Tampilkan postingan dengan label perkembangan balita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perkembangan balita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Desember 2017

Ketika Balita Tidak Mendengarkan Orangtua

Apakah balita seringkali bersikap seolah tidak mendengar apa yang Ibu katakan? Atau, mereka sama sekali tidak merespons setiap Ibu mengatakan atau meminta sesuatu?

Yap, itulah balita-balita saya. Si Cuta dan Widya. Anak-anak yang dengan siapa blog ini bertahan dan terus berkembang. Cuta sekarang mendekati umur 5, sementara Widya gres saja berulang tahun yang ke-3. Wow, betapa cepat waktu seakan berlalu.

Oke, dengan dua balita sehat laki-laki yang sedang aktif-aktifnya, mungkin Ibu bisa membayangkan bagaimana kondisi di rumah. Anak-anak yang berlarian, berteriak, berebut mainan, bertengkar dan juga tidak mendengar apa pun juga. Jangankan merespons dikala saya meminta ‘Adek, rapikan mainan!”, bahkan dikala saya memanggil “Adek, jangan lari!” pun mereka melengos begitu saja.

Namun, saya menganggap itulah mereka dengan perkembangan balita mereka. Anak-anak yang bahkan hingga harus dipanggil sepuluh kali hingga saya lelah sendiri. jadi alih-alih menunggu mereka merapikan mainan, hasilnya saya yang melakukannya alasannya ialah itu lebih menghemat energi.

Tapi sebenarnya, apakah ini wajar?
Nah, ibarat biasa. Saya akan membicarakan hal ini berdasarkan sebuah sumber. Kali ini saya ambil dari laman perilaku balita di newkidscenter.com. Selain untuk sharing, ini juga untuk pembelajaran pribadi. Karena saya merasa masih amat sangat kurang dalam memahami kenapa si krucil-krucil sama sekali tidak merespons dikala saya memanggil.

Balita kadang kala tidak akan mendengarkan orang bau tanah mereka alasannya ialah ketidakmampuan mereka untuk memperhatikan. Jika Ibu terus mengulangi perintah sepuluh kali ke anak maka sang anak bisa berbagi kebiasaan tidak mendengarkan Ibu hingga Ibu setidaknya mengatakan perintah sepuluh kali lebih.

Sikap mereka yang seolah tidak mendengar juga mungkin berarti sedang mencari perhatian. Namun, bila Ibu terus mengomel, maka si balita tidak akan tidak akan bisa meningkatkan keterampilan mendengarkan; sebaliknya, hal itu mungkin  mereka kesulitan untuk mendengarkan guru dan teman-teman.
Nah, mengapa balita kadang tidak mendengarkan orangtua mereka?

Salah satu alasannya ialah mereka mungkin kurang bisa memahami setengah dari kata-kata yang diucapkan kepada mereka. Oleh alasannya ialah itu, bila anak tidak akan mendengarkan, kadang kala itu memang merupakan bab dari proses  Anda kadang-kadang, itu ialah pengembangan alami mereka dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, bila mereka tidak pernah mendengarkan  Ibu, mungkin merupakan menandakan sebuah masalah sehingga Ibu perlu berkonsultasi dengan dokter anak.
Beberapa masalah tersebut di antaranya:

Keterlambatan perkembangan balita terutama dalam kemampuan kognitif dan Lisan
Pada umur dua tahun, seorang balita sehat biasanya sudah bisa memahami perintah yang diberikan pada mereka. Namun, bawah umur dengan keterlambatan kognitif atau ekspresi mungkin bisa mendengar perintah tapi tidak menafsirkannya. Jika anak Ibu belum bisa mengikuti perintah kecil di usianya yang dua tahun itu, maka berkonsultasi dengan dokter anak.

Tantangan
Anak keras kepala biasanya menggunakan telinga selektif sebagai cara pembangkangan. Anak-anak mungkin hanya tidak ingin mendengarkan beberapa perintah Ibu dan mulai mengabaikan. Meskipun pada kenyataannya mereka memahami mereka dengan sempurna.

Gangguan Spektrum Autisme
Anak-anak yang menderita gangguan autisme spektrum mungkin juga tampak tuli terhadap perintah orangtua mereka. Jika anak menunjukkan tanda-tanda ini, cara terbaik ialah konsultasi ke dokter

Penurunan Pendengaran
Anak-anak yang lahir tuli atau yang telah menderita beberapa jenis syok setelah lahir mungkin kehilangan kemampuan mereka untuk mendengar. Salah satu cirinya ialah anak yang tidak menanggapi bunyi atau bunyi dalam beberapa bulan pertama mereka.

Gangguan Pengolahan Sensorik
Anak-anak yang menderita gangguan pengolahan sensorik dapat mendengarkan bunyi orang tua, tetapi mereka tidak dapat memahaminya alasannya ialah otak mereka tidak bisa memproses nada atau bunyi yang dibuat dengan cara yang normal. Gangguan ini membuat anak tidak bisa merespon orangtua atau mengambil bab dalam komunikasi.

Lalu bagaimana cara menanganinya?


Dari laman yang sama, saya mendapat beberapa cara. Yaitu:

Baca Buku untuk Balita
Membacakan mereka buku bisa meningkatkan kemampuan anak untuk mendengarkan. Cobalah membaca dengan keras dan juga mengubah intonasi bunyi sehingga anak tidak kehilangan minat. Belilah buku gres dalam jangka waktu berkala, sehingga anak tidak bosan dan mereka akan terus mendengarkan dengan penuh minat demi mengetahui apa yang terjadi selanjutnya dalam cerita.

Catatan penulis: bab ini suer, benar banget. Anak-anak saya selalu suka setiap dibacakan buku cerita. Bahkan, mereka selalu meminta.

Turunkan Volume Suara dikala memberi mereka perintah
Memberi perintah sambil berteriak dan bangkit akan menakuti ia dan ia tidak akan mendengar apa yang Ibu katakan. Oleh alasannya ialah itu, ialah wangsit yang baik untuk menurunkan volume bunyi dikala memberi anak perintah. Dengan cara ini, ia akan mendengarkan Anda dan bertindak atasnya juga.

Catatan penulis: Hmm... bab ini sepertinya agak... yah, begitulah. Anak-anak, tetap ga dengar

Berbagi dengan Balita
Makan bersama dengan seluruh keluarga ialah cara yang mengagumkan untuk membuat anak mendengarkan. Ketika semua anggota keluarga berkumpul di satu meja dan makan makanan mereka bersama-sama, mereka akan berinteraksi satu sama lain dan anak akan menerima kesempatan untuk mendengar dan juga terlibat dengan mereka.

Nyatakan Pesan dengan Jelas

Anak-anak memiliki rentang perhatian yang sangat kecil, sehingga Ibu janganlah mengobrol wacana sesuatu sebelum menunjukkan perintah kepada anak. Sebaliknya, cobalah untuk menunjukkan perintah dalam kata-kata kecil dan tepat, sehingga anak dapat dengan mudah mendengarkan dan memahami.

Beri Contoh
Jika Ibu menunjukkan anak perintah tapi si anak tidak mendengarkan, tindak lanjuti perintah itu sesegera mungkin dengan menunjukkan anak apa yang Ibu ingin ia lakukan. Misalnya, dikala Ibu menyuruh mereka merapikan mainan dan mereka tidak mendengar, maka Ibu rapikan mainan itu dengan cepat sehingga bisa melihat. Kalau perlu ajak mereka turut serta.

Memperkuat Pesan 
Setelah menunjukkan perintah kepada anak, cobalah untuk memperkuat perintah itu dengan gerakan fisik. Misalnya, bila Ibu ingin ia pergi ke daerah tidur maka matikan lampu, sentuh bahunya dan katakan bahwa sudah waktunya bagi ia untuk pergi tidur.

Berikan Peringatan pada Balita

Berikan anak peringatan dikala sebuah perubahan terjadi secara tiba-tiba. Misalnya, bila Ibu akan keluar dengan dia, katakan padanya bahwa ia harus meninggalkan acara dan menemani  Ibu. Peringatan ini harus diberikan dengan segera alasannya ialah anak sama sekali belum bisa melacak dan menghitung waktu.

Berikan Balita Instruksi yang Realistis

Jangan meminta anak untuk melaksanakan semua pekerjaan sekaligus. Misalnya, dikala meminta ia untuk membersihkan kamarnya, katakan padanya pertama untuk merapikan buku-bukunya. Setelah ia selesai dengan buku, gres minta ia merapikan mainan dan lainnya. Dengan cara ini, balita akan melaksanakan hal-hal yang Ibu minta.

Memotivasi Balita Ibu
Memberi perintah dengan berteriak hanya akan menakuti anak.  Cobalah untuk mengatakan sesuatu yang positif pada final perintah Ibu. hal ini bertujuan untuk mendorong dan memotivasi anak untuk melaksanakan apa yang Ibu katakan.

Memberi Contoh Baik untuk Balita
Memberi teladan yang baik bagi anak  dengan mendengarkan anak dikala mereka berbicara akan membuat mereka mendengarkan Ibu. Karena dikala ia melihat Ibu memperhatikan apa yang ia katakan, ia juga akan mulai memperhatikan apa yang Ibu katakan padanya.

Tips sederhana ya sebenarnya, Bu. Hanya saja, ibarat saya, kadang melaksanakannya sulit alasannya ialah kita memandang masalah dari sudut pandang orang dewasa. Kita, tanpa sadar menganggap mereka orang dewasa, yang seharusnya sudah menyahut dengan dua tiga kali panggilan. Kita lupa, bahwa dunia anak dan dunia orang remaja itu berbeda.


Cara Agar Anak Berhenti Mengompol

Topik kali ini pas banget, Bu, perihal bagaimana membuat anak biar berhenti mengompol.  Iya, Widya di umurnya yang 3 tahun kadang masih mengompol. Berbeda dengan kakaknya yang benar-benar sudah bebas ompol di umur yang sama. Walaupun kadang susah, tetapi dengan diingatkan biar berdiri dan bilang kalau beliau mau kencing, perlahan si Widya mengikutinya juga.

Namun, Ibu juga perlu tahu kenapa sih seorang balita sehat masih saja mengompol?

Masalah mengompol ini memang sangat umum di kalangan anak-anak. Ibu mungkin tidak sering mendengar perihal itu karena biasanya orangtua aib untuk membicarakan perihal anaknya yang masih mengompol. Namun bahwasanya tidak perlu malu, karena balita mengompol itu bisa disebabkan oleh beberapa hal.

Mengapa Anak-anak mengompol?

Ada sejumlah alasan yang berbeda mengapa bawah umur mengompol. Beberapa alasan itu di antaranya?

Keterlambatan pematangan kandung kemih
Hal ini terjadi saat sinyal antara otak dan kandung selama tidur diperlampat karena beberapa alasan. Makara memang, karena menyangkut perkembangan balita, Ibu tidak akan bisa memaksakan bawah umur biar segera  berhenti mengompol.

Rendahnya hormon anti-diuretik (ADH) selama tidur
Masalah ini terjadi saat hormon yang mengontrol jumlah produksi  urin kita tidak seimbang.

Fungsi Kandung Kemih yang lemah
Walaupun ukuran kandung kemih anak mungkin normal, namun fungsi yang lemah memungkinkan terjadinya ketidaksinkronan data antara yang ada di otak dan keadaan yang sebenarnya. Otak mungkin saja mendapatkan sinyal bahwa kandung kemih anak penuh, bahkan saat kenyataannya tidak. Makara urin anak akan keluar demi mengosongkan kandung kemih.

Sembelit
Nah, sembelit juga ternyata berdampak pada mengompolny anak. Hal ini terjadi akhir tekanan yang terjadi pada kandung kemih.

Dokter anak umumnya menganggap mengompol normal untuk bawah umur hingga usia 6. Ada banyak faktor yang dapat berkontribusi untuk gangguan ini. Jika anak masih saja mengompol setelah usia itu, maka Ibu harus konsultasi ke dokter.



Cara membuat Anak berhenti mengompol

Batasi Asupan Cairan Sebelum tidur
Membatasi jumlah cairan anak yang dikonsumsi anak sebelum tidur bisa mengurangi kemungkinan ngompol. Walau cara ini memang tidak selalu berhasil. Namun kebanyakan dokter tidak merekomendasikan hal ini karena takutnya anak akan menganggap ini sebagai hukuman atas kesalahan mereka. padahal tidak. Mengompol bukan kesalahan.

Ajak Anak kencing sebelum tidur.
Pastikan anak mengosongkan nya kandung kemih sebelum tidur. Memastikan kandung kemih kosong dapat membantu mengurangi kemungkinan mengompol di malam hari.

Gunakan Alarm Mengompol (Bedwetting alarm)
Alat ini mungkin belum lumrah di Indonesia, tetapi sudah ada di luar negeri. Sebuah alarm mengompol ialah perangkat yang dipakai pada pakaian atau pakaian dalam anak. Alat ini dihubungkan dengan alarm yang akan membangunkan anak saat urin keluar untuk pertama kalinya. Anak akan berdiri dan menghentikan pembuangan urin yang tidak disengaja itu. anak akan meminta ke kamar mandi untuk menyelesaikan kencing.

Penggunaan  alat ini dinyatakan sebagai salah satu cara  yang paling efektif  demi menghentikan duduk perkara mengompol secara jangka panjang. Banyak keluarga telah menemukan alat ini sebagai sebuah solusi yang lebih baik daripada grafik reward atau bahkan obat dalam beberapa kasus.

Jangan Menyalahkan, Jangan Mengkritik
Jangan menyalahkan anak saat mereka mengompol. Seringkali, ini terjadi di luar kendali mereka. Kadang tanpa disalahkan pun, anak sudah merasa buruk karena mereka mengompol. Dukung anak Ibu, tunjukkan bahwa Ibu dan keluarga mencintai mereka, tidak peduli apakah mereka masih mengompol atau tidak.

Jelaskan kepada anak Anda
Ketika mengompol menjadi sebuah masalah, anak Ibu mungkin akan merasa buruk atau bertanya pada Ibu perihal mengapa mereka mengompol. Jelaskan kepada mereka dengan cara sederhana, bahwa antara kandung kemih dan otak mereka belum berbicara satu sama lain dengan benar, dan kedua organ itu butuh hal-hal berbeda biar bisa berkomunikasi secara efektif. Sekali lagi, jangan pernah menyalahkan anak karena mengompol.

Melatih kandung kemih
Melatih kandung kemih dilakukan dengan cara meminta anak menahan kencing selama beberapa menit saat mereka ingin pipias. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak untuk mengontrol pedoman urin dan membantu mereka untuk terhindari dari mengompol di malam hari.

Konsultasi dengan dokter

Hal ini perlu dilakukan kalau urusan mengompol sudah menjadi masalah. Dokter akan memantau kemajuan anak. Dokter juga akan memiliki solusi untuk membantu dan mengevaluasi keseluruhan akar penyebab masalah.

Mempertimbangkan penggunaan Obat
Ada obat yang dapat membantu mengontrol kandung kemih, tetapi hanya dokter anak yang boleh menentukan apakah anak Ibu memang harus mendapat obat itu atau tidak. Obat-obatan ibarat hanya untuk jangka pendek dan akan dihentikan kalau anak berhenti mengompol.

Kamis, 07 Desember 2017

Permainan Edukatif untuk Balita yang Tidak Mau Mendengarkan

Ada beberapa jenis permainan yang bisa membantu kemampuan mendengarkan untuk balita cerdas Ibu. Ibu bisa memainkannya di rumah sesering mungkin.

Seperti yang dilansir di laman newkidscenter.com, beberapa jenis permainan edukatif itu di antaranya:

Permainan dengan boneka

Ambil sebuah boneka dan gunakan itu untuk menarik perhatian anak. Setelahnya, lewat boneka itu, minta anak untuk melaksanakan sesuatu untuk Ibu, semisalnya bertepuk tangan dan mengambil mainannya dari lantai.

Bagaimana permainan ini bisa membantu?
Balita akan melihat boneka sebagai teman, dengan demikian akan mengikuti perintah boneka yang Ibu mainkan itu. Balita sehat Ibu tidak akan berpikir bahwa yang memberi perintah itu yaitu Ibu.

Permainan Berburu Harta Karun
Sembunyikan  mainan dan katakan pada anak bahwa Ibu memiliki harta karun yang harus ditemukan. Berikan petunjuk bagaimana anak bisa menerima harta karun itu.

Bagaimana permainan ini bisa membantu?
Anak akan mendengarkan perintah Ibu sebab ia tertarik untuk mencari harta karun. Hal ini juga akan membantu dalam meningkatkan kemampuan memori balita cerdas sehat Ibu.

Permainan dengan Senter
Matikan lampu dan hidupkan senter. Minta anak untuk menyorotkan lampu senter ke benda-benda tertentu di kamar.

Bagaimana ini bisa bekerja?
Dalam cahaya redup, anak akan lebih fokus sebab kurangnya pengalihan. Dia akan mengikuti perintah Ibu lebih mudah. selain itu, permainan ini akan mengurangi ketakutan balita sehat Ibu terhadap gelap

Mulai Meniru
Pilih bunyi yang berasal dari sumber yang tidak dikenal dan minta anak untuk mendengarkan. Jika ia tidak mau, maka tunjukkan padanya bagaimana cara mendengar yang saksama dan memalsukan bunyi itu.

Bagaimana Permainan ini bisa Membantu?
Anak mungkin akan kesulitan mendengarkan bunyi yang berasal dari sumber yang tidak terlihat, tetapi usaha itu akan meningkatkan kemampuan konsentrasi dan mendorong ia untuk mendengarkan dengan saksama.

Menyanyikan lagu sederhana dengan balita cerdas Ibu
Buatlah sebuah lagu yang menceritakan ihwal peran yang harus dilakukan anak. Selagi menyanyi, buatlah gerakan bersama supaya lebih menyenangkan.

Bagaimana permainan ini bisa berhasil?
Anak lebih mungkin mengikuti perintah Ibu dikala menyanyikan lagu yang menjelaskan tindakan mereka ketimbang Ibu menyuruh mereka secara langsung. Paham? Misalnya, Ibu ingin ia merapikan mainan. Maka karanglah lagu dengan lirik yang mencantumkan undangan itu.


Cara Mengatasi Anak yang Suka Memukul

Apa anak Ibu suka memukul?

Oke, bisa jadi ini ialah persoalan banyak orangtua. ketika anak-anal berubah agresif, suka memukul dan suka berkelahi. Ini tentu saja tidak normal, sebagai orangtua, Ibu tentu saja merasa cemas.
Kenapa balita suka memukul?

Agresi fisik bukanlah hal yang gres pada anak. Bahkan bisa juga menandai fase dalam petumbuhan mereka. ketika anak berusaha keras untuk mandiri, tetapi kemampuan komunikasinya belum berkembang sehingga mereka menjadi gelisah dan sangat mudah marah. selain itu, kurangnya kontrol impuls pada anak bisa mendorong terjadinya kekerasan dan agresif.

Berikut beberapa alasan yang bisa menjelaskan kenapa balita suka sekali memukul.

Mengembangkan keterampilan
Salah satu alasan di balik perilaku bernafsu anak ialah ketidakmampuannya untuk mengatasi emosi. Mereka mungkin bisa berbicara dan berjalan, akan tetapi kemampuan untuk mengatasi emosi menyerupai rasa lapar dan frutrasi masih dalam tahap perkembangan. Dengan demikian, satu-satunya cara bagi anak untuk menuntut perhatian dari orangtua atau melampiaskan rasa frutrasi ialah dengan memukul seseorang atau melempar sesuatu.

Curiosity/ keingintahuan
Ini bisa jadi salah satu alasan mengapa anak mulai melempar atau memukul sesuatu. pada usia ini, anak sedang mencoba mencari tahu dunia di sekelilingnya dan merasa bahwa mereka bisa memahami lebih baik sesuatu dengan melemparkan hal-hal atau memukul dan kemudian melihat hasil perbuatannya.

Untuk mengontrol
Pada tahun-tahun awal kehidupan, anak mencoba untuk menerima kontrol atas hal-hal yang berada di sekitar mereka. memukul dan melempar memperlihatkan anak kontrol yang mereka inginkan. Dan mungkin juga memberi kesenangan.

Lalu bagaimana cara menghadapi balita yang suka memukul?


Menjelaskan konsekuensi dari perbuatan mereka (memukul)
Jika anak mulai melempar benda-benda pada anak lain ketika bermain, maka bawalah beliau pergi dan duduk bersamanya. Ibu bisa mengatakan padanya bahwa beliau hanya bisa kembali bermain kalau tidak memukul teman-temannya.

Tetap Tenang
Jangan berteriak pada anak sebab itu hanya akan membuat mereka marah. ketika anak mulai menunjukkan agresi, hal terbaik ialah tetap hening dan tunjukkan pada mereka untuk mengendalikan amarah. Hal ini bisa membantu anak mencar ilmu bagaimana mengontrol diri mereka sendiri.

Segera bertindak
Tindakan segera sangat diperlukan. Jangan menunggu dan memberitahu anak untuk menghentikan aksi fisik ketika mereka melaksanakan kesalahan yang sama untuk ketiga kalinya. Segera bawa anak pergi dari daerah kejadian dan katakan padanya bahwa beliau hanya bisa kembali kalau bisa menahan diri

Terus Disiplin dalam mengajarkan anak

Mendisiplinkan anak setiap kali beliau memukul seseorang sangat penting bahkan kalau anak ada di depan umum. Bawa beliau pergi dan katakan bahwa beliau tidak diizinkan untuk kembali ke daerah itu kecuali berperilaku baik. Coba mendisplinkan anak dengan cara yang sama menyerupai yang Ibu lakukan sebelumnya.

Mengajari anak cara lain untuk meminta maaf
Bagian ini juga penting. Minta anak untuk meminta maaf atas perilaku fisiknya sehingga beliau mengerti bahwa memukul seseorang tidak baik dan beliau harus meminta maaf kalau sudah menyakiti seseorang.

Beri anak perhatian
Mulailah perhatikan anak dan puji setiap beliau melaksanakan hal-hal baik. Ini akan menunjukkan pada anak bahwa perilaku baiknya itu dihargai. Dia akan mulai mengendalikan emosi dan melaksanakan hal baik untuk mendapat perhatian Ibu

Batasi Paparan televisi
Mulai pantau tontonan anak. Karena anak berada dalam fase pembelajaran, anak akan mencontoh hal-hal yang mereka tonton dari televisi. Mereka bisa jadi mengikuti cuilan berteriak dan mendorong. Membatasi ekpsosur mereka ke TV bisa membantu anak menahan perilaku bernafsu mereka.

Meminta perlindungan psikiater
Jika usaha Ibu tidak membuahkan hasil dan perilaku anak membuat Ibu cemas, maka Ibu bisa mendatangi psikiater atau konselor anak. Mereka akan bisa membantu dalam mencari tahu kenapa anak bisa bersikap agresif.


Tips lebih lanjut perihal Pengajaran Balita bernafsu untuk Berperilaku baik 

Beritahu Balita bahwa memukul itu salah
Ibu bisa menghentikan anak untuk memukul dengan memberikan bahwa memukul bukanlah kebiasaan baik dan belum dewasa bisa mencari cara lain untuk melampiaskan frustrasi, misal dengan memukul bantal

Berikan Balita Pelukan
Ibu bisa memeluknya kalau beliau memukul seseorang sebelum membawanya pergi dari daerah kejadiannya untuk menunjukkan bahwa memukul itu ialah tindakan yang tidak pantas.

Ajarkan balita untuk meminta maaf
Jika anak memukul Ibu, turunkan beliau dan katakan bahwa Ibu tidak akan menjemput dan bermain dengannya hingga beliau meminta maaf dan berhenti memukul Ibu

Ajarkan Balita apa yang bisa mereka lakukan.

Jangan memberitahu anak perihal apa yang tidak bisa mereka lakukan, sebaliknya ajarkan apa yang mereka bisa lakukan. hal ini akan membantu anak untuk mencar ilmu cara sempurna dalam menangani emosi.

Kamis, 30 November 2017

Perkembangan Bayi: Sudahkah bayi Ibu mulai berjalan?

Senang sekali melihat perkembangan bayi Ibu semenjak lahir hingga merangkak. Bahkan langkah-langkah goyah dan kecil bayi bisa membuat Ibu menangis. Namun, bayi mengalami serangkaian tahap perkembangan sebelum mencapai tonggak penting ini. Percaya atau tidak, bayi telah bersiap untuk berjalan sempurna setelah kelahiran. Gerakan kecil dari anggota tubuh dan tangan yang beliau buat ketika berbaring telentang, pada minggu-minggu awal, tolong-menolong ialah latihan untuk menyebarkan kekuatan dan koordinasi otot. Setelah menerima beberapa kekuatan selama periode waktu tertentu, bayi akan mulai melaksanakan gerakan lain menyerupai menguasai seni berguling, duduk tanpa banyak bantuan, merangkak, berdiri, dan jadinya berjalan.

Bagaimana Tahap Perkembangan Bayi hingga Berjalan?


Ibu mungkin tidak tahu, tapi diperlukan banyak latihan, kesabaran dan kepercayaan diri dari si kecil untuk mulai berjalan dengan kedua kakinya. Inilah perkembangan kecil yang terjadi pada bayi  sebelum beliau bisa meletakkan kakinya di tanah:

Pada umur 6 minggu: Minggu ini menandai salah satu tahap perkembangan penting pada bayi yang mungkin Ibu lewatkan. Si kecil mulai mengendalikan gerakan kepala, meski tidak sepenuhnya. Jika Ibu memegang tegak lurus bayi dengan menopang perut dan punggung, beliau akan bisa berusaha meluruskan kepalanya, meskipun sebentar.

Pada usia 3 bulan: Pada tahap ini, bayi akan dapat menahan kepala tegak pada suspensi ventral 90 ° ketika Ibu memeluknya.

Pada usia 6 bulan: Bayi akan bisa menopang kepalanya dengan baik ketika didudukkan. Hal ini juga terjadi ketika bayi berguru duduk, meski dengan beberapa santunan dan bisa mengangkat kepalanya tegak. Saat terbaring telungkup, beliau akan bisa mengangkat lengan bawahnya. Hal ini ialah menunjukan bahwa bayi mungkin akan segera merangkak.

Pada usia 9 bulan: Pada ketika ini bayi pasti sudah mencapai dua tonggak sejarah - duduk tanpa santunan dan merangkak.  Pada umur ini, kebanyakan bayi cenderung bertahan dengan bantuan. Beberapa bahkan mungkin mulai mengambil langkah-langkah kecil sambil berpegangan pada sofa atau kursi, Namun, tahap ini mungkin berbeda dari satu bayi ke bayi lainnya. Beberapa bayi mungkin tidak pernah merangkak dan melewati fase ini. Sementara itu, bayi lain mungkin bertahan dalam fase merangkak sebelum menerima cukup kekuatan otot dan kepercayaan diri untuk mulai berjalan.

Pada 10 bulan: Akan ada pengulangan acara di bulan sebelumnya dengan beberapa kemajuan. Bayi mungkin bisa bertahan lebih lama tanpa santunan dan membutuhkan sekitar dua langkah sebelum membutuhkan pertolongan.

Pada usia 12 bulan: Pada ketika bayi erayakan ulang tahunnya yang pertama, beliau harus bisa bangkit dan berjalan, meskipun dengan santunan dari Ibu. Beberapa bayi mungkin gres saja mulai berjalan sendiri pada ketika ini.

Pada usia 18 bulan: Pada ketika ini anak pasti sudah menguasai seni berjalan dan akan bisa berjalan dengan baik, berlari, duduk di atas dingklik dan bahkan menaiki tangga sambil memegang pagar.

Pada usia 2 tahun: Anak akan bisa naik turun tangga sendirian sambil mempertahankan dua kaki satu demi satu.

Pada usia 3 tahun: Pada ketika ini anak akan bisa menaiki tangga, satu kaki per langkah, dan menahan jari-jari kaki ketika Ibu mengejarnya.


Sulit untuk memastikan periode waktu atau bulan tertentu untuk menyampaikan kapan anak bisa mulai berjalan. Namun, seringkali, bawah umur cenderung berjalan sendiri antara 11 hingga 15 bulan tergantung pada kecepatan perkembangannya. Beberapa anak mungkin menyampaikan keterlambatan dalam proses namun pada jadinya akan mulai berjalan pada final tahun pertama.

Baca juga: Cara Merawat Tali Pusar Bayi gres Lahir

Lalu, bagaimana bila anak sudah bisa berjalan sebelum umur 12 bulan? Nah, dari lifestyle.kompas.com, berikut diambil banyak sekali kriteria penggolongan keterlambatan berjalan pada bayi beserta intervensinya.

Bisa berjalan usia 8 bulan-12 bulan : Kemampuan berjalan sangat baik dan sangat cepat, biasanya anak demikian motorik garang dan kemampuan keseimbangannya sangat baik. Pada kelompok ini mungkin tidak perlu intervensi atau stimulasi alasannya ialah anak akan berguru berjalan sendiri dengan baik tanpa bantuan.

Bisa berjalan usia 12 bulan-15 bulan : Kemampuan berjalan biasa dan rata-rata anak seusia. Biasanya anak demikian motorik garang dan kemampuan keseimbangannya normal. Pada kelompok ini mungkin intervensi atau stimulasi ringan akan lebih baik.

Bisa berjalan usia 15 bulan-18 bulan : Kemampuan berjalan normal tetapi kurang optimal. Biasanya anak demikian kemampuan motorik garang dan kemampuan keseimbangannya kurang begitu baik. Pada kelompok ini perlu intervensi atau stimulasi ringan biar perkembangan motorik dan vestibularis lebih baik

Bisa berjalan usia 18 bulan-24 bulan : Kemampuan berjalan terlambat ringan. Biasanya anak demikian kemampuan motorik garang dan kemampuan keseimbangannya tidak baik. Pada kelompok ini harus dilakukan intervensi atau stimulasi ringan biar perkembangan motorik dan vestibularis menjadi optimal. Sebaiknya dilakukan oleh isyarat tenaga profesional menyerupai Dokter Spesialis Fisik dan Rehabilitasi

Bisa berjalan usia 24 bulan-32 bulan : Kemampuan berjalan terlambat berat . Biasanya anak demikian kemampuan motorik garang dan kemampuan keseimbangannya buruk. Dalam keadaan menyerupai ini, biasanya disertai gangguan neurologis atau susunan saraf pusat. Pada kelompok ini harus dilakukan intervensi atau stimulasi ringan biar perkembangan motorik dan vestibularis menjadi optimal. Stimulasi menyerupai tersebut harus dilakukan oleh isyarat tenaga profesional menyerupai Dokter Spesialis Fisik dan Rehabilitasi

Belum bisa berjalan hingga usia 32 bulan : Kemampuan berjalan terlambat sangat berat . Biasanya anak demikian kemampuan motorik garang dan kemampuan keseimbangannya sangat buruk. Dalam keadaan menyerupai ini, biasanya disertai gangguan neurologis atau susunan saraf sentra yang sangat berat menyerupai penderita Cerebral palsy. Pada kelompok ini harus dilakukan intervensi atau stimulasi ringan biar perkembangan motorik dan vestibularis menjadi optimal. Stimulasi menyerupai tersebut harus dilakukan oleh isyarat tenaga profesional menyerupai Dokter Spesialis Fisik dan Rehabilitasi.

Lalu, apa saja alasan yang membuat anak belum bisa jalan?

Kelainan neurologis: Kelainan neurologis tertentu menyerupai cerebral palsy atau sindrom Down dapat menunda fase berjalan.

Kekurangan vitamin D: Sama halnya dengan kalsium, Vitamin D berperan penting dalam perkembangan tulang bayi; Ketiadaan vitamin D juga bisa menjadi alasan yang mungkin untuk menunda proses berjalan pada bayi.

Rickets: Ada penelitian yang menyampaikan kekerabatan antara penyakit Ricket dan keterlambatan berjalan. bila kondisinya belum berkembang ke stadium lanjut maka bisa terjadi reversibel dan perawatan sempurna waktu dapat membantu anak berjalan tegak. Ricket merupakan suatu kelainan pada tulang yang terjadi alasannya ialah kekurangan zat kapur, fosfor, dan vitamin D. Anak yang menderita penyakit ini maka tulangnya akan  melunak dan melemah.

Keterlambatan kemampuan motorik dan motorik yang lamban: Terkadang orang bau tanah gagal menangkap isyarat awal keterlambatan kemampuan berjalan pada bayi. Tanda-tanda ini berupa tertundanya perkembangan keterampilan motorik garang dan halus. Sederhananya ini berarti bahwa pada usia enam bulan, anak seharusnya bisa memungut barang dengan telapak tangannya. Pada bulan kesembilan beliau harus bisa menjemput barang dengan ibu jari dan jemarinya. Jika keterampilan bagus dan motorik berkembang dengan normal, maka pendekatan wait and watch akan berjalan dengan baik, bila tidak, sebaiknya mencari santunan profesional.

Ketidakmatangan Persyarafan: Kemampuan anak melaksanakan gerakan motorik sangat ditentukan oleh kematangan syaraf yang mengatur gerakan tersebut. Pada waktu anak dilahirkan, syaraf-syaraf yang ada di sentra susunan syarat belum berkembang dan berfungsi sesuai dengan fungsinya, yaitu mengontrol gerakan-gerakan motorik. Pada usia ± 5 tahun, syaraf-syaraf ini sudah mencapai kematangan, dan menstimulasi banyak sekali kegiatan motorik. Otot-otot besar yang mengontrol gerakan motorik kasar, menyerupai berjalan,berlari, melompat dan berlutut, berkembang lebih cepat bila dibandingkan dengan otot-otot halus yang mengontrol kegiatan motorik halus, menyerupai menggunakan jari-jari tangan untuk menyusun puzzle , memegang pensil atau gunting membentuk dengan plastisin atau tanah liat, dan sebagainya.

Gangguan sensoris: Pada kasus tertentu, anak sering mengalami sensitif pada telapak tangan dan kaki. Sehingga hal ini menjadikan anak sering jinjit. Selama ini, jalan jinjit atau Tip Toe masih belum diketahui penyebabnya. Meskipun bukan alasannya ialah kelainan anatomis. Selama ini, orangtua menganggap hal itu ialah memang perilaku anak. Pada anak dengan gangguan sensoris raba biasanya disetai gangguan sensoris bunyi dan cahaya. Gangguan sensoris bunyi biasanya anak takut dan tidak nyaman ketika mendengar bunyi dengan frekuensi tertentu menyerupai bunyi blender, bunyi bayi menangis, bunyi gergaji listrik. Gangguan sensoris cahaya biasanya anak sangat sensitif terhadap cahaya jelas dan sinar matahari.

Muscular dystrophy: Ini ialah penyakit neuromuskular herediter dan bersifat progresif. Ini ialah salah satu penyebab paling sering tertunda berjalan pada bawah umur dan perlu segera mendapat perawatan medis.

Baca juga: Cara Mengatasi Sembelit Bayi


Tip apa saja biar Bayi bisa cepat berjalan?

Kebanyakan bayi membutuhkan sekitar 1.000 jam latihan semenjak mereka bangkit tegak hingga mereka bisa berjalan sendiri. Berikut beberapa tip untuk membantu mempersiapkan anak dalam melaksanakan beberapa langkah pertama tersebut:

Sejak lahir:
Kebutuhan paling penting untuk berjalan ialah otot punggung yang kuat, yang dilatih bayi dengan mengangkat kepala ketika berbaring di perut mereka. Makara pastikan Ibu menelungkupkan si kecil sewaktu terjaga. Tempatkan mainan dan benda menarik di luar jangkauan si bayi untuk memberinya motivasi.

Begitu beliau bisa duduk:
Bantu beliau melatih keseimbangan dan mobilitasnya dengan memindahkan bola secara bolak-balik dari sisi kanan dan kirinya. Atau pegang mainan di depannya dan pindahkan dari sisi ke sisi biar mendorongnya untuk bersandar. Saat beliau menekuk ke depan atau merangkak, beliau akan meningkatkan lebih banyak kekuatan di leher, punggung, kaki dan lengannya, serta kontrol pinggulnya. Hal ini akan memungkinkannya mengangkat tubuh ke posisi berdiri.

Begitu beliau bisa berdiri:
Biarkan beliau berjalan di depan Ibu ketika Ibu memegang tangannya dan lepaskan satu tangan secara terencana biar beliau bisa bereksperimen dengan keseimbangan. Atau bangkit beberapa meter darinya dan menghiburnya ketika beliau bangkit sendiri. Tawarkan banyak dorongan dan pujian.

Begitu beliau bisa melangkah:
Setelah beliau berhasil berdiri, beliau mungkin mulai berpegangan pada sembarang benda di rumah. Bantu beliau dengan mengatur perabotan biar kokoh sehingga beliau bisa berjalan melintasi ruangan dengan aman.
Dia mungkin belum bisa duduk dari posisi berdir.Dekatilah anak sehingga Ibu dapat membantu meringankan pantatnya dengan tangan. Dengan demikian maka beliau akan bisa duduk tanpa menyakiti episode bawah tubuhnya.

Tindakan pengamanan
Bayi bisa berkeliling lebih cepat dari perkiraan Ibu. maka perhatikan beberapa hal berikut sebagai tindakan pengamanan.
  • Singkirkan meja rendah dengan sudut tajam yang sulit ditutup untuk mencegah cedera.
  • Gunakan furnitur yang mudah diganti.
  • Bayi akan suka menjelajahi rumah sehingga perhatikan barang-barang yang ada di rumah. singkirkan kabel, tutup stop kontak dengan lakban, eratkan karpet yang kendor dan bila Ibu memiliki balita lain, pastikan tidak ada mainan yang berserakan.
  • Pasang gerbang keselamatan di episode atas dan bawah tangga, dan awasi bayi kapan pun beliau di tangga.
  • Menyingkirkan barang-barang rumah rumah tangga yang berpotensi berbahaya dan simpan di kawasan aman.