Namun secara umum, kecenderungan modalitas gaya berguru yang dimiliki seseorang ada 3, yaitu :
- 1. Visual (Penglihatan)
- 2. Auditori (Pendegaran)
- 3. Kinestetik (Gerakan)
Mereka yang bermodalitas gaya berguru VISUAL
- Sangat peka dengan gambar dan sesuatu yang menarik indera penglihatan lainnya.
- Oleh alasannya ialah itu, bawah umur bertipe visual akan sangat terbantu belajarnya jikalau kita banyak mempergunakan gambar atau video.
Adapun mereka yang bermodalitas AUDITORI
- Sangat tertarik dengan stimulasi yang memancing indra pendengaran: mungkin lagu atau musik/irama. Suara mereka biasanya nyaring dan senang berceloteh.
- Oleh alasannya ialah itu, sangat baik bagi bawah umur auditori untuk memperoleh derma berupa kaset berisi lagu atau kata-kata berirama, dongeng, dan alat-alat stimulasi indera pendengaran lainnya.
Adapun mereka yang bermodalitas gaya berguru KINESTETIK
- Sangat suka bergerak, dan cara mereka berguru memang membutuhkan unsur gerak fisik, mereka akan tersiksa jikalau dipaksa untuk duduk membisu dikala belajar.
- Namun, gaya berguru yang satu ini memang masih sulit diterima di sekolah formal yang pasti klasikal (terdiri atas banyak anak di dalam kelas). Biasanya, guru yang tidak mengerti akan menawarkan label "nakal" atau "pengganggu" pada mereka.
Memilih model berguru yang sesuai dengan gaya berguru anak, sangat penting semoga proses berguru selalu berlanjut dengan suasana yang menyenangkan dan asyik bagi mereka.
Lalu, bagaimana jikalau gaya berguru bawah umur kita mungkin saja berbeda dengan gaya berguru orang tuanya? Tentu saja, orang bau tanah harus 'legowo' untuk menerapkan model berguru yang sesuai dengan anak-anak.
Jika pun kita tidak mampu melakukannya sendiri, kita mampu minta derma nenek, tante, atau sahabat akrab yang memang memiliki gaya yang cocok untuk mengajar bawah umur kita.
Untuk kebaikan buah hati kita, nggak ada salahnya, kan?
Semoga bermanfaat ... salam



0 komentar:
Posting Komentar