Influenza) vaksin flu adakala mengandung sejumlah kecil protein telur. Namun, vaksin flu yang tidak mengandung protein ini telah disetujui untuk digunakan pada orang cukup umur usia 18 dan lebih tua. Dan bahkan vaksin yang memiliki protein telur dapat diberikan dengan aman untuk kebanyakan orang dengan alergi telur tanpa masalah. Jika mommy atau anak memiliki reaksi terhadap telur di masa lalu, berbicara dengan dokter sebelum menerima vaksinasi flu.

•    Vaksin demam kuning dapat memprovokasi reaksi alergi pada beberapa orang yang memiliki alergi telur. Ini diberikan kepada wisatawan yang akan memasuki Negara di mana ada risiko tertular demam kuning. Ini umumnya tidak dianjurkan untuk orang dengan alergi telur, namun adakala diberikan di bawah pengawasan medis setelah pengujian untuk reaksi.

•    Vaksin rabies juga dapat menyebabkan reaksi pada orang dengan alergi telur. Seperti dengan vaksin demam kuning, vaksin rabies mungkin aman bila diberikan di bawah pengawasan medis setelah pengujian.

•    Vaksin lainnya umumnya tidak berisiko bagi orang yang memiliki alergi telur. Tapi tanyakan dokter hanya untuk menjadi aman. Jika dokter Anda prihatin perihal vaksin, ia mungkin akan melaksanakan pengujian untuk mengetahui kemungkinan mengakibatkan reaksi.

sumber: mayo clinic


Kamis, 07 Desember 2017

Kerang untuk Makanan Bayi

Makanan bayi sehat - Sebagai salah satu makanan laut, kerang tentu memiliki kandungan protein yang tinggi. Protein memiliki manfaat yang indah untuk pertumbuhan anak. Hanya saja, menyerupai halnya udang, tentu kerang tidak mampu diberikan secara sembarangan kepada bayi.

Alergi kerang mampu menjadikan dampak serius bagi kesehatan anak. Faktor utama yang patut dipertimbangkan adalah  riwayat kesehatan keluarga, khususnya mengenai penyakit atopik menyerupai asma dan alergi.

Jadi, kapan bayi boleh makan kerang?
Biasanya, dokter akan menyarankan bayi sampai umur 9 bulan untuk memberi anak makanan berupa jenis ikan (seperti salmon) dan setahun untuk kerang (sama halnya dengan udang dan lobster). Namun pada beberapa kasus, khusus untuk bayi dengan riwayat alergi menyerupai di atas,  kerang sebaiknya gres diberikan dikala anak berumur 3 tahun.

Bagaimana Memperkenalkan Kerang untuk Bayi
Setelah mengetahui kapan belum dewasa mampu makan kerang, langkah berikutnya yakni untuk mengetahui bagaimana memberi makan kerang untuk bayi.

Metode pertama tentunya dengan memperkenalkan kerang hanya satu jenis setiap sekali pemberian. Campur kerang dengan bubur, jangan menyampaikan dalam bentuk finger food.

Perkenalkan kerang dalam keadaan benar-benar matang, bukan setengah mentah menyerupai pada sushi. Kerang mungkin mengandung virus dan basil yang tidak menjadikan dampak bagi orang dewasa, tetapi berbahaya bagi anak-anak.


Seperti teori 4 day wait rules, tunggulah sampai tiga hari sebelum memperkenalkan materi makanan gres pada anak. Rentang waktu ini akan memungkin Ibu untuk melihat reaksi alergi.  Perhatikan pula tanda-tanda alergi yang ditampakkan pada bayi. Apakah mereka memperlihatkan gejala menyerupai diare, muntah, kram perut, ruam dan pembengkakan pada wajah, bibir atau pengecap setelah makan kerang. Hubungi dokter kalau gejala tersebut ditunjukkan oleh anak.

Apa itu Alergi Kerang?
Meskipun kerang termasuk ke dalam seafood, alergi kerang berbeda dengan alergi ikan alasannya secara biologis, kerang dan ikan berbeda.

Ada dua jenis alergi kerang:
•    Krustasea menyerupai lobster, kepiting, atau udang
•    Moluska menyerupai kerang, tiram, mussels, dan clams

Dalam kasus alergi terhadap kerang, sistem kekebalan badan seseorang akan bereaksi berlebihan terhadap protein yang ditemukan dalam kerang. Itu alasannya setiap kali makan kerang, badan akan berpikir ada penyerang yang berbahaya.

Sistem kekebalan badan bekerja keras untuk melawan penjajah dan ini menyebabkan reaksi alergi. Selama proses ini badan melepaskan histamin yang dapat menyebabkan gejala berikut:
•    Penurunan tekanan darah (yang menyebabkan hilangnya kesadaran atau ringan)
•    Pembengkakan
•    bintik-bintik merah
•    hives
•    Mata yang gatal, infeksi atau lembap
•    Diare
•    muntah
•    Sakit perut
•    Sesak tenggorokan
•    bunyi serak
•    Batuk
•    kesulitan bernapas
•    mengi / sesak napas

Setiap bayi yang menyantap kerang dari makanan bayi mereka mungkin mengalami reaksi yang berbeda,tergantung pada jenis kerang yang dikonsumsi.


Rabu, 06 Desember 2017

Manfaat Telur Puyuh untuk Bayi dan Anak

Apakah Mommy sering menyampaikan telur puyuh sebagai menu makanan sehat bayi?

Yap, ternyata itu tindakan cantik loh, Mom. Kenapa? Karena telur puyuh mengandung aneka macam manfaat kesehatan untuk bayi dan anak. Selain itu telur puyuh juga dianggap sebagai alternatif yang sehat untuk belum dewasa yang alergi terhadap telur ayam.

Telur puyuh dianggap sebagai makanan mukjizat untuk pertumbuhan dan perkembangan belum dewasa pada segala usia. Tidak menyerupai telur ayam biasa, telur puyuh menunjukkan risiko yang lebih rendah yang berkaitan dengan alergi dan dengan demikian itu yakni alternatif yang lebih aman.
Mulai kapan bayi bisa diberikan telur puyuh?

Telur puyuh bisa diperkenalkan mulai umur 9 bulan. Mommy bisa mencoba mulai dari menunjukkan hanya kuning telur. Setelah bayi berumur satu tahun, gres berikan telur utuh, dengan takaran satu butir per hari.  Anak-anak berusia antara 3 sampai 7 tahun bisa mengonsumsi telur puyuh 2-3 telur puyuh per hari, tergantung pada kapasitas pencernaan masing-masing. Anak-anak di atas 7 tahun dapat mengonsumsi sekitar 3-5 telur puyuh.

Manfaat kesehatan Telur Puyuh untuk Anak

Karena kandungan nutrisi penting, telur puyuh menunjukkan banyak manfaat kesehatan untuk anak.

Meningkatkan Kekebalan & Memory
Telur puyuh dikenal bisa membantu anak untuk menumbuhkan sistem pertahanan yang berpengaruh dan kekebalan. Telur ini membantu meningkatkan tingkat hemoglobin dan juga membantu badan anak untuk menyingkirkan racun dan setiap senyawa logam lainnya. telur puyuh juga bisa menjaga ginjal, hati dan kandung empedu anak.

Telur puyuh juga dikenal untuk meningkatkan acara otak dan meningkatkan rasa memori. Memperkenalkan telur puyuh dalam makanan anak bisa membantu mereka untuk meningkatkan kemampuan berguru di kelas.

Kaya Vitamin & Mineral:
Salah satu alasan utama mengapa dokter anak di seluruh dunia menyarankan orang bau tanah untuk menunjukkan telur puyuh untuk belum dewasa mereka yakni karena telur ini kaya akan vitamin dan nutrisi yang sehat. Kandungan protein yang sangat tinggi dari telur puyuh akan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan si kecil. Selain itu, telur puyuh juga tinggi vitamin B1 yang sangat penting bagi perkembangan awal anak. Bahkan, kandungan vitamin B1 telur puyuh lebih dari jumlah vitamin B1 yang tersedia di ayam.

Menyembuhkan batuk dan asma:
Apakah anak terus menerus menderita batuk dan asma? Maka sudah saatnya Mommy berkonsultasi dengan dokter anak dan meminta saran dokter dalam memperkenalkan telur puyuh untuk anak. Telur puyuh mengandung nutrisi penting yang akan membantu anak melawan duduk perkara batuk dan asma yang berulang. Kandungan protein tinggi telur puyuh juga membantu dalam meningkatkan kekebalan badan secara keseluruhan.
manfaat telur puyuh untuk anak


Baca: Jamu untuk Mengatasi batuk pada Balita

Meningkatkan pembentukan Sel Darah Merah:
Makanan kaya zat besi alternatif menyerupai telur puyuh misalnya, bisa pembentukan sel-sel darah merah pada anak. Selain itu, kehadiran mineral penting menyerupai potasium dalam telur puyuh pada dasarnya bisa membantu anak untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan yang sehat dari tulang, gigi dan kuku.

Mengurangi Kemungkinan Penyakit Terminal:
Telur puyuh memang makanan super untuk anak kecil karena telur puyuh bisa mengurangi potensi anak terkena penyakit terminal menyerupai penyakit jantung, arthritis dan bahkan kanker. Hal ini disebabkan oleh asupan kalium yang tinggi dari telur puyuh, sehingga mengurangi kemungkinan adanya penyakit ini.

Sebuah solusi gizi untuk anak yang alergi telur ayam :
Banyak anak menderita alergi terhadap telur ayam, sehingga badan mereka kekurangan vitamin B1. Telur puyuh merupakan alternatif untuk belum dewasa dengan alergi ini. kenapa? Karena kehadiran protein yang disebut ovomucoid, telur puyuh tidak hanya mencegah kemungkinan alergi, tetapi juga pada ketika yang sama itu akan membantu anak untuk melawan tanda-tanda formasi alergi potensial dalam tubuh.


Lalu bagaimana caranya menyampaikan telur puyuh pada bayi?
Mommy bisa mencampurkan kuning telur yang sudah direbus ke bubur bayi. Hindarkan mencampur kuning telur pribadi pada ketika pembuatan bubur karena bisa membuat bubur menjadi amis.
Baca

baca juga : Mengenalkan Kuning Telur pada Makanan Bayi 

Perhatian: Sebelum Memperkenalkan Telur Puyuh untuk anak

Meskipun anak memiliki kemungkinan alergi telur puyuh lebih kecil ketimbang terhadap telur ayam, maka dianjurkan untuk memperkenalkan telur puyuh )walaupun kuning saja) setelah umur 1 tahun. terutama kalau orang bau tanah memiliki riwayat alergi ini. konsultasi dengan dokter untuk mengetahui resiko-resiko yang kemungkinan terjadi.

Sabtu, 02 Desember 2017

Cegah Penyakit Alergi dengan Varian Makanan yang Beragam di Tahun Pertama Bayi


Peningkatan keanekaragaman makanan pada tahun pertama kehidupan dapat membantu melindungi anak dari alergi.

Jika biasanya, kita menghindarkan anak dari beberapa jenis makanan karena takut alergi, nah ternyata ada studi gres lho yang menyatakan bahwa bantuan banyak sekali makanan pada tahun pertama bisa membantu anak untuk mencegah perkembangan penyakit alergi.


Seperti yang dilansir oleh rollercoaster.ie, sebuah tim peneliti Eropa mempelajari praktik bantuan makan oleh orang renta di Austria, Finlandia, Prancis, Jerman dan Swiss untuk mengukur keragaman makanan belum dewasa terhadap diagnosis asma, alergi makanan dan juga alergi rhinitis.

Ini yaitu studi pertama yang memperlihatkan kekerabatan antara peningkatan paparan makanan tertentu di tahun pertama kehidupan dan perlindungan terhadap perkembangan alergi di masa depan.

Dalam hal ini, fokus peneliti yaitu perihal nutrisi yang ternyata memiliki kemampuan untuk menghipnotis perkembangan sistem kekebalan badan anak.

Paparan dini terhadap banyak sekali makanan yang berbeda dapat meningkatkan penerimaan sistem kekebalan terhadap antigen yang ada pada makanan tersebut (zat atau protein yang ketika diperkenalkan ke dalam badan dikenali oleh sistem kekebalan tubuh), mungkin dengan perolehan basil usus yang menguntungkan.

Studi ketika ini yaitu adegan dari penelitian yang lebih luas yang dirancang untuk mengevaluasi faktor risiko dan tindakan pencegahan terhadap penyakit alergi.


Para wanita itu direkrut dari lima negara Eropa ketika hamil dan, setelah melahirkan, mereka menyimpan buku harian bulanan makanan yang diberikan kepada belum dewasa mereka dari usia tiga bulan hingga dua belas bulan.

Serangkaian kuesioner dan tes darah digunakan secara teratur hingga usia enam tahun untuk menentukan apakah anak tersebut memiliki alergi (diklasifikasikan berdasarkan diagnosis dari setidaknya satu dokter). Skor keragaman pangan yang didefinisikan sebagai jumlah makanan berbeda yang termasuk dalam makanan anak-anak. Secara keseluruhan, 856 bayi dimasukkan dalam penelitian ini.

 Baca juga : Alergi Makanan pada Bayi dan Anak

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa anak dengan skor keragaman makanan lebih tinggi (yaitu lebih banyak jenis materi makanan yang dikonsumsi), memiliki risiko penyakit alergi yang lebih rendah.

Secara khusus, pengenalan beberapa makanan tertentu ditemukan menghasilkan risiko penyakit yang lebih rendah; Produk susu dan ikan yang diperkenalkan di tahun pertama kehidupan tampaknya memiliki efek perlindungan yang tinggi terhadap asma dan alergi makanan.

Saat belum dewasa tersebut diuji pada usia enam tahun, diet yang kurang beragam ternyata memperlihatkan lebih sedikit protein yang berkaitan dengan produksi sel kekebalan yang terlibat dalam menekan respons kekebalan badan terhadap sel kita sendiri.

Anak-anak dengan nilai keragaman makanan yang lebih rendah juga ditemukan memiliki kemungkinan peningkatan tingkat antibodi IgE yang lebih tinggi (molekul yang diproduksi oleh badan sebagai respons terhadap antigen), yang terlibat dalam respon imun. Temuan lain menyangkut pentingnya usia di mana makanan diperkenalkan.

Dengan mempelajari skor keragaman makanan baik setelah enam bulan dan satu tahun, para peneliti mengamati efek perlindungan yang lebih tinggi secara signifikan terhadap alergi setelah satu tahun.
Oleh karena itu, periode antara enam bulan dan satu tahun mungkin merupakan jendela penting untuk paparan banyak sekali makanan yang berbeda untuk mengurangi risiko penyakit alergi.

Secara signifikan, tingkat penyakit alergi tampak lebih tinggi pada belum dewasa dengan dua orang renta yang memiliki riwayat alergi dibandingkan belum dewasa yang tidak memiliki orang renta dengan alergi, dan proporsi anak yang lebih tinggi dengan salah satu atau kedua orang renta yang alergi memiliki skor keragaman rendah (diet kurang bervariasi) dibandingkan dengan orang renta yang tidak memiliki riwayat alergi.

Namun, kemungkinan bias bisa disebabkan oleh 'efek kausalitas terbalik', di mana jikalau anak mulai memperlihatkan gejala awal penyakit ini, atau memiliki orang renta dengan alergi, makanan tertentu kemungkinan akan diperkenalkan kemudian.

Ini akan menghasilkan skor keragaman makanan yang lebih rendah dan kemungkinan penyakit alergi yang lebih tinggi.

Baca juga : Alergi Telur pada Bayi

Rekomendasi ketika ini yaitu biar belum dewasa diperkenalkan pada makanan padat sekitar enam bulan, dan tidak lebih awal dari empat bulan.

Memastikan belum dewasa diperkenalkan pada banyak sekali jenis makanan pada masa bayi, terutama antara enam dan dua belas bulan, mungkin memiliki efek pencegahan terhadap anak yang menyebarkan alergi.