Sebuah dongeng inspiratif ihwal makna "Cinta Sejati",
Seorang anak laki enam tahunan tampak berlari menjauh dari rumahnya. Beberapa ketika sebelumnya, bunyi beling pecah sempat menghentikan kesibukan orang-orang di sekitar rumah. Ada penjual jamu, tukang sayur yang lewat, beberapa orang yang berlalu lalang. Mereka menoleh sebentar, dan berujar pelan, "Ah, anak itu lagi!"
Perilaku bandel anak itu ternyata bukan pemandangan gres buat orang-orang yang kerap berada di sekitar rumah. Hampir tiap hari, bahkan mampu tiga kali sehari, anak itu melaksanakan kegaduhan. Dan kegaduhan itu selalu terjadi di sekitar rumahnya. Mulai bunyi gelas yang pecah, dobrakan pintu, dan yang gres saja terjadi, pecahnya beling jendelaB
Seperti biasanya, seorang ibu keluar sesaat setelah anak bandel itu berlari menjauh dari rumah. Sambil memanggil-manggil sang anak, ibu itu tidak menunjukkan rona marah yang membara. Tidak juga berteriak-teriak mengancam, umumnya seorang yang memendam kesal. Ia hanya memanggil-manggil nama anaknya dan dua kata setelahnya, "Sini sayang!"
Kali ini, sang anak tidak menyerupai biasanya yang terus berlari menjauh. Ia berhenti. Ia menoleh ke arah bunyi yang memanggil-manggil namanya. "Ibu," desisnya pelan. Wajah kesalnya tiba-tiba pudar berganti penyesalan. Dan beliau pun membiarkan dirinya dihampiri seseorang yang beliau sebut ibu.
"Nak!" bunyi sang ibu sambil tangan kanannya meraih rambut sang anak. Tangan itu pun membelai lembut rambut sang anak.
"Bu, ibu nggak marah?" bunyi sang anak sambil wajahnya mendongak menatap wajah sang ibu. "Anakku, kenapa ibu harus marah?" jawab sang ibu singkat.
Sang anak pun tiba-tiba mendekap ibunya yang agak membungkuk mensejajarkan diri dengan anaknya. "Bu," bunyi sang anak tiba-tiba. Sambil terus membelai rambut sang anak, wajah sang ibu makin menunjukkan senyumnya yang sejuk di mata anaknya. "Ada apa, sayang?" ucap sang ibu lembut.
"Kenapa ibu mampu menyerupai ini? Padahal saya sudah begitu nakal?" tanya si anak yang mulai mengendurkan dekapannya.
"Anakku," ujar si ibu. "Inilah cinta!" lanjut bunyi sang ibu sembari tetap menampakkan senyum lembut kepada anaknya.
***
Begitu banyak tingkah bandel bawah umur insan di bumi ini. Begitu banyak kerusakan yang mereka tampakkan sehingga kehidupan menjadi gaduh. Orang-orang yang kebetulan berada di sekitar kegaduhan pun ikut mencicipi gangguan-gangguan itu.
Tapi, bersamaan dengan tingkah bandel itu, selalu muncul suara-suara lembut yang memanggil-manggil anak insan untuk kembali. Seolah, bunyi panggilan itu mengatakan, "Kembali, sayang!"
Padahal, bawah umur insan yang bandel itu sedikit pun tidak sebanding dengan kegagahan gunung yang menjulang, kedahsyatan halilintar yang siap menyambar, kekokohan susunan bebatuan bumi yang begitu mudah menghimpit makhluk yang hidup di atasnya. Belum lagi dengan kedahsyatan terjangan ombak samudra yang mampu berubah drastis menjadi begitu menyeramkan. Tapi kenapa, justru bunyi lembut yang selalu memanggil-manggil dari balik menjauhnya bawah umur insan yang nakal.
Cinta. Itulah mungkin sebuah tanggapan yang pas. Seperti yang diucapkan sang ibu kepada anaknya, "Cinta anakku!" Atau dalam bahasa yang lain, menyerupai yang diucapkan oleh Yang Maha Sayang, "Warahmati wasi'at kulla sya'i, cinta-Ku meliputi segala sesuatu!"
Sayangnya, belum semua anak insan mau menyimak sapaan kembali dan mencoba menengadah untuk membalas cinta dari Yang Maha Sayang.
(muhammadnuh@eramuslim.com)
Jumat, 20 Oktober 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar